“Apnea…?” suara Gendhis langsung pecah. Botol ASI di tangannya hampir terlepas. Laura refleks menahan, sementara Bhumi sudah berdiri paling depan sebelum suster sempat melanjutkan penjelasan. “Maksudnya bagaimana?” tanya Bhumi tajam, tapi nadanya tertahan. Ia berusaha tenang. “Apa begitu serius?” Suster itu tetap profesional, meski sorot matanya menunjukkan kehati-hatian. “Apnea ringan, Pak. Umum terjadi pada bayi prematur seusia putra Bapak dan Ibu. Tadi napasnya sempat berhenti beberapa detik, tapi langsung terstimulasi dan sekarang sudah stabil kembali.” “Benar sudah stabil, Sus?” Gendhis mengulang, suaranya bergetar hebat. Wajahnya pucat, keringat dingin mulai muncul di pelipis. Rasa bersalah itu terlalu segar untuk bisa ia abaikan begitu saja. “Iya, Bu,” jawab suster lembut. “Sa

