* Beberapa bulan berlalu tanpa terasa. Arsenio kini sudah berusia empat bulan. Tubuhnya tak lagi sekecil dulu, pipinya semakin berisi, dan tangisannya terdengar lebih lantang—cukup untuk membuat satu rumah sigap bergerak. Pagi itu, di ruang keluarga, Bhumi menggendong Arsenio dengan satu tangan, sementara tangan satunya sibuk mengayun pelan seolah bayi itu sudah balita saja. Posisi Arsenio setengah duduk, disandarkan ke d**a ayahnya. “Mas!” Gendhis langsung berdiri dari sofa begitu melihat itu. “Jangan kayak gitu gendongnya. Lehernya—” “Aman.” Bhumi memotong santai. “Lihat, kepalanya sudah kuat.” Seolah ingin membuktikan, Arsenio justru menggerakkan kepalanya sendiri, menoleh ke arah suara Gendhis, lalu tersenyum lebar. Senyum khas bayi yang membuat jantung orang tuanya luruh tanpa s

