Bhumi dan Gendhis saling berpandangan begitu mobil berhenti mendadak. Wajah mereka sama-sama pucat. Napas Gendhis tertahan di d**a, sementara tangan Bhumi masih mencengkeram setir kuat-kuat. Tak ada kata yang terucap, tapi keterkejutan itu jelas terbaca—seolah keduanya baru saja ditarik paksa dari momen bahagia yang terlalu singkat. Tangis Arsenio memecah keheningan. Tangis keras, melengking, penuh kepanikan. Gendhis langsung tersadar. Tubuhnya bergerak refleks, mendekap bayinya yang menangis. “Shhh, Nak… Tenang… Mama di sini…” bisiknya gugup, menempelkan tubuh kecil itu ke dadanya. “Nggak apa-apa… nggak apa-apa…” Arsenio tetap menangis, napasnya tersengal-sengal kecil, tubuhnya bergetar. Tapi, selebihnya masih aman. “Kamu tenangkan dia dulu ya, Sayang,” ucapnya tegas tapi terkontrol.

