“Ah, Mas, pelan-pelan. Aku takut.” “Em, ini sedikit susah, sayang. Tunggu sebentar!” Bhumi sibuk sendiri. Sedangkan Gendhis menunggu dengan setia sambil menggigit bibirnya sampai mereka bisa bersatu. “Emh…” “Ah!” Keduanya sama-sama merasa lega saat penyatuan itu datang. Tapi, sebelum Bhumi benar-benar bekerja keras, dia menatap Gendhis dulu sungguh-sungguh. “Apa ini sakit?” Dia mencoba bergerak. Gendhis menggelengkan kepalanya. Aku cuma ngeri. Takut bekas operasi di perutku lepas lagi.” jujur Gendhis. Bhumi hanya tersenyum lembut. “Baiklah aku akan berhati-hati.” Gendhis mengangguk, sedikit tidak sabar menunggu suaminya bergerak seperti biasanya. Sampai akhirnya ritme itu datang, mereka mulai diambang kesadaran. Mereka melayang, mereka terbang dan mereka hampir gila merasakanny

