“Selamat ya, Pak Bhumi, Bu Gendhis, baby nya laki-laki.” Krik Krik Krik. Hening. Tak ada jawaban apapun dari Bhumi ataupun Gendhis. Keduanya justru saling berpandangan dengan wajah bingung. “Pak Bhumi, Bu Gendhis….” Panggil dokter Anita karena mereka benar-benar tidak bereaksi. Barulah mereka mengerjap satu sama lain, kemudian sama-sama fokus pada yang memanggil mereka. “Maaf sebelumnya. Apa sekiranya jenis kelamin baby nya tidak sesuai? Tapi, bukankah sebelumnya kalian program hamil anak laki-laki? Saya sarankan, kalau misalnya jenis kelaminnya tidak—” “Dokter tidak bohong kan?” Potong Bhumi dengan ekspresi yang masih sulit diartikan oleh dokter Anita. “Saya bisa memastikan 95-99% kebenaran, karena ini memang sudah jelas sekali. Tapi, kita tahu sekian persen dari sisanya adalah k

