"Lepas mas" Shania berusaha lepas dari genggaman tangan Arman
"Tidak, jelaskan dulu apa yang harus kamu jelaskan"
"Apalagi?, di antara kita sudah tidak ada hubungan" Shania mulai memberontak
Arman mulai khawatir Shania membuat keributan, dia menarik sang mantan istri untuk menjauh dari halaman parkir.
"Lepas mas, aku mau pergi" Shania mulai takut ketika Arman membawanya ke sebuah gang sempit di belakang resto, gang itu tampak sunyi.
"Mau apa kamu mas?" tuding Shania, tapi suaranya bergetar ketika bertanya hal itu,
Arman menyeringai, dia mendorong tubuh Shania hingga punggung ramping itu menabrak tembok. Tubuh Shania kini sudah berada di dalam kukungan Arman.
"Jangan kurang ajar ya kamu mas" Shania mulai takut Arman akan berbuat yang tidak-tidak terhadap dirinya
"Kenapa?, kenapa kamu takut seperti ini?, bukankah selama ini aku belum pernah menyentuhmu" ucap Arman, tatapannya tidak lepas dari bibir mungil yang menggoda di depannya.
Arman pangling melihat penampilan Shania yang tak biasa, selama berpacaran, gadis di depannya ini tidak pernah mengenakan mini dress selutut yang pas di tubuhnya dan tidak pernah berdandan secantik ini. Tapi sekarang penampilan Shania sungguh luar biasa di mata Arman.
Shania mulai tidak tenang, belum pernah ia melihat Arman tersenyum seperti saat ini. Tangan Arman sudah mulai tidak terkendali, Shania menegang saat telapak tangan Arman menyentuh b****g dan meremas bagian tersebut.
"b******n kamu mas" Shania berusaha mendorong d**a Arman, tapi sedikit pun tubuh Arman tidak bergeser
Shania mulai gelisah ketika menyadari sesuatu yang berada di tengah tubuh Arman menyentuh pahanya, Arman berusaha meraup bibir mungil yang menggoda dan Shania sekuat tenaga mengelak serangan dari Arman.
"Au…, aduh…"
"Dasar b******n sialan!"
Tiba-tiba saja bunyi pukulan terdengar di telinga Shania, dia membuka mata dan melihat Arman yang dipukuli oleh Kayla dengan sebuah kayu. Arman berusaha menghindar dari pukulan tersebut.
"Berani-beraninya kau melecehkan sahabatku pria b******k!" Maki Kayla, wanita itu secara membabi buta menyerang tubuh Arman
"Dasar wanita gila..!" teriak Arman, berusaha menghalau serangan dari Kayla
"Kay sudah" Shania tersadar dan berusaha menghentikan Kayla
"Sudah Kay" Shania berhasil menarik Kayla menjauh dari Arman
"Dasar kau b******n" Kayla masih menunjuk Arman
"Dasar wanita sinting" Arman menahan kesal sambil sesekali meringis akibat serangan dari Kayla, dari dulu dia memang tidak menyukai Kayla
"Jangan halangi aku Shan, biar aku beri pelajaran laki-laki tidak tahu malu ini"
"Apa-apaan kau ini, jangan suka ikut campur urusan orang" balas Arman
"Urusan Shania berarti urusanku juga, apalagi menyangkut keselamatannya"
"Sudah Kay.."
"Kamu masih belain dia Shan?, lihat apa yang sudah ia lakukan padamu?" Ucap Kayla tak terima
"Aku bukannya belaian dia, hanya saja jangan memperpanjang masalah" Shania tidak mau Kayla ikut terlibat jauh dalam masalahnya, dia tidak ingin merepotkan sahabatnya itu.
"Dengar ya Arman, kau seharusnya tidak pantas memperlakukan Shania seburuk tadi, setelah apa yang sudah ia lakukan untuk hidupmu dan keluargamu yang tidak berguna itu"
"Jangan hina keluargaku, mulut sampahmu itu tidak pantas berkata seperti itu pada keluargaku" tuding Arman, tidak terima dengan perkataan Kayla
"Kenapa?" Kayla mengangkat dagunya, "Memang benar, selama ini kau hanya menjadi beban bagi Shania, begitu juga keluargamu yang tidak tahu malu itu, kau pikir kau siapa?"
"Kau…!" Arman ingin sekali menampar mulut Kayla
"Sudah cukup Shan, biarkan aku menjelaskan semuanya agar pecundang ini tahu yang sebenarnya" kali ini Kayla tidak ingin menuruti permintaan Shania yang berusaha mencegahnya untuk membeberkan fakta yang sebenarnya
"Dengar Arman, mungkin kau bertanya-tanya mengapa Shania bisa berada di dalam dan ikut meeting bersama pak Emran"
"Kay…"
"Sudah, diam saja" Kayla melotot ke arah Shania
"Izinkan aku sekali lagi memperkenalkan pemilik dari Happy Farm, salah satu produsen sayuran dengan kualitas terbaik di kota ini, Shania Azzahra"
Arman merasa tidak karuan setelah mendengar penuturan dari Kayla, dia merasa bahwa memang ada yang ditutupi oleh Shania selama ini darinya.
"Aku tidak akan panjang lebar karena waktuku terlalu berharga untuk berbicara dengan orang sepertimu, tapi yang perlu kau ingat adalah bahwa semua yang telah kau dapatkan selama ini tidak lepas dari bantuan Shania"
"Ah, aku masih ingat, bagaimana Shania harus merelakan lahan usaha kami seluas 50 hektar kepada SindoFarm dan menukarnya dengan sebuah jabatan manajer untuk seseorang" Kayla menatap Arman dengan tatapan merendahkan
Shania tidak bisa lagi mencegah Kayla untuk tidak mengatakan semuanya, dia hanya diam sambil menundukkan kepala.
"Aku juga tidak akan lupa bagaimana Shania rela menunda mimpinya untuk membeli rumah hanya karena membantu seorang gadis bodoh agar bisa masuk dan kuliah di salah satu kampus favorit di kota ini"
"Sudah Kay, ayo kita pulang" Shania menarik tangan Kayla, tapi wanita itu dengan cepat menahan tarikan Shania
"Dan aku juga tidak akan pernah lupa bagaimana Shania setiap bulannya harus pusing-pusing mengatur keuangan hanya karena dia ingin memberikan uang kepada seseorang melalui SindoFarm sebesar 500 juta"
Kayla tersenyum miring ketika melihat Arman diam dan tampak mengingat-ingat sesuatu.
"Kau masih ingatkan Shan, bagaimana kau harus merelakan profit ketika saat itu hanya karena ingin membahagiakan seorang wanita tua yang ingin punya rumah, dan wanita tua itu malah tidak tahu diuntung"
"Sudah Kay.." Shania menggeleng, jujur dia sudah tidak ingin mengingat semua kebodohannya di masa lalu
"Ya sudah ayo kita pulang, oh iya, kira-kira hanya itu saja Arman yang ingin aku sampaikan. Jadi kira-kira apa pantas jika kau masih memperlakukan Shania seperti tadi setelah apa yang ia lakukan?" sindir Kayla
Shania dengan kuat menarik Kayla dan membawanya pergi.
"Ingat Arman, kau akan mendapatkan balasan atas apa yang sudah kau lakukan terhadap sahabatku, jangan berharap kebahagiaan akan bertahan lama di kehidupanmu maupun keluargamu itu" teriak Kayla yang sudah mulai menjauh bersama Shania.
Kayla merasa bersyukur dia tidak jadi pergi. Sebelumnya wanita itu sempat ingin meninggalkan Shania untuk sekedar berbelanja, namun mengingat bakalan ada Arman yang ikut meeting, Kayla takut terjadi apa-apa.
Ya, semua ini memang sudah direncanakan oleh Kayla, dia ingin memancing agar Shania ingin pergi meeting dengan Emran sekaligus membuat Arman kaget melihat Shania. Kayla memang tahu bahwa akan ada Arman yang ikut serta meeting. Selain itu ada rencana lain yang direncanakan oleh Kayla bersama Emran untuk Shania, makanya dia berusaha semaksimal mungkin untuk membuat Shania tampil cantik dan memukau.
"Untung aku datang tepat waktu"
"Makasih Kay, kalo tidak ada kamu entah bagaimana lagi ceritanya" Shania mendesah pelan
Kayla mengangguk, dia memang khawatir saat melihat Shania tidak kunjung menghampirinya padahal Emran dan Ziko sudah pergi, untung saat dia bertanya kepada salah satu pegawai resto, dia mendapat informasi bahwa Shania terakhir terlihat sedang berbicara dengan seorang pria yang Kayla yakini adalah Arman. Entah firasat dari mana, Kayla langsung saja menuju tempat yang tepat.
"Bagaimana meetingnya?" Tanya Kayla mengalihkan pembicaraan, tahu apa yang sudah ia lakukan membuat sahabatnya itu merasa tidak nyaman, Shania bukan tipikal orang yang suka mengungkit kebaikan yang pernah ia lakukan
"Berjalan lancar, Pak Emran menyetujui kerjasama dengan kita, tapi aku baru tahu jika mas Arman ternyata bekerja sebagai manajer pemasaran di sana"
"Oh benarkah?, kau jangan khawatir, jika dia berani berbuat yang tidak-tidak lagi padamu, maka yang akan ia dapatkan adalah tendangan maut dariku, lagi pula bagus juga, jadi dia bisa menyadari bahwa dia laki-laki bodoh karena sudah membuang wanita sehebat dirimu"
"Sudahlah Kay, aku sebenarnya berusaha menghilangkan bayangan mas Arman, biar bagaimanapun juga 2 tahun bukanlah waktu yang sebentar"
Kayla mengangguk, "Em..-, ngomong-ngomong bagaimana dengan putranya pak Emran?" tanyanya tiba-tiba
Shania mengerutkan kening mendapati pertanyaan seperti itu, "Maksudmu pak Ziko?, memangnya kenapa dia?"
"Ya, bagaimana?, bukankah dia sangat tampan dan seksi?" ucap Kayla dengan tatapan menggoda
"Kau ini Kay, tidak pernah berubah jika sudah bicara mengenai laki-laki tampan" ujar Shania sambil menggelengkan kepala
"Hahaha, bukankah dia sangat hot Shania, kau bisa mencoba menjalin hubungan dengannya"
Shania kembali menggelengkan kepala menanggapi ucapan tak masuk akal dari sahabatnya itu.
*
Sedangkan di lain sisi, Ziko merasa jengah mendengar ocehan papanya yang sedari tadi membicarakan tentang Shania.
"Sudahlah pah, sejak kapan papah suka memuji seseorang dengan cara berlebihan seperti ini?" ujarnya malas
"Papa tidak hanya sekedar menguji, memang benar kenyataannya, Shania itu gadis yang luar biasa"
"Iya-iya, kalo mama dengar papa terus-terusan memuji gadis muda, bisa-bisa bakalan ada perang dunia ketiga nantinya" ejeknya
"Hahaha, kamu ini, kamu pikir papamu laki-laki seperti apa?, papa memuji Shania bukan karena papa tertarik dengannya dalam hal semacam yang kau pikirkan, tapi lebih tepatnya papa ingin memiliki menantu seperti dia"
Ziko langsung melirik tajam ke arah papanya, "Papa ingin menjodohkan dia dengan bang Riko?" entah mengapa mengetahui hal tersebut membuat Ziko merasa kesal, tentu dia tidak rela jika Shania harus dijodohkan dengan saudaranya yang merupakan seorang playboy kelas kakap itu. Dia merasa Shania wanita baik-baik dan sungguh malang jika wanita seperti itu akan hidup bersama dengan kakaknya yang suka gonta-ganti wanita.
"Hahaha, memangnya kenapa?, mengapa wajahmu seperti tidak rela seperti itu?" tanya Emran dengan nada mengejek
"Tidak, bukan seperti itu, hanya saja belum tentu Shania mau dengan bang Riko" kilahnya
"Ya kan belum tahu" jawab Emran santai
"Argh…., Sudahlah" Ziko memalingkan wajahnya ke arah luar kaca mobil, merasa jengkel kepada papanya.
Melihat tingkah putra keduanya, Emran hanya tersenyum tipis sambil geleng-geleng kepala. Sedangkan Ziko merasa perasaannya menjadi tidak senang, entah kenapa, yang jelas ia merasa kesal saja.
Bayangkan wajahnya Shania yang cantik dengan makeup yang tipis membuat hati Ziko bergetar, baru kali ini dia merasakan hal demikian. Terlebih ketika netranya tidak sengaja menatap bibir mungil yang menggoda, seperti ada dorongan untuk melumatnya tanpa sisa.