Pulang

1533 Kata

“Ah, Mas, pelan-pelan. Aku takut.” “Em, ini sedikit susah, sayang. Tunggu sebentar!” Bhumi sibuk sendiri. Sedangkan Gendhis menunggu dengan setia sambil menggigit bibirnya sampai mereka bisa bersatu. “Emh…” “Ah!” Keduanya sama-sama merasa lega saat penyatuan itu datang. Tapi, sebelum Bhumi benar-benar bekerja keras, dia menatap Gendhis dulu sungguh-sungguh. “Apa ini sakit?” Dia mencoba bergerak. Gendhis menggelengkan kepalanya. Aku cuma ngeri. Takut bekas operasi di perutku lepas lagi.” jujur Gendhis. Bhumi hanya tersenyum lembut. “Baiklah aku akan berhati-hati.” Gendhis mengangguk, sedikit tidak sabar menunggu suaminya bergerak seperti biasanya. Sampai akhirnya ritme itu datang, mereka mulai diambang kesadaran. Mereka melayang, mereka terbang dan mereka hampir gila merasakanny

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN