MY STALKER
NINO POV
cahaya mentari di pagi hari telah mengusik tidurku entah
siapa yang telah membuka tirai jendela kamarku, padahal
aku ingin
menghabiskan waktuku untuk tidur sampai siang nanti.
Ku lihat jam di atas mejaku sudah menunjukan pukul 7 pagi, malas sekali tubuhku bangun untuk
menutup tirai jendela , akupun
menarik selimut dan membalikan tubuhku ke samping sangat malas
beradu dengan sang mentari pagi ini. Ada seseorang duduk i tepi ranjangku.
“Morning honey” suara lembut yang sudah sangat ku kenali, suara
seorang wanita yang sangat aku cintai. Ya dia orang yang akan mengisi sisa hidupku nantinya.
“ Moring sweet heart” balasku dengan senyuman hangat yang mungkin mengalahkan sang mentari.
Aroma parfumnya yang lembut memberikanku sedikit tenaga
untuk bangkit dari tidurkuDia duduk di tepi ranjang mencari sesuatu d dalam handbagnya, dia
terlihat cantik hari ini.
“Honey aku mau memberikan contoh undangan pernikahan kita”
ucapnya yang masih mencari sesuatu dalam hand bagnya.
“ nah ketemu juga.”
Dia mengambil amplop dalam handbagnya dan memberikannya
padaku, aku lansung membuka amplop itu ternyata sebuah
undangan yang mungkin dia katakan tadi, sebuah undangan
berwarna emas tertulis nama Nino Aditya pratama dan Lia Prisilia di atasnya.
Aku tersenyum melihat undangan itu seolah tak percaya dalam
hitungan hari aku akan melepas masa lajangku menikah dengan
seorang wanita yang sangat aku cintai.
“Bagaimana honey apa kamu menyukainya.” Suara lembutnya
membuyarkan lamunanku
“Hmm,, aku menyukainya maaf sayang aku kemarin ga ikut kamu
memilih undangan.”
“Ga papa,, aku tahu kamu sangat sibuk , tapi aku harap hari ini kamu meluangkan sedikit waktu, hari
ini kita harus memilih baju dan cincin pernikahan kita honey.” jelasnya dengan senyum manis
yang menghiasi wajahnya, aku bersyukur memilikinya wanita yang cantik dan selalu memahamiku
dia wanita yang sempurna
“okey sayang nanti aku menjemptmu di tempat syuting”
Suara lagu kelly Clarkson dari handohone lia berbunyi dengan kuatnya ada panggilan masuk dia
berdiri dan menjauh dariku dan
mengangkat telfonnya dan ku kira menejernya, setelah selasai berbicara dia menghampiriku.
“Honey aku mesti pergi ada syuting pagi ini, jangan lupa nanti sore .”ucapnya sembari mengambil
handbag di atas ranjangku dan mengecup keningku.
“Okey nanti aku jemput.”jawabku yang masih duduk di atas ranjang…
Agung pov
Acara di tv seolah menghipnotisku membuat mataku yang tak bisa lepas menatap layarnya.
Bruuug
Suara benda jatuh menghancurkan lamunanku.
“Loe ngepel apa mau bikin banjir bandang.”suara hasan yang
setengah berteriak mengagetkanku tapi yang lebih mengagetkanku
adalah lantai yang sangat basah dan benar saja apa yang di ucapkannya seperti banjir bandang.
Dia mencoba bangkit sambil memegang pantatnya,dia meringis menahan sakit karna terpeleset
“Maaf San.” ucapku sambil menaruh gagang pel dan membntunya berdiri.
“Loe kaya emak emak aja dech doyan banget nonton gossip’
ucapnya masih menggosok belakang celananya yang basah,
aku mengambil sebuah kursi dan mebantunya duduk
“Kalo sampe peranakan gue ilang tanggung jawab loe.”
Masih bisa bercanda juga nich anak walaupun dalam keadaan
sengsara seperti itu , terdengar suara gelak tawa dari sebelah
ternyata penghuni café ini, aku bisa melihat benda kasat mata seperti hantu, kemampuan ini aku
dapatkan dua tahun lalu setelah kecelakaan yang menimpaku dan juga merengut kedua
orang tuaku, dua peristiwa yang hampir membuatku gila dalam waktu sekejap.
Namaku Agung Syahputra dan dia adalah Hasan wijayanto, dia
adalah sahabatku dan partner kerjaku di kafe.
sifatnya memang seperti ini suka ngebanyol walaupun dalam keadaan sekarat seperti tadi.
“Heran gue lihat tv,kabelnya yang kongslet apa emang ga ada acara lain ya dari kemarin, ga berita,
iklan, sinetron, infotaiment
muka nich orang kok sering banget muncul ya, apalagi
infotaiment ga habis habisnya beritain nich orang apa lagi diamau nikah, padahal dulu perikahan
gue ma Angelina Jolie aja ga heboh banget kaya dia.” ujarnya dengan gaya percaya diri yang tinggi
dan membuatku terkekeh.
Bisa bisanya dia bilang nikah ama Angelina jolie, buat nggoda Sumiyati si penjual jamu aja dia
selalu gagal walaupun dia melakukan ritual mandi kembang satu TMII aja masih gagal.
“Loe kurang sajen lagi ya, sampe ngelatur nikah ma Angelina jolie, neng Sumiyatinya mau di taruh
dimana..?’ ledeku sambil terkekeh.
“Busyet tuch mulut pake bilang kurang sajen, Angelina jolie istri khayalan kalo Sumiyati masa
depan."
Nich anak selalu bisa aja ngebanyol.
Aku menatap kembali kearah tv masih menayangkan acara infotaiment yang sedari tadi menyiarkan
berita menjelang pernikahan Nino Aditya Pratama.
Dia seorang artis yang sedang naik daun akan melangsungkan pernikahanya dalam hitungan hari.
Sosok yang sangat aku kagumi walaupun hanya pertemuan kita
sangat singkat tapi terlalu berarti bagiku.
Mungkin dia tidak pernah mengingatnya karna pertemuan itu
terlalu singkat dan sudah dua tahun berlalu namun aku selalu merasa seperti terjadi kemarin.
Aku mengambil gagang pel dan mengeringkan lantai yang sudah ku
buat banjir tadi , sebelum bos dan yang lain datang,
ada 6 waiters yang bekerja di sini tapi kita membuat jadwal bergilir setiap paginya.
Café mulai dipenuhi ramai pengunjung karna sekarang memang
sudah waktunya lunch time. Kafe tempatku bekerja memang tidak
terlalu besar tapi tempatnya yang nyaman dan terletak di tempat
yg bisa di bilang strategi Persisnya di tepi pantai .
pengunjung bisa menikmati berbagai jenis kopi dan minuman ringan
juga disediakan makanan ringan, nama café ini Beach Boy’s café.
Walaupun namanya Beach Boy’s café tapi pemiliknya seorang wanita cantik.
Sebenarnya café ini milik ayahnya tapi karna
ayahnya membuka cabang di tempat lain jadi café ini di pegang olehnya ,
sudah satu tahun dia menggantikan posisi ayahnya, walaupun dia owner tapi dia selalu melakukan
pekerjaan yang sama seperti kami.
Namanya Nadine Dwi Astuti.
“Agung meja no 4 satu kopi americano ,satu coffe latte dan dua French fries.” ucap Nadine sudah
dari tadi juga sibuk melayani
pelanggan memberikan secarik kertas pesanan pelanggan padaku
“Pesenan meja no 6 udah siap Gung.”sambungnya.
“udah satu capuccino dan satu roti toaster.”ucapku sambil memberikan nampan yang terisi pesanan
meja no 6.
Semua orang sibuk melayani pelanggan apalagi di waktu break time seperti ini , dan inilah
rutinitasku setiap hari pekerjaan
yang bisa di katakan telah mendarah daging.
Pekerjaan yg telah menafkahi ku selama 2 tahun lebih.
Nino pov
“Ah sial…” runtukku sambil memukul stir mobil di depanku,Kenapa jalanan sangat macet.
Aku mengambil handphone dari saku kemejaku langsung kucari
nama Lia di panggilan favorit, aku ingin memberitahunya bahwa aku datang terlambat karna
kemacetan yang sangat parah,
sebenarnya aku tidak boleh menyalahkan semuanya pada kemacetan
karna tadi aku baru saja bertemu dengan menejerku jadi aku agak terlambat.
"Nomor yang anda hubungi sedang sibuk".
Hanya jawaban operator yang aku dapatkan.
Apa dia sangat sibuk, pasti nanti akan aku jelaskan padanya kenapa
aku terlambat.
Sudah hapir satu jam dari waktu yang telah ku janjikan pada lia
untuk menjemputnya di tempat syuting.
Aku telah membuatnya menungguku
“maafkan aku Lia” hanya kalimat itu yang bisa ku ucapkan dalam
hati.
Aku memasukan handphone ku lagi tapi sial jatuh ke bawah tepat
di samping kaki kiriku, saat aku akan mengambilnya nampak mobil
di depan mulai berjalan dan ku urungkan niatku,
ternyata terjadi kecelakaan sebuah truck kontainer terbalik, kini aku bebas dari macet dan bisa
mengendarai dengan cepat.
Selang beberapa menit handphoneku berbunyi lagi, nama lia muncul di depannya aku
menggunakan tangan kananku untuk meraihnya tapi sangat susah dan kucoba meraihnya dengan
tangan
kiri dan sukses aku bisa mengambilnya aku mengankat kepalaku
mataku terarah pada truck besar di depanku yang jaraknya hanya
beberapa meter, terlambat untuk menghentikan mobilku..
BRAAAAAAK
Suara keramaian orang membangunkanku tergeletak di tepi jalan,
tapi kenapa tidak ada satu orangpun yang menolongku.
“sial” gerutuku sambil berdiri.
Ternyata aku selamat dari kecalakaan tadi tapi anehnya tidak ada luka sedikitpun di tubuhku.
Ku lihat mobilku yang dikerumuni banyak orang, kenapa mereka
malah meributkan mobil itu dari pada pengendaranya.
Aku mendekati mobilku yang memang bisa dikatakan sudah
ringsek, mataku menatap ngeri kearah sosok tubuh dalam mobil itu
Wajah yang penuh dengan darah.
Itu aku.
Aku telah mati.
"cepat panggil ambulan"teriak salah satu orang, yang lainya
mencoba mengeluarkanku dari dalam mobil.
Aku hanya bisa mematung melihat tubuhku yang berhasil di
keluarkan dari mobil, aku harap ini sebuah mimpi buruk.
Tidak mungkin seperti ini, aku belum siap, aku mohon jangan
sekarang,kakiku terasa lemas aku limbung dan berlutut melihat tubuhku tak berdaya.
Setelah beberapa menit ambulan datang dan mengangkat tubuhku
membawa masuk kedalam ambulan, dengan sedikit tenaga aku ikut masuk kedalam mobil ambulan
aku menatap dalam tubuhku yang penuh luka.
“Denyut nadi dan jantungnya melemah.”ucap seseorang sambil
memasang beberapa peralatan medis di tubuhku.
Tidak butuh waktu lama untuk sampai rumah sakit dengan cepat
mereka mengeluarkan tubuhku dari mobil dan membawaku untuk mendapat perawatan.
Aku berhenti di depan pintu, tidak ada nyali sedikitpun untuk melihat tubuhku.
Aku tidak sanggup mendengar kata kematian yg keluar dari mulut dokter.
Aku hanya diam depan pintu walaupun banyak orang keluar masuk
dari pintu tapi aku hanyalah sebuah roh yang bisa di tembusi oleh siapa saja.
Hampir setengah jam aku disini.
"Mah tenang mah,"
"Anakku bagaimana dia..?" suara isak tangis perempuan.
"Tante tenang ya kita udah sampai, kita akan tahu keadaan nya."
Ada suara yang sangat aku kenal arahnya dari belakang, aku mengenal suara ini dan menoleh ke
belakang Lia,mamah dan Denis adik lelakiku.
Bisa kulihat wajah mereka yang begitu cemas, mereka berjalan
setengah berlari kearah resepsionis.
Tanpa berfikir panjang aku mengikutinya, mereka langsung menuju arah yang di beritahu
resepsionis tadi.
Suara tangis pecah dari bibir mamah setelah dokter yang keluar
dari ruangan UGD memberi tahu sesuatu Denis mencoba
menenangkan mama walaupun dia juga terpukul setelah mendengar
penjelasan dokter tadi. Apa yang terjadi sebenarnya.
Aku melangkahkan kakiku ingin mengetahui apa yang terjadi
padaku.
“Katakan ini bohong” ucap mamaku sambil menangis
“ini tidak benar”
“Dia koma”
"ini tidak benarkan, tolong selamatkan dia, anakku akan menikah
sebentar lagi, tolong lakukan sesuatu dokter, bukankah sebentar
lagi dia ada di pelaminan, tidak disini, tolong katakana ini tidak benar.” ucap mama menangis
histeris seperti tidak percaya
dengan penjelasan dokter tadi,mamah menangis sejadinya di pelukan denis.
Lia hanya diam mematung ,air matanya mengalir tapi tak ada isak tangis sedikitpun.
Aku koma
Ini tidak mungkin.
Agung pov
Praaaang
Baki yang aku pegang jatuh mengejutkan semua orang yang ada
di café mungkin juga penghuni yang ada di sini.
Aku hanya diam di tempatku berdiri mataku memanas dalam waktu sekejap saja, apakah benar
yang di beritakan di layar tv sekarang ,Nino mengalami kecelakaan dan sekarang dalam keadaan
kritis .
Tanpa ku sadari semua mata menatapku yang masih diam tak bergeming.
“Agung kamu kenapa.?’ Tanya Nadin sambil memegang bahuku.
“Aku tidak apa.” jawaban yang bodoh pastinya ,
aku berjongkok memunguti pecahan gelas yang ku jatuhkan tadi.
“Tanganmu berdarah, kenapa tidak hati hati..!!!!” ucap Nadine terkejut melihat tanganku yang terluka
karna serpihan gelas tadi,
kenapa aku menjadi bodoh seperti ini, bahkan aku tidak menyadari tanganku terluka.
“Hasan tolong bersihkan pecahan gelas, tangan Agung terluka aku mau mengobatinya sebentar.”
Nadin membawaku ke belakang aku hanya mengikutinya tanpa mengeluarkan kata sedikitpun, dia
mengeluarkan revanol untuk
membersihkan luka di tanganku , setelah darah di bersihkan aku bisa melihat luka itu tidak terlalu
besar.
“Apa kau ada masalah atau sakit.?” Tanya Nadin tanpa menatapku karna dia memasang plaster di
tanganku.
“aku tidak apa.” Jawabku singkat
“Jawaban yang sama dari tadi, tapi keadaanya berbeda dengan jawabanmu. Apa ada masalah?".
“Bolehkah hari ini aku pulang awal, aku tidak enak badan.”Tanpa meminta dua kali Nadine
mengijinkaku pulang.
Tidak mungkin aku menceritakan padanya kalau aku terkejut
mendengar berita tentang Nino, pasti dia mengaggap aku gila.
Aku mengambil tas ranselku dan melepas celemek.
Aku meninggalkan café lebih awal aku ingin menyendiri.
Aku berjalan menuju kostan ku yang tidak jauh dari kafe hanya
butuh waktu 20 menit, namun kali ini terasa berbeda aku hanya
mengikuti langkah kakiku menatap nanar kedepan perjalanan yang biasanya hanya 20 menit
menjadi lama kali ini.
Sampai di rumahku aku mencari sebuah kotak di bawah ranjang
aku menemukanya dan langsung membukanya, ada banyak gambar
dan foto Nino di sana, aku mengumpulkan dari majalah, tabloid
dan koran.“ Aku harap kamu baik baik saja” gumamku memeluk gambar gambar itu.
Autor pov
Sudah satu minggu nino terbaring di ranjang, seharusnya Nino
berada di pelaminan sekarang mengikat janji suci bersama Lia di hari pernikahanya ,tapi dia masih
dalam keadaan koma. setiap hari rohnya berdiri melihat mamah dan Denis yang selalu
menjenguknya
tak jarang Lia menjenguknya walaupun tak sesering ibu dan adiknya, mungkin kesibukanya sebagai
artis dan banyak infotaiment
yang mengejarnya untuk mengetahui keadaan Nino dan menanyakan
tentang pernikahanya yang tertunda.
Nino keluar dari kamar inapnya di depan pintu dia melihat seorang siswa pelajar SMA , pelajar itu
langsung menatap kearah nino
“Apa kamu bisa melihatku.?”tanya nino heran
“tentu saja, karna kita sama.” Ucapnya ringan, Nino sedikitterkejut.
“Apa kamu juga koma sama sepertikku.?”
“Tidak aku sudah meninggal 6 bulan yang lalu saat pulang sekolah’
jawabnya santai sambil tersenyum
“Kenapa kamu masih disini.?”Nino yang masih kebingungan
“Aku juga tadinya berfikir dan selalu bertanya-tanya seperti itu,
tapi lama kelamaan aku tahu jawabanya, bukankah semua yang
terjadi di dunia ini ada alasanya.”jelasnya yang masih membuat
Nino bingung.“Namaku Andi.” pelajar itu memperkenalkan diri
“Aku Nino ‘ jawab Nino singkat.
“Kamu pasti artis yang sedang di rawat di kamar ini khan!”
“Bagaimana kamu tahu..!”
“Suster yang merawatmu adalah kekasihku, mungkin dialah alasan
aku masih di bumi, dan sepertinya kamu juga harus mencari
alasanmu.” ujarnya dan berlalu pergi,
baru berapa langkah dia menoleh kebelakang dan berkata”Bung wajahmu sangat kusut cobalah
keluar untuk jalan jalan walaupun
kita roh kita juga perlu penyegaran, suasana di rumah sakit malah membuat kamu lebih tertekan.
“Aku tidak tahu harus pergi kemana.?”
“Apa kamu tahu roh bisa teleport, bayangkan saja tempat yang
buat kamu nyaman sambil menutup mata, lakukan gaya yang keren
seperti di film.”ujarnya sambil tersenyum setelah itu dia lenyap.
Nino menghela nafas panjang seperti tidak percaya apa yang dia alami tadi dia mencoba menutup
mata seperti yang di katakan pemuda tadi.
Saat dia membuka mata dia berada di pinggiran pantai dia agak sedikit terkejut dan melihat
sekeliling tanpa waktu yang lama dia bisa mngenali tempat ini, dulu dia sering pergi ke sini waktu
ayahnya masih hidup.Tempat ini memang nyaman deburan ombak dan anginnya seperti simfoni
alam.
Dia larut terpaku di sana memandang sekeliling pantai hingga
matanya tertuju pada seseorang yang mungkin menyadari
keberadaan Nino karna sedari tadi lelaki itu memandanginya, dia mendekati lelaki itu
“Apa kamu hantu sama sepertiku.”Tanya Nino
Namun lelaki itu hanya diam tak menjawab pertanyaan Nino, dia
menatap Nino dengan tatapan yang sulit untuk di ungkapkan.
"Gung cepetan sini." Suara seseorang meneriaki lelaki itu.
Nino terkejut mengetahui orang di depannya adalah manusia.
"Kamu manusia....!!! Bagaimana kamu bisa melihatku"
"Ka-karna aku berbeda" jawab Agung gugup.
"Apa kamu dukun..?"
Tanpa menjawab pertanyaan Nino Agung pergi meninggalkanya karna
Hasan menghampirinya namun jarak mereka masih jauh.
Nino langsung meraih tanganya dan berhasil menangkapnya.
"Aku bisa menyentuhmu,,, tidak mungkin siapa kamu sebenarnya.
"Tanya Nino masih penasaran siapa Agung sebenarnya.
"Kalo kamu berfikir aku dukun salah besar, apa mungkin dukun
menggunakan celemek, kalo kamu ingin tahu siapa aku lebih baik kamu ikut aku dan jangan
berbicara sampai aku pulang kerja nanti
jangan sampai temanku menganggap aku gila karna berbicara
sendiri. Tegas Agung.
To be continued,,,,,