“Bukan urusan lo!” Laura cepat-cepat menutupi trolinya. Tapi, apapun yang dia lakukan percuma saja, karena Imelda dan Bianca sudah melihatnya. Lagipula, benda sebesar itu, mana mungkin bisa dia sembunyikan. Bianca dan Imelda saling berpandangan dengan tatapan yang hanya mereka sendiri yang tahu. “Jadi, anak kamu laki-laki juga?” Imelda bertanya lebih serius. Tidak seperti Bianca yang main nyerocos saja. “Sudah aku bilang—” Ucapan Laura terhenti seketika saat Gendhis memegang lengannya. “Saya kurang suka warna pink, Bu. Tapi kan kalau baju bayi, mau warna apa saja masih masuk. Makanya, saya beli bermacam-macam warna tanpa ada yang berwarna pink. Apalagi, anak perempuan itu fleksibel.” “Oh, jadi anak kamu perempuan?” Bianca nyeletuk lagi. Gendhis tersenyum saja, tanpa mengelak ataupu

