* “Dhis.” Bisik Laura yang sedang duduk di samping Gendhis. Gendhis menoleh, menatap anak tirinya yang tengah mencondongkan tubuh ke arahnya. “Apa?” Saking seriusnya, alis Gendhis hampir bertaut. “Kok Papa bisa tiba-tiba ngerestuin gue sama Om Jimmy secepat itu? Lo apain emangnya?” Laura memusatkan perhatian ke arah sang Papa dan Jimmy di ruang tengah. Ruangan yang masih bisa bisa dia lihat dari tempatnya dan Gendhis saat ini, yakni meja makan. Dia jadi teringat saat mereka sarapan tadi pagi, tiba-tiba sang Papa menyuruhnya agar memberitahu Jimmy agar ke rumah Gendhis malam ini. Pertanyaannya, kenapa Bhumi tidak mengatakan sendiri kepada Jimmy? Dan jawabannya, bukan karena Bhumi masih marah kepada Jimmy, melainkan karena Bhumi ingin Jimmy datang sebagai calon suami Laura—bukan asiste

