Gendhis gelisah menatap jam di ponselnya, karena dia belum memiliki jam dinding. Dia juga memperhatikan anak tirinya yang makan lesehan di meja tamu miliknya, tapi sambil menonton drama romantis. “Emangnya makannya nggak bisa lebih cepet ya? Lo nggak kuliah emangnya?” Gendhis tak sabar untuk tidak bertanya. “Nanti. Gue bolos aja jamnya Pak Hamzah.” “Ck. Nggak bisa gitu lah, La. Lo kuliah tinggal kuliah aja seenaknya kayak gitu. Emangnya, lo mau harus susah dulu nyari uang kuliah biar nggak sembarangan bolos?” “Berisik! Nggak usah sok-sokan nasehatin gue. Lo sendiri kan nggak pernah masuk.” Laura tetap ketus meskipun sambil fokus menonton drama. “Gue udah ngajuin cuti hamil. Wajar gue nggak kuliah.” Laura nampak sedikit terkejut seperti baru tahu, tapi segera menormalkan sikapnya lagi

