Sebulan sudah Arsenio menjalani hari-harinya di balik dinding kaca Neonatologi. Bukan lagi bayi mungil yang napasnya tersengal-sengal dan dadanya naik turun tak beraturan. Kini, selang memang masih ada, tapi jumlahnya berkurang. Alarm monitor tak lagi sering berbunyi. Berat badannya naik perlahan, pipinya mulai berisi, dan warna kulitnya jauh lebih sehat. Namun, tetap saja, dia belum boleh pulang. Gendhis duduk di sofa kecil di kamarnya, jemarinya sibuk memperbesar layar ponsel dengan senyum yang terus terkembang tanpa surut. Foto Arsenio yang diambil Laura kembali ia tatap. Ada senyum kecil di bibirnya, senyum yang selalu ia rindukan. Arsenio di foto itu tertidur, satu tangan kecilnya mengepal di dekat wajah. Terlihat damai. Tentu saja, senyum itu tak sengaja terbit entah karena apa.

