Romi menatap nanar ke arah layar televisi yang menampilkan cuplikan demonstrasi yang baru saja terjadi pagi ini di pusat kota Jakarta. Sekelompok massa, lengkap dengan spanduk dan poster penuh tuduhan keji, menuntut dihentikannya proyek transportasi massal yang baru saja diresmikan oleh Gubernur Jakarta, Pandu. Di balik kerumunan massa yang tampak bersemangat, Romi hanya melihat satu hal: kebodohan. Ia menekan tombol remote dan mematikan televisi. Ruang kerjanya yang megah, dikelilingi rak buku tua dan karpet Persia yang tak ternilai, terasa panas. Padahal AC menyala sejak subuh. Tapi bukan suhu ruangan yang membuat tubuh Romi gerah—melainkan kemarahannya yang meletup-letup. Asisten muda itu berdiri gugup di tengah ruangan. Wajahnya masih menyimpan bekas tamparan keras yang mendarat lima

