bc

Pesona Seorang Janda (Bahasa Indonesia)

book_age18+
279
IKUTI
1.2K
BACA
revenge
possessive
arranged marriage
goodgirl
powerful
drama
sweet
virgin
punishment
like
intro-logo
Uraian

Bagaimana rasanya menjadi seorang janda padahal usia pernikahan yang kita miliki masih terbilang singkat. Lebih parahnya lagi penyebab mengapa kita harus berpisah dengan pasangan yang kita cintai.

Inilah yang dirasakan oleh Shania, gadis muda yang baru merasakan kebahagiaan namun harus menerima takdir yang sangat menyakitkan. Baru seminggu menikah, wanita yang berusia 22 tahun itu harus menelan pil pahit saat mengetahui sang suami bermain api di belakangnya.

Tanpa rasa bersalah, Arman suami Shania menjatuhkan talak tiga pada wanita yang sempat ia cintai. Nyatanya cinta yang ia miliki tidak terlalu besar, hanya bersifat semu.

Tapi Tuhan tidak pernah tidur, keputusan yang awalnya dianggap benar oleh Arman justru berubah menjadi sebuah penyesalan yang teramat besar baginya di masa depan. Ketika Arman ingin memperbaiki semua kesalahannya, ternyata tak semudah yang ia bayangkan. Penyesalan yang datang membuat Arman kembali berjuang untuk mendapatkan hati Shania. Namun sayang, pintu hati Shania sudah tertutup terlebih mulai diketuk oleh orang lain.

Mampukah Arman mendapatkan kembali hati Shania kembali?, siapakah orang yang mulai mengetuk hati yang pernah terluka itu?. Bagaimana akhir kisah cinta seorang Shania?. Ikuti kisahnya dalam Pesona Janda Kembang.

chap-preview
Pratinjau gratis
Kamar Pengantin Yang Ternodai
Tanganku terus memutar kursi roda yang sedang membawaku masuk ke dalam rumah. Rumah yang belum sempat aku tempati karena insiden yang tak terduga seminggu lalu. Ku kuatkan hati ini, tidak ku biarkan perasaan sedih terus menguasai. Bagaimana tidak, seharusnya sebagai seorang pengantin baru aku merasa bahagia. Tapi sayang, semua tidak sesuai harapan. Sejak kecelakaan yang menimpaku tujuh hari yang lalu, suamiku, mas Arman sedikit berubah. Tidak ada lagi mas Arman yang menatapku dengan penuh cinta dan kasih sayang. Tidak ada lagi tatapan penuh kekhawatiran saat aku terluka seperti yang dulu ia berikan, semua lenyap tanpa sisa. Entahlah, apa itu hanya sekedar perasaanku atau memang benar faktanya. Aku pun tak mengerti, mengapa mas Arman berubah. Apa mungkin karena ia banyak pikiran?, mungkin dia teramat sedih ketika melihat semua yang terjadi padaku. Seminggu yang lalu aku baru saja melangsungkan pernikahan dengan mas Arman. Pria yang ku cintai 2 tahun belakangan ini, pria yang selalu memberikan perhatian dan kasih sayang yang kurasa amat tulus. Namun, kebahagiaan yang ku alami tak berlangsung lama, saat dalam perjalanan pulang ke rumah, mobil yang kami tumpangi mengalami kecelakaan hingga membuat tulang di kaki kiriku patah. Untungnya mas Arman hanya mengalami cedera ringan. Aku tidak melihat siapapun di dalam rumah, bahkan mertua dan adik iparku juga tidak tahu ke mana. Saat kursi roda semakin mendekati kamarku dan mas Arman, aku mendengar suara yang membuatku tersentak. “Argh...maa...ss” “Arghh...sayang..” Jantungku seperti berhenti berdetak tatkala mendengar suara dua orang yang ku yakini berada di dalam kamar. Hatiku bergemuruh, jelas aku mengetahui siapa pemilik salah satu dari suara tersebut. “Mas Arman.” ucapku lirih, aku bukan anak kecil yang tidak mengerti arti dari suara-suara yang barusan ku dengar. Ku tarik nafas dalam lalu kembali ku putar dua roda kursi yang ku duduki. Aku menempelkan salah satu telinga saat sudah berada di depan pintu kamar. “Makasih sayang, kamu tetap bisa membuatku senang.” suara itu jelas milik mas Arman, terdengar sangat bahagia. “Tapi mengapa mas malah menikahi dia?” tanya seseorang yang ku yakini suara tersebut milik perempuan. “Mas patah hati saat kamu meninggalkan mas 2 tahun yang lalu, akhirnya mas merantau dan mencoba membuka hati lagi.” terdengar suara sendu dari mas Arman, suara yang dulu sering terdengar di telingaku. “Maafkan aku mas.” ucap wanita itu terdengar manja. Aku mengepalkan tangan, tak terasa bulir air mata yang ku tahan jatuh juga. Perih, itulah yang kurasakan saat ini, ingin ku dobrak pintu di depanku. Tapi apa aku mampu melakukannya?, rasanya aku tak sanggup jika harus melihat pemandangan yang sama sekali tak terbayangkan di otakku. “Jujur di hati mas masih ada kamu, meski Shania sudah menemani mas selama 2 tahun tapi tidak mudah untuk melupakan semua kenangan manis yang telah kita lalui.” Tubuhku bergetar ketika mendengar pernyataan yang keluar dari mulut mas Arman. Jadi hanya segitu cintanya padaku?, apa aku hanya sebatas pelarian atas rasa sakit yang ia alami selama ini?. “Dan perasaan itu semakin kuat ketika kita berjumpa di kantor 2 minggu yang lalu.” lanjutnya. Aku semakin tak kuasa mendengar semua kata-kata yang keluar dari mulut mas Arman. Semua terasa tajam hingga mampu menciptakan rasa sakit yang teramat luar biasa. “Kalo memang mas masih cinta sama aku, mengapa mas tetap melangsungkan pernikahan sama wanita jelek itu?, apa aku kurang bagi mas?, apa yang sudah wanita itu berikan?, bahkan mas rela meninggalkan aku hari itu untuk menikah dengannya, padahal jelas-jelas malam sebelumnya kita menghabiskan malam panjang.” Jantungku rasanya ingin meledak mendengar penuturan dari wanita itu. Bola mataku melotot tak percaya, jadi mas Arman melakukan hal menjijikkan itu di saat kami akan menikah?, tega sekali kamu mas!. Aku hanya bisa menjerit. “Maafkan aku Rivanka, aku memang bodoh karena sudah menikahi Shania dan meninggalkanmu pagi itu. Sekarang aku justru kena batunya, aku menikahi wanita cacat yang hanya bisa duduk di kursi roda sekarang.” Aku mengerutkan kening, apa maksud mas Arman mengatai-ku cacat?. Oke, saat ini aku memang tidak bisa berjalan normal karena masih dalam proses penyembuhan. Tapi bukan berarti aku akan terus duduk di kursi roda. “Jadi bagaimana mas?, apa mas masih mempertahankan dia?” tanya wanita itu menuntut. “Mas bingung sayang, hubungan mas dengan Shania sudah diketahui banyak orang terutama orang-orang di perusahaan, mas takut jika meninggalkan Shania orang-orang akan memandang buruk terhadap mas.” “Lalu apa pedulinya?, tidak akan membuat mas rugikan?” ucap si wanita tidak terima. “Sayang bulan depan mas akan menjadi general manager dan mas takut jika orang-orang perusahaan tahu mas meninggalkan Shania terutama di saat kondisinya seperti ini, mas takut mereka mereka menilai buruk dan tuan Abdul mengurungkan niatnya untuk membantu mas mendapatkan posisi itu.” “Jadi aku harus bagaimana?” ucap wanita bernama Rivanka itu frustasi. “Tenanglah, bukankah kita akan terus bertemu di kantor?, kita bisa menjalin hubungan di belakang Shania. Bukankah saat-saat kita pacaran kita memang sudah seperti sekarang?” ucap mas Arman terdengar sangat santai. Aku meremas dadaku yang semakin sakit. Rasanya kini sedang berada di ruang yang vakum tanpa oksigen sedikitpun, sulit sekali untuk bernafas. “Apa yang kamu lakukan.” suara melengking milik seorang wanita membuatku terkejut. Aku menoleh ke belakang dan melihat wajah garang milik mertuaku. Wanita paruh baya itu memang tidak setuju dengan hubungan antara aku dan mas Arman, hanya saja mas Arman tetap menyakinkan hati ini agar tidak menyerah dan berkata jika suatu saat ibunya akan merestui hubungan kami. Suara pintu terbuka dan aku kembali menatap ke depan. Dua orang dengan kondisi acak-acakan sama terkejutnya, terutama mas Arman yang menatapku kaget. Air mata kembali lolos saat melihat pria yang selama ini ku cintai sedang bersama wanita lain di kamar kami. Kamar yang seharusnya menjadi kamar pengantin untuk kami berdua kini sudah ternodai oleh pengkhianatan yang dilakukan mas Arman. Tega kamu mas!, jeritku. “Shania..” ucapnya dengan suara pelan. “Tega kamu mas!” akhirnya emosi yang ku tahan meledak, tak kuasa menahan rasa sakit yang tidak bisa dideskripsikan. “Rivanka?” terdengar suara ibu memanggil wanita itu dengan nada tak percaya. “Tante, apa kabar?” tanpa malu Rivanka mendekati ibu mertuaku dan memeluk erat tubuh itu. Aku kembali sedih, dari dulu sampai sekarang tidak pernah sekalipun ibu mau melakukan hal seperti yang ia lakukan terhadap Rivanka. Bersalaman denganku saja seperti jijik. “Baik, kamu apa kabar?, kenapa baru muncul?” tanya ibu lembut, terlihat sekali bahwa dia sangat menyayangi wanita itu “Setelah wisuda Rivanka mengejar karir di Jakarta bu, baru 2 minggu ini dipindahkan ke kantor cabang di Banjarmasin, lumayan bisa diangkat sebagai kepala staf keuangan di kantor cabang. Kalo di Jakarta cuma jadi karyawan biasa.” ucapnya. “Wah kamu dari dulu memang sangat hebat, lihat Arman Rivanka semakin hebat sekarang, tidak seperti istrimu itu.” suara ibu kembali sinis. Aku hanya menunduk, sebenarnya telinga ini sudah terbiasa mendengar nada tak nyaman yang keluar dari mulut ibu mertuaku. Tapi saat ini semakin sakit ketika ibu terang-terangan membandingkan diriku dengan Rivanka. “Kamu sudah menikah?” tanya ibu, aku tak mengerti pertanyaan macam apa itu. “Belum Bu.” “Masih suka dengan Arman?” tanya lagi dengan sangat antusias. “Masih bu, jujur Riva masih sayang dengan mas Arman. Kepergian Riva dulu hanya karena takut, takut mas Arman ingin mengajak nikah padahal saat itu kita baru saja wisuda dan Riva masih ingin berkarir sesuai dengan ilmu yang sudah Riva dapat.” Wanita itu menunduk sebentar lalu kembali mengangkat wajahnya dan melihat ke arah suamiku dengan tatapan dalam. “Riva pikir setelah mendapatkan semua yang Riva inginkan kebahagiaan akan datang. Tapi ternyata salah, bayang-bayang mas Arman tetap berada di pikiran Riva dan siapa yang menyangka Riva justru dipertemukan kembali dengan mas Arman.” Aku mendesah kesal, bagaimana bisa dia bersikap sesantai itu tanpa rasa malu sedikit pun. Mataku melirik, melihat bagaimana reaksi yang diberikan oleh suamiku itu. Mas Arman hanya diam, tapi tatapannya tidak teralihkan sedikit pun dari Rivanka. Hatiku benar-benar teriris saat ini, pedih itulah yang kurasakan. “Kamu dengarkan Arman, makanya jangan pernah membantah omongan orang tua. Lihat akibatnya, kamu membuang wanita sehebat Rivanka dan justru menikahi wanita yang tidak berguna seperti dia, bahkan untuk berjalan saja tidak bisa.” desis ibu. Keningku kembali mengerut, apa hanya gara-gara patah tulang ibu memandang rendah diriku. Seperti aku ini wanita cacat saja atau perkataan tersebut hanya karena ia memang tidak suka denganku?. “Kamu mau menikah dengan Arman Riva? Bagai disambar petir, aku terkejut bukan main ketika gendang telinga menangkap gelombang suara yang dideskripsikan oleh otak menjadi sebuah informasi. Apa aku tidak salah dengar?, bagaimana bisa ibu berbicara dengan sangat ringan tanpa beban?. Baiklah, dia memang tidak suka denganku. Tapi apa hatinya benar-benar tertutup dan tak memiliki rasa empati sedikitpun?, bagaimana jika apa yang aku alami saat ini menimpa dua orang putrinya yang masih gadis itu?, apa dia tidak merasa sakit?. “Mau bu, tapi mas Arman tidak mau.” jawab Rivanka dengan suara sendu. Dadaku sudah naik turun, sulit sekali meredam emosi di tengah kondisi seperti saat ini. Ku lihat mas Arman hanya diam tanpa berbicara sepatah kata pun. “Kamu dengarkan Arman?, Riva mau menikah denganmu, kenapa tidak kamu ceraikan saja istrimu yang tidak berguna itu dan kembali bersama Rivanka. Jangan bodoh Arman.” bentak ibu mertuaku. Ku lihat ekspresi mas Arman sulit diprediksi, dia belum sama sekali bereaksi. Aku sudah tidak bisa menahan isak tangis yang keluar begitu saja. Melihat bagaimana sikap mas Arman dan apa yang sudah ia lakukan jelas aku tak memiliki harapan lagi.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.0K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.2K
bc

TERNODA

read
199.1K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
66.1K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook