# Tsabina Pov. Beberapa hari telah berlalu, sikap Mas Ares seolah berubah. Aku tidak tahu salahku dimana, tapi setiap kali aku datang dan menghampirinya, dia seolah menghindar dan tidak mau dekat denganku. Aku menggeleng tak percaya setiap kali merasakan perubahan sikap Mas Ares. Waktunya berbuka puasa, sudah terdengar bedug di masjid. Aku menoleh menatap Mas Ares, aku meraih piringnya, namun Mas Ares menggeleng dan berkata, “Aku bisa muat sendiri.” Tidak biasanya ia seperti itu, aku merasa aneh. Namun, aku berusaha memahami sikapnya saat ini. “Silahkan makan, Pak Deris,” kataku. Pak Deris mengangguk dan meraih beberapa menu makanan, lalu di taruh di piringnya. Kami buka puasa memang langsung makan berat. Itu lah kebiasaannya, pulang dari tarawih, baru makan yang manis. “Deris, habis

