Sarapan Pagi

2180 Kata

Pagi itu masih dingin. Matahari bahkan belum naik sepenuhnya ketika aroma nasi goreng tercium dari dapur rumah. Fasha sudah bangun sejak subuh, membangunkan Aziel seperti biasa lalu menyiapkan sarapan. Ia kira pagi ini akan berjalan biasa seperti sebelumnya. Tapi tentu saja, dengan anak seperti Aziel, tak ada kata “biasa” di kamus hari-hari mereka. "Zieeeel! Sarapan duluuu! Ini masih jam setengah 6 loh!" teriak Fasha sambil menengok ke arah tangga yang sepi. Tapi tak ada sahutan. Justru suara mesin mobil terdengar dari depan rumah. Fasha berjalan ke arah pintu dan menengok ke luar. Tepat saat itu, pintu mobil Pandu, suaminya, menutup dan tampak seorang anak laki-laki remaja duduk dengan manis di kursi penumpang depan sambil melambaikan tangan dengan gaya sok dewasa. "Ziel mau sarapan d

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN