** “Lihat, Mas! Dia pintar sekali nyusu.” Gendhis tak ada habisnya membanggakan Arsenio. Bayi tampan itu sanggup mengambil hampir seluruh perhatian Gendhis, bahkan terkadang sampai melupakan Bhumi. “Apa itu sudah nggak sakit lagi?” Bhumi ikut memperhatikan bayi yang sudah terlelap itu. Karena suara mereka, Arsenio yang semula sudah tenang, kembali melakukan gerakan mengenyot sumber kehidupannya. Tapi lucunya, bayi mungil itu tidak benar-benar terbangun. Tapi, arah pembicaraan Bhumi jelas bukan ke anaknya. Tapi, kepada sesuatu yang disedot kuat-kuat oleh anaknya. “Sedikit. Tapi, nggak seperti pas dulu itu.” “Hem… kapan kamu bisa gantian sama Papa, Boy? Papa cuma dapet pinggirannya aja karena intinya buat kamu.” Gendhis langsung melotot dengan cemberut. “Apa sih, Mas? Gila kamu ngomon

