“Saya?” Bhumi menunjuk dirinya sendiri, terperangah. “Dia bilang, saya yang mesenin taksi online?” “Iya, Pak. Saya bawain kopernya aja nggak mau.” “Koper?!” Dan lagi, Bhumi terhenyak karena ucapan asisten rumah tangganya. Bi Marni hanya mengangguk. Mulai merasa ada yang tidak baik-baik saja. Bhumi menarik nafas panjang, berusaha menetralisir keterkejutan agar tetap tenang. “Jadi, menurut Bibi, Gendhis pergi dengan taksi online yang saya pesan, dengan membawa koper, begitu?” “Iya, Pak.” Sungkan wanita paruh baya itu. “Baiklah…” lagi, Bhumi menghela nafas berat. “Saya cek sekali lagi ke atas.” Bi Marni mengangguk. Membiarkan majikannya menaiki tangga dengan nampak linglung. Sudah pasti, Bhumi bingung apa yang terjadi. Masalahnya, meskipun Gendhis memang nampak aneh belakangan ini, ta

