bc

Young and Dumb and Broke

book_age18+
4
IKUTI
1K
BACA
friends to lovers
others
comedy
bxg
campus
city
friendship
rejected
rebirth/reborn
gorgeous
like
intro-logo
Uraian

"Aku mencintaimu harian ataupun borongan."

Garuda Bran Hartanto, 21 tahun, mahasiswa teknik sipil yang sambilan jadi kuli proyek.

"Jangan kebanyakan minum minuman berenergi, Bran. Nasi kamu juga kenapa banyak banget? Bisa-bisanya kamu ketagihan jadi kuli proyek!"

Ginanita Brynne Hartanto, 21 tahun, kembaran Bran, mahasiswa tata boga, istri dokter.

"Lo bisa body building dalam waktu secepat ini. Cepat spill tempat gym dan personal trainernya!"

Winni Vidi Sriningsih, 21 tahun, selebgram, crazy rich.

"Diem lo, Jamet Kuproy!"

Cedric Airlangga, 21 tahun, mahasiswa teknik sipil, lelaki kerdus.

chap-preview
Pratinjau gratis
Hidup Memang Tidak Adil, Jadi Biasakan Dirimu
Ayo kerja! Semangat! Kerja, kerja, kerja! Begitulah cara kebanyakan orang memberi semangat. Sangat tidak relate dengan personality gue yang lebih senang rebahan. Lagi pula gue kan masih muda dan gue pun seorang mahasiswa. Tugas kami belajar bukan terus bekerja sampai tipes melanda. Ya, itu adalah pemikiran gue beberapa minggu yang lalu. Semenjak gue diwariskan hutang oleh orang tua yang meninggal karena kecelakaan lalu lintas, gue dan kembaran gue, Brynne terpaksa mencari pekerjaan karena pendidikan kami terancam terpaksa terhenti lantaran masalah biaya. Gue sempet menyesal memilih jurusan teknik sipil dan kembaran gue lebih parah karena kuliah jurusan tata boga yang tiap praktikumnya memakan banyak biaya. Dan payahnya, Brynne kembaran gue belum dapat pekerjaan sampai sekarang. Terpaksa harus gue yang mencari uang untuk biaya kuliah dan kehidupan sehari-hari. Ternyata mencari pekerjaan tidak semudah yang gue bayangkan. Kalau dipikir-pikir mana ada yang mau mempekerjakan mahasiswa yang masih kuliah. Kalaupun ada pasti pekerjaan dengan gaji di bawah standar. Tapi tidak apa. Gue sangat butuh pekerjaan untuk biaya sehari-hari dan membayar sewa rumah kontrakan kami terlebih dahulu karena sudah lebih dari seminggu ini kami hanya makan gorengan dan mie instan yang diseduh air panas. Uang yang tersisa di dompet gue sekarang hanya ada selembar dua puluh ribuan. Ini juga harus gue hemat. Siang ini gue sengaja nggak makan karena selembar uang gue satu-satunya ini pasti akan habis. Gue hanya minum dari botol plastik air mineral yang tadi pagi gue isi ulang. Gue jadi menyesal karena dulu sering menghilangkan botol minum plastik pemberian mama. Untung saja ketika gue melakukannya mama hanya memukul gue dengan panci teflon alih-alih mencoret nama gue dari kartu keluarga. Ketika sedang berteduh di bawah pohon untuk minum sebentar, tiba-tiba hujan datang. Gue segera mencari tempat berteduh yang aman. tapi disekitar sini hanya ada bangunan yang belum selesai. Tapi tidak apa-apa. "Lah saya juga bingung mau dapet orang dari mana lagi. Dua minggu lagi sudah harus selesai tapi kita kan tenaga terbatas." Kata seorang bapak berperut buncit yang berada di dalam bangunan kosong ini. Ia sedang berbicara melalui ponselnya. Ternyata bukan hanya gue yang ada disini. Ada beberapa orang yang gue duga adalah sekelompok kuli bangunan. Sepertinya mereka sedang istirahat bekerja. Karena semua orang berjongkok, gue ikut berjongkok di pojokan jauh dari mereka agar tidak membuat suasana menjadi awkward. "Ini temen lo, Roy?" Tanya seseorang dengan suara yang menggelegar. Jujur saja gue sempat kaget. "Bukan lah. Roy mana ada temen. Gue juga nggak tau itu siapa tiba-tiba datang aja." Sepertinya mereka membicarakan gue. Tapi kali ini gue akan pura-pura budeg. Bapak berperut buncit itu menghampiri gue dan memandang gue dengan tatapan yang lumayan menyebalkan. Ia memanang gue dari atas ke bawah. "Lagi susah duit ya? Butuh uang?" Hah? Tahu dari mana? "Kalau nggak susah duit pasti neduh di cafe seberang jalan ini." Wow hebat. Tahu dari mana? "Kelihatan dari raut muka kamu yang kebingungan." Buset. "Mau nguli?" *** "Nih nasi padang buat lo." Gue agak melemparkan kantong plastik hitam isi dua bungkus nasi padang kepada Brynne. "Punya gue yang dendeng sama perkedel. Elu yang rendang." "Kamu bilang uang kamu cuma dua puluh ribu. Kenapa bisa beli ini semua?" Tanya Brynne. "Besok makan apa? Uangku tinggal dua belas ribu lima ratus. Tadi aku nge-print di tempat fotocopy." Gue merogoh saku celana gue dan memberi Brynne selembar uang lima puluh ribuan. Brynne menerimanya tapi sepertinya memang otaknya yang bekerja selamban siput harus loading dulu tapi gue ngerti dia kebingungan. "Gue sudah dapat kerjaan. Lo tenang aja. Kita pasti bisa makan dengan layak tiap hari." Brynne terlihat seperti ingin menangis. Ia memeluk kantong plastik hitam pemberian gue. "Sudah ya, Brynne. Gue mau mandi dulu." Gue buru-buru pergi ke kamar mandi untuk mandi dan mencuci pakaian gue yang sebenarnya banyak noda pasir dan semen. Gue beruntung karena memiliki saudari kembar yang sedikit lemot karena dia tidak memperhatikan ada yang berbeda dari pakaian dan bau badan gue yang seharian ini sudah membanting tulang menjadi kuli bangunan. Gue sebenarnya juga nggak tahu sih reaksi Brynne seadainya dia tahu profesi yang baru saja gue jalani tanpa rencana hari ini tapi rasanya gue ingin merahasiakan pekerjaan gue yang sebenarnya dari Brynne. Gue juga ada ketakutan Brynne nantinya malu punya kembaran seorang kuli proyek seperti gue. Apa jadinya kalau teman-temannya yang juga teman-teman gue tahu pekerjaan gue sekarang. "Bran, makasih ya makanannya. Jujur aja tadi aku kelaparan banget dan obat sakit lambung sudah habis. Besok dengan uang dari Bran, aku bakal belanjain sayur di warung. Tapi menunya bakalan sederhana banget. Nggak apa-apa kan, Bran?" Tanya Brynne. Jujur aja mendengar pengakuan Brynne barusan gue merasa sedih sekali. "Nggak apa-apa, Brynne, Yang penting kita bisa makan dengan layak." Kata gue yang sebenarnya tidak suka sayur. *** Semalam gue nggak bisa tidur karena gue merasa sakit dan pegal di sekujur tubuh. Ternyata menjadi kuli bangunan tidak semudah yang gue bayangkan, apalagi sebelumnya gue jarang banget bergerak. Kali ini gue dipaksa untuk bergerak dan bekerja keras demi bisa hidup layak. Paginya gue merasa sangat lelah karena masih mengantuk tapi gue harus memaksa untuk bangun pagi karena gue harus sudah bekerja. Brynne sudah selesai memasak ketika gue baru keluar dari kamar. Gue melihat meja makan ternyata menu sarapan hari ini adalah nasi, sayur bening dan tahu goreng. Itu bukan makanan yang gue suka. Tapi karena lapar akhirnya gue makan juga. Ternyata masakan Brynne tidak buruk juga. Buktinya gue makan dengan lahap. Tidak sia-sia Brynne belajar tata boga. Tapi apakah menu rumahan seperti ini ada dalam mata kuliahnya? "Oh iya, Bran. Kamu dapat pekerjaan apa? Kemarin aku mau tanya tapi kamu sudah tidur duluan. Sepertinya kamu capek banget ya, Bran." Tanya Brynne. Gue tersedak. Brynne buru-buru menyodorkan segelas air pada gue. "Kamu tuh kenapa sih, Bran? Kalau makan itu jangan pengen cepet selesai. Aku tahu kamu nggak suka sayur tapi nggak seperti ini juga." Omel Brynne. "Gue suka, Brynne. Gue juga nggak nyangka lu bisa bikin sayur yang nggak gue suka jadi seenak ini. Gue pengen cepet selesai supaya bisa cepet sampai ke kantor. Nggak enak dong baru kerja udah telat di hari kedua." Kata gue menjelaskan. Gue merapikan peralatan makan dan menyimpannya di westafel dapur. "Gue nggak nyuci piring yah, Brynne!" Teriak gue. Gue mendengar Brynne berteriak tapi rasanya tidak jelas. Gue cepat bersiap untuk pergi bekerja. Kali ini gue mempersiapkan baju cadangan dalam ransel agar Brynne tidak curiga dan jangan sampai dia tahu kalau gue hanya bekerja jadi kuli bangunan. Setibanya di tempat kerja, gue mengganti pakaian gue yang rapi ini menjadi kaus dan celana jeans pendek selutut. Belum ada siapa-siapa disini. Gue yang datang pertama. Agak gabut juga. "Woy, Bran! Udah dateng aja jam segini. Rajin amat, lu." kata Bang Ari, senior gue disini. "Kita ngopi dulu, Bran. Biar joss." "Gue nggak ada duit, Bang. Abang aja." Tolakku. Gue harus bisa menolak ajakan seperti ini demi bisa berhemat. Bang Ari tertawa. "Pasti lu kira gue ajak lu ke cafe yang ada di seberang situ. Nggak, Bran. Kita ngopi pakai kopi sachet yang udah disediakan pemilik bangunan ini." katanya. "Tuh lu ke dapur aja. Ada kopi sachet dan termos air panas. Lu tinggal seduh aja. Ada mie instant juga tapi kita keseringan bawa pulang untuk oleh-oleh orang rumah. Lumayan banget, kan. Kalau makan siang nanti biasanya anak pemilik bangunan ini suka nganter nasi. Kemarin lu dateng kesiangan sih jadi nggak dapet nasi bungkus." Gue tersenyum senang karena ini berarti gue sudah tidak perlu lagi khawatir soal makanan. Nanti gue bakalan bawa mie instant untuk Brynne. Hari ini sebenarnya pekerjaan termasuk santai tapi menurut gue yang masih newbie ini lumayan berat. Badan gue yang masih pegal-pegal kemarin gue paksakan untuk bekerja. Rasanya badan gue sakit sekali seperti ingin meledak. "Istirahat dulu, Bran. Ini ada energy drink." Bang Ari memberi gue segelas minuman berwarna kuning. Gue belum pernah minum minuman seperti ini karena minuman ini terkesan sangat kuli. Tapi kan gue kuli jadi gue akan minum supaya gue resmi jadi kuli. "Terima kasih, Bang." akhirnya pertama kali di hidup gue, gue mencicipi menuman berenergi ini. Ternyata rasanya enak. Gue suka. Ternyata jadi kuli nggak buruk dan gue akui, gue senang. Fasilitasnya oke, makan siang gratis dan senior yang baik seperti Bang Ari. "Heh! Lu ngapain disini?" tanya seseorang. Itu Cedric. Temen sekelas gue di kampus. Temen. Sekelas. Gue. "Lah, lu ngapain kesini?" gue malah balik bertanya padanya. Gue sebenarnya kaget tiba-tiba ada teman gue disni karena rencana gue, gue akan merahasiakan pekerjaan gue dari siapapun. "Ini bangunan punya emak gue, Cuy. Mau bikin restoran rencananya. Gue antar makan siang untuk kuli-kuli disini."' jawab Cedric. "Oh... begitu." Tiba-tiba Bang Epan menyodorkan nasi bungkus untuk gue dan gue menerimanya. "Temen gue kenapa lu kasih juga, Bang?" Tanya Cedric. Bang Epan menatap gue seakan tidak percaya kalau gue mengenali Cedric. "Kan dia juga nguli disini. Lu ga liat bajunya ada noda adukan semen?" Cedric menatap gue dari atas ke bawah kemudian ke atas lagi. "Lah, nguli lu?" katanya sambil tertawa puas.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Eat Me, Daddy!

read
6.9K
bc

Pemuas Hasrat Mantan Suami

read
52.9K
bc

Nona-ku Canduku

read
99.3K
bc

HASRAT MERESAHKAN

read
143.9K
bc

BRIANNA [Affair]

read
130.0K
bc

Ayah Tiriku Sugar Daddyku

read
50.9K
bc

Ibu Tiriku Mantan Kekasihku

read
1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook