Tegang

1760 Kata

Dan ketakutan itu kembali hidup—lebih nyata dari rasa nyeri di tubuhnya sendiri. Gendhis terbangun dengan napas tercekik. Bukan mimpi. Suara itu. Intonasi itu. Aura yang sama persis setiap mereka dipertemukan. Apalagi, ucapan Bianca kala itu, benar-benar masih lekat diingatannya. “Mereka mengincar Kak Bhumi, Gendhis. Mereka ingin melenyapkan suamimu karena Kak Sakha ingin kamu dan bayimu. Kak Sakha terobsesi sama kamu, dan Papanya ingin anakmu sebagai alat mendapatkan seluruh Mahawira grup.” Tubuh Gendhis menegang. Dia menggeleng kuat-kuat. Jari-jarinya mencengkeram seprai, kuku menekan kain sampai berkerut. Jantungnya berdegup terlalu cepat, terlalu keras, seperti ingin meloncat keluar dari dadanya. Udara terasa menipis. Pandangannya berkunang, seolah dinding kamar menyempit dan mengh

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN