* “Om ngapain?” Gendhis menegang saat Bhumi tiba-tiba merebahkan diri di sampingnya. “Sudah aku bilang, aku mau tidur disini kan?” Dengan santainya Bhumi meregangkan otot-ototnya, seolah tempat itu nyaman sekali. Padahal, kalau dipikir-pikir kasur Gendhis tidak layak untuk ditiduri mereka berdua, dimana Bhumi merupakan gapura kabupaten yang tubuhnya tinggi atletis. “Tapi kenapa disini?” protesnya. “Kenapa memangnya? Aku harus tidur dimana kalau begitu?” Lelaki itu menoleh, membuat Gendhis spontan memalingkan wajahnya karena gugup. Bayangkan saja, jarak mereka yang begitu dekat, karena mereka berbaring bersisian. “Ya dimana kek. Kan rumah ini luas meskipun nggak sebesar rumah Om.” “Cuma disini yang sudah dibersihkan. Bi Marni cuma beres-beres buat kamarnya sendiri.” “Tapi ini ngga

