Bhumi melangkah cepat meninggalkan teras rumah Pakdenya Gendhis. Nafasnya naik-turun, bukan karena lelah, tapi karena emosi yang mendidih. Kata-kata Safitri masih terngiang kasar di telinganya, menampar harga diri sekaligus membuat dadanya sesak. Begitu pintu mobil tertutup, Bhumi menghentakkan kepalanya ke sandaran kursi. Dua kali. Tiga kali. Berusaha mengalirkan amarah yang menumpuk. “b******n…” desisnya lirih. Tangannya mengepal di atas setir kemudi, rahangnya mengeras. Ia menutup mata, menarik napas panjang, tapi justru semakin terasa sesak. Dia sudah menduga situasinya akan rumit. “Arght!” Pakk! Bhumi memukul setir dengan sekuat tenaga. “Dimana kamu, Gendhis?” Ratapnya, lirih dan terdengar putus asa. Berbanding terbalik dengan amarahnya yang menumpuk karena berdebat dengan Safi

