Aksi Para Istri

2142 Kata

Siang itu, awan menggantung tebal di langit Jakarta, seolah menggambarkan beratnya atmosfer yang memenuhi ruang kerja Ardan di lantai tertinggi kantor pusat perusahaan Wirasatya. Gedung itu megah dan modern, simbol kejayaan generasi baru yang menolak tunduk pada warisan politik lama yang kotor. Di ruang kerja yang berdinding kaca dengan panorama ibu kota yang sibuk, delapan pria duduk mengelilingi meja panjang dari kayu solid, di atasnya tersaji makanan khas Nusantara—rawon, rendang, tahu isi, juga teh hangat dan kopi hitam yang mengepul dalam cangkir-cangkir putih elegan. Ferril baru saja meletakkan sendoknya setelah menyantap suapan terakhir dari nasi uduk yang tersaji. Ia menatap semua yang hadir sebelum berkata dengan nada tegas namun terkendali, “Kita gak akan main kotor, Bang. Kita

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN