Episode 7 | Penyusup Teritori

2696 Kata
Pengap, sempit, lembab juga bau busuk menguar ke segala penjuru ruangan yang remang itu. Terasa sesak, sebab setiap sel terisi penghuni yang bahkan melebihi batas menampung maksimum. Aroma anyir darah begitu kental di indra penciumannya, membuat mual ingin muntah. Bahkan ia tak mempedulikan kakinya yang mulai membiru lengkap lukanya yang kembali terbuka. Meneteskan darah, jatuh menitik di lantai hingga berceceran. "Kalian akan membawa kami kemana?!" Betris meronta-ronta. Sisa air mata masih menjejak di wajahnya yang cantik. Di belakangnya, Eca berjalan terseok-seok. Kedua pria dengan pakaian serba hitam terus mendorongnya tanpa ampun, memaksa Eca untuk memasuki ruangan yang lebih mirip sarang tikus. Kotor dan bau! "Apa yang akan kalian lakukan pada kami? Ku mohon lepaskan kami..." wajahnya mulai pucat, bibirnya kering dan pecah. Penampilannya kacau, di tambah baju yang kotor dan sobek membuat keadaannya tambah mengenaskan. "DIAM!" "Kalian tidak di ijinkan bicara sepatah kata pun!" bentak pria yang berada di sebelah kiri Eca. Pria itu sungguh kasar, dan tak memiliki belas kasihan. Sepanjang jalan dari hutan, Eca terus di paksa berjalan meski kakinya kaku dan mati rasa. Eca tidak tau apa yang akan terjadi dengannya dan Betris, namun perkara ini akan semakin sulit jika mereka terjebak oleh orang-orang berpakaian serba hitam. Eca tak mengerti, kesalahan apa yang membuat dirinya dan Betris harus berakhir di tempat menjijikkan bagai mimpi buruk. Suara erangan kesakitan terdengar dari sel sebelah kiri, bercahayakan obor membuat jarak pandangnya melemah. Suara kemerincing besi yang terbentur besi menimbulkan suara nyaring mengusik telinga. Di sana, sesosok pria tengah meringkuk dengan rantai besi yang terikat di leher, kaki dan tangannya. Eca memandang ngeri, tempat apa yang ia masuki sekarang? "AARRGGGHHH!!" "LEPASKAN AKU k*****t!!" Suara itu berasal dari sel sebelah kanan, tampak seorang pria yang bertelanjang d**a dengan celana robek. Namun ia tidak terikat, justru di biarkan bebas lalu mengamuk berteriak histeris. Membenturkan kepalanya pada sel besi yang keras. Tak sekali dua kali pria itu membenturkan kepalanya, berkali-kali bahkan. Anehnya, pria itu masih normal, kepalanya memang mengeluarkan darah, namun wajahnya tak menunjukkan kesakitan. Justru pria itu terus mengulanginya lagi dan lagi, bahkan tak segan pria itu membenturkan kepalanya ke dinding hingga meninggalkan keretakan yang cukup besar. Eca takut, ia merasa tempat ini begitu mengerikan. Banyaknya sel layaknya penjara kelas kakap, dengan tahanan yang menempati tiap selnya. Dunia aneh apa yang ia masuki? Tak ada yang bisa Eca lakukan saat ini, ia hanya pasrah. Perutnya kelaparan sejak kemarin, di tambah kondisi kakinya yang bertambah buruk. Membuat Eca berada dalam kepasrahan hidup dan mati. Bagai mendapatkan mimpi terburuk dalam tidurnya, Eca melihat sesosok pria yang sangat ia kenali di siksa di salah satu sel yang kotor dan kumuh. Tangannya terikat ke atas dan di biarkan menggantung, menyangga tubuhnya yang kini setengah telanjang. Cepat dan menyakitkan, cambuk panjang berduri itu mengenai kulit tanpa alas berkali-kali. Menambah lukanya semakin menganga lebar. "Reno..." Tak jauh dari pria itu, pria yang memiliki umur hampir sama dengan Reno mendapatkan hal serupa. Cambukan dan pukulan di wajah, tangan, dan kaki hingga keadaannya sungguh memprihatinkan. Tonjokan tak segan memukul wajahnya telak, sedangkan pria itu tak memiliki sedikit kekuatan hanya untuk meronta. Matanya terpejam, diam ketika pukulan dan cambukan melukai seluruh tubuhnya. "Frans..." Eca bergumam tak percaya, kedua lelaki itu telah tertangkap lebih dulu dari mereka. Bahkan, Reno dan Frans mendapatkan penyiksaan yang begitu mengerikan di tempat ini. Sebenarnya siapa mereka? Apa yang mereka akan lakukan padanya? Apakah Eca harus berakhir di dunia kejam dan mengerikan ini? *** Cahaya matahari hangat terasa menyentuh kulit, udara pagi bercampur embun malam begitu segar. Hewan-hewan mulai keluar dari sarang mencari makan, serangga terbang rendah mengitari rumput. Mencari sari madu, hinggap di kelopak bunga. Burung berparuh panjang terbang di salah satu pohon rimbun buah. Mematuknya pelan dan cepat, seakan berlomba-lomba jika buah itu adalah miliknya. Rumput hijau di tanah seketika melayu dan tertekan saat sepasang sepatu menginjaknya. Sepatu yang terbuat dari kulit hewan asli dengan massa yang cukup berat. Langkah tegas mengiringi setiap tapak kakinya. Menimbulkan jejak di tanah yang begitu kentara. Pria itu tak berhenti untuk mencari, sesuai janji. Ia harus menemukan Penyelamat sekaligus Mate-nya. Aroma samar yang tersimpan dalam penciuman Lexus tak cukup membantunya. "Apa kau yakin, Mate ada di hutan ini?" tanyanya. "Kau meragukan kemampuanku?" Yero menatap seekor lebah yang hingga di salah satu bunga mekar berwarna biru, "Apa kau yakin, dia adalah Mate?" Lexus menggeram kesal, "Hei Manusia bodoh! Dari pada kau, aku lah yang lebih baik dalam mengenal Mate-ku! Kau hanya memikirkan ambisi mu saja!" "Aku tidak menyuruhmu untuk memaki ku." Yero kembali melanjutkan langkahnya, "Aku hanya bertanya, karena bagiku... Mustahil memiliki Mate setelah kejadian buruk yang menimpa kita berdua, dulu." "Jangan membicarakan masa lalu! Fokus pada tujuan awal mu datang kemari!" Yero tersenyum miring, "Kau semakin semena-mena padaku, Lexus..." "Aku hanya menagih janjimu," ujar Lexus santai. "Dan aku pasti menepatinya." Pria bertubuh besar dan tinggi menjulang itu mengamati sekitar, suara nyanyian hewan hutan menjelang siang. Tanpa beristirahat dari pagi buta, ia menjajakan kakinya menelusuri hutan. Sesuai insting Lexus, sang Mate terjebak di hutan yang masih kawasan miliknya. Kaki-kaki panjangnya membawa dirinya memasuki hutan lebih dalam. Sudah lama, ia tak melihat keadaan hutan kawasan miliknya yang di kenal menyeramkan. Sekilas hutan ini memang terlihat menarik dari arah luar, mengundang siapa saja yang melihatnya untuk menjelajahi. Tapi, siapa sangka. Yang terlihat menarik nyatanya menghantarkan malapetaka bagi siapa saja yang tersesat di dalamnya. Berbagai bisikan terdengar jelas bagi makhluk yang berputus asa, menyerah akan kehidupannya. Bisikan kematian, suara-suara misterius yang menginginkan teman bagi mereka yang merasa sendirian. Sangat mungkin terjadi, bisikan kematian ini akan merenggut nyawa rakyatnya yang berputus asa. Tak hanya itu, hewan buas dan Rogue banyak berkeliaran di hutan ini. Masih bisa selamat bila bertemu hewan buas, karena sejatinya makanan mereka adalah daging. Dan jika para makhluk karnivora merasa sangat kelaparan tak segan mereka akan membunuh satu sama lain. Jangan lupakan soal Rogue, Yero memang menjadikan hutan ini sebagai tempat tinggal, ah bukan, bukan, lebih tepatnya tempat pembuangan bagi rakyatnya yang melanggar atau bahkan melakukan pemberontakan padanya. "Ggggrrrrr..." suara geraman rendah terdengar. Yero mengalihkan pandangannya pada belakang pohon yang cukup besar di sebelah kiri. Tampak seekor hewan berbulu dengan gigi runcing yang kotor serta air liur yang menetes. Menjijikkan! "Bagaimana rasanya tempat tinggal barumu, Agro... Apakah menyenangkan?" Hewan itu menggeram kasar, tampak marah di lihat dari matanya yang berkilat-kilat. Gigi taringnya ia tunjukkan sebagai bentuk perasaan murka. Tatapan matanya tak lepas dari sosok pria di hadapannya. "Tenanglah, Agro. Kau suka sekali menggeram..." Yero menunjukkan seringainya, lontaran kalimat membuat hewan besar berbulu itu marah. Keempat kakinya berdiri tegak, memasang kuda-kuda siap bertarung. Bagai musuh yang sudah lama di incar, hewan itu menyerang Yero membabi buta. Tanpa persiapan, secara spontan mengayunkan kaki depannya. Mencakar, menendang, dan menggigit bagian tubuh Yero yang dapat ia jangkau. Sayangnya, Yero lebih gesit dan tangkas. Dengan mudah, ia menghindari pertarungan yang baginya tak berarti. Yero tak ingin, tenaganya dan Lexus terbuang sia-sia hanya untuk serigala hina yang menyerangnya. Serigala kotor yang mencoba mengambil alih kekuasaan milik Yero. Yero melayangkan pukulan tunggal pada Agro saat serigala itu kembali menyerang, seketika Agro terpental menghantam salah satu pohon hingga tumbang ke tanah. Serigala itu terkulai lemas, napasnya tersengal-sengal. Kilat matanya masih memancarkan kemarahan meski tubuhnya kewalahan. Di tengah ketidak-berdayaannya, serigala itu berubah wujud menjadi manusia. Tanpa busana, Agro mengerang kesakitan. Hampir sekujur tubuhnya membiru akibat pertarungan cepat keduanya. Wajahnya hitam, kusam penuh kotoran, begitu pula tubuhnya yang bernasib sama. Hidup dan tinggal di hutan menjadikannya benar-benar layaknya hewan liar nan ganas. Berbeda jauh, ketika Agro masih menjadi panglima di kerajaan Dark Blue Moon Pack dulu. Kulitnya yang kuning langsat, bertubuh kekar dan wajahnya yang tampan membuat banyak wanita menaruh hati padanya. Lantas, semua itu berubah ketika Agro memilih untuk ikut kelompok pemberontak demi melengserkan Alpha mereka, yakni pria yang saat ini tengah memandang Agro kotor dan hina. "b***k tetaplah b***k. Seharusnya kau berterima kasih padaku karena aku masih mengampuni mu," ujar Yero dingin. Agro memandang Yero dengan tatapan permusuhan. Giginya bergemelatuk marah, "Aku sangat ingin membunuhmu!" Yero tersenyum miring, "Tetaplah hidup dan bunuh lah aku." Tanpa menghiraukan keadaan Agro, Yero berbalik arah. Memunggungi Agro yang saat ini menatapnya sengit, sedari tadi Lexus terus mendesaknya agar segera mencari Mate. Rupanya serigala hitam miliknya terlalu menggebu-gebu dalam mencari Mate, tak sabar ingin bertemu. Berbanding terbalik dengan Yero yang pandai menyembunyikan perasaan dan ekspresinya. "Kedatangan My King di hutan tidak biasanya. Apa kau mencari wanita mu?" Seketika langkah kakinya terhenti, masih memunggungi, Yero diam. Pandangannya seketika berbeda, kilat-kilat murka terpercik di kedua manik mata kelamnya. Tak sudi berbalik, Yero hanya terdiam sembari menunggu kelanjutan kalimat Agro. Di sana, Agro tersenyum miring saat mantan Alpha-nya terpengaruh ucapannya. Meski bibirnya robek dan mengeluarkan darah, semua itu tak membuat Agro menyerah. Ia akan membuat sang Alpha itu murka, bila perlu Agro bersedia mati setelah melihat Yero yang kembali merasakan kehilangan. "Gadis cantik berambut panjang. Apa kau tengah mencarinya,... My King?" Agro memuntahkan darah dari mulutnya setelah menyelesaikan kalimatnya. Agro tersenyum miring ketika Yero mulai terpancing. Wajahnya memerah dengan rahang mengeras. Giginya bergemelatuk siap menumpahkan amarah pada pria sekarat di hadapannya. Hingga Agro kembali melanjutkan kalimatnya, Agro yakin amarah Yero mudah sekali di pancing bila berhubungan dengan Mate-nya. Meski Agro tidak tau siapa Mate sang Alpha. Namun, pria itu yakin. Jika salah satu dari tiga gadis itu adalah Mate Alpha. Dan Agro merasa bangga jika gadis yang berhasil ia singkirkan adalah Mate Alpha yang sebenarnya. "Aaahhhh... Beruntungnya aku bisa menghirup aroma tubuhnya yang begitu wangi--" Bugh! Hanya sekali kedipan mata, Yero menonjok wajah Agro beringas. Hanya sekali, tapi mampu merontokkan giginya hingga patah. Aura membunuh menyelimuti tubuh Yero, dirinya marah. Jiwa serigalanya meronta-ronta ingin mengambil alih, mendengar ada pria lain melecehkan Mate-nya. Lexus marah, sangat-sangat marah. Ingin sekali Lexus membunuh makhluk hina itu dengan kuku-kuku runcingnya. Mengoyak tubuh itu dengan penyiksaan tanpa ampun. "Apa yang kau lakukan padanya?!" geram Yero. Amarahnya menggelegak keluar, hanya sang Mate lah yang mampu membuat dirinya lemah tanpa pria itu sadari. Mengeluarkan sisi monster-nya yang Yero tutup rapat-rapat. Yero mencekik kuat leher Agro, membuat pria itu kesulitan mengambil napas. Wajahnya memerah, bibirnya justru menyunggingkan seringai pada Yero. Agro merasakan kepuasan hati ketika berhasil memancing kemarahan sang Alpha dengan begitu mudah. Agro adalah serigala berbulu cokelat yang kemarin menyerang tiga orang wanita dan tiga orang pria. Namun, serigala Agro hanya mampu melukai satu pria cukup parah dari dua pria lainnya. Sayangnya, belum sempat serigala Agro membabat habis semua manusia itu, Agro terkecoh pada satu wanita yang sempat membuatnya marah. Gadis yang berani melemparnya dengan batu hingga melukai kepalanya, meski kehilangan empat orang manusia. Setidaknya, Agro cukup puas ketika ia berhasil membuat gadis itu terperosok ke dalam jurang kematian. "Katakan Agro! Apa yang kau lakukan padanya?!" Yero tak bisa bersikap tenang saat ini. Ucapan Agro memancing amarah dalam tubuhnya untuk membinasakan Agro. "Aku hanya membantu agar wanita itu sampai pada neraka kematiannya." "BUGH!!" "BUGH!!" "BUGH!!" Membabi buta, Yero melayangkan tinjunya pada Agro. Tak peduli wajah pria itu hancur, atau bahkan cacat. Berani-beraninya serigala hina seperti Agro mengusik ketenangan Yero dan Lexus. Hingga Agro pingsan, tak berkutik. Yero tetap melayangkan bogeman. Rasa haus akan membunuh seketika menguasai jiwanya, dalam sekali sentak Yero membakar tubuh Agro. Membinasakan hancur jadi debu. Yero tidak peduli mengenai dendamnya pada Agro, dirinya di selimuti amarah yang tanpa sengaja membunuh Agro. Meski sebenarnya, Yero ingin membalaskan dendam dengan menyiksa Agro secara pelan dan menyakitkan. Namun, amarah terlanjur menguasainya, membuatnya kalap dan tanpa berpikir panjang, Yero memusnahkan Agro. Melihat Agro yang tubuhnya berubah menjadi abu, Yero mengerang kesal. Maniknya berubah warna menjadi merah pekat, urat-urat kebiruan hampir memenuhi seluruh wajahnya. Tanpa menunggu lagi, Yero melompat dan seketika berubah menjadi serigala berbulu hitam yang besar. Berlari menembus hutan, menerjang apapun yang menghalangi jalannya. Auman menggelegar memenuhi hutan, terdengar mengerikan sarat akan kemarahan. Serigala itu terus berlari menuju jurang dekat perbatasan wilayahnya dengan kerajaan Vampire. Jika memang Mate-nya jatuh ke jurang, Yero harus menemukannya dan membawanya ke istana. Bahkan, Yero belum sempat bertemu Mate-nya. Hanya Lexus, itu pun samar-samar karena Mate-nya langsung jatuh ke dunianya bersamaan dengan bangunan langit yang runtuh. "Aku benar-benar membenci serigala hina itu!" Lexus yang kini mengambil alih tubuh Yero menggeram, mengaum berkali-kali. Serigala berbulu hitam itu menerjang apa saja yang menghalangi jalannya. Hingga tiba di tepian jurang, Lexus tidak menemukan pergerakan atau aroma spesifik milik Mate-nya. Yang tercium hanyalah aroma Vampire yang samar-samar, tidak ada aroma wangi memabukkan Mate-nya. "Sialan!" umpat Lexus. "Kau akan melompat ke jurang?" Yero bertanya. Lexus diam sembari menatap ke dasar jurang lama. "Aku merasa serigala hina itu hanya mempermainkan kita," lanjut Yero. "Apa maksudmu?" Yero mengamati keadaan sekitar, hanya aroma Vampire dan aroma makhluk asing yang tidak pernah Yero cium sebelumnya. Meski samar, aroma ini bercampur begitu lekat. Jika benar, Mate-nya berada di dasar jurang, Yero pasti mencium aroma memabukkan Mate-nya. Namun nihil, sama sekali tak ada aroma memabukkan yang ia cari. "Bisa saja, gadis yang Agro lenyapkan bukan Mate kita. Tetapi salah satu dari mereka." Tersadar ingatan Lexus kembali saat dirinya masih menjalani kutukan di bangunan langit. Ia ingat bagaimana salah satu gadis dari tiga gadis lainnya terluka dan membebaskan kutukan sialan ini dengan darahnya yang tak sengaja terserap oleh Lexus. Hingga perlahan kutukannya luruh bersamaan bangunan langit yang rubuh. "Kau benar, Yero. Aku terbawa emosi hingga tak bisa berpikir jernih." Lexus menghela napas panjang. Dadanya di jalari perasaan luar biasa lega. "Kita kembali ke istana." "Tanpa berganti shift?" "Apa kau mau, tubuhku menjadi santapan para wanita selain Mate kita?" "Tentu saja tidak!" "Jika begitu, segera kembali ke istana Lexus!" Tanpa menjawab, Lexus berlari dengan keempat kaki bulunya. Kembali menerjang lebatnya hutan dan melompati batang pohon dengan mudahnya. Hari menjelang sore, cahaya oranye menghias langit dan terpantul menembus kelamnya hutan. Hawa dingin mulai terasa, daun-daun yang lebar mengembun, bersiap menampung tetesan air. Di depannya terlihat sebuah gerbang besar dan kokoh. Berwarna hitam dengan ujung atas yang berduri, membentang di sepanjang mata memandang. Tak ada satu pun yang dapat melewati gerbang masuk dengan selamat tanpa persetujuan Yero. Semenjak ia kehilangan Lexus, Yero memperketat istananya. Menjaga wilayahnya dengan sangat ketat, bahkan apapun itu para rakyatnya harus lapor setiap ada kendala, penambahan penduduk maupun kehilangan anggota keluarga karena harus mengikuti pasangan Mate-nya. Pintu gerbang terbuka lebar, siap menyambut kedatangan sang Alpha. Sepuluh prajurit membuka gerbang dari dalam, mereka tau dari aroma sang Alpha menyeruak meski berada puluhan kilometer. Di depan pintu masuk istana, tampak seorang pria dengan baju atasan berwarna merah dan celana kain berwarna hitam. Di pinggangnya terhias ikat pinggang yang tersampir pedang panjang, menambah kegagahan si pria. Lalu pria itu menunduk, ketika Alpha datang dalam wujud serigalanya, Lexus. "Hormat saya pada Alpha." Lexus mengangguk, tanpa menoleh. Saat dirinya akan melewati pria itu, si pria kembali berujar. "Maaf atas kelancangan saya, Alpha. Ada sesuatu hal yang harus saya sampaikan pada anda." "Katakan!" Masih dengan menunduk dan berlutut, "Pasukan bayangan menemukan empat penyusup memasuki wilayah Dark Blue Moon Pack. Kami membawanya ke penjara bawah tanah." Lexus mengernyit, "Apa kalian yakin jika mereka adalah penyusup?" "Tentu Alpha. Karena mereka bukan berasal dari rakyat anda, kami jelas mengetahui tanda yang anda berikan pada seluruh rakyat anda." pria itu menjelaskan secara singkat. Lexus mengangguk, "Aku percaya padamu, Beta Dema. Untuk sekarang, aku masih sibuk." "Saya mengerti, Alpha. Kami masih menunggu keputusan dari anda." "Berikan hukuman gantung kepada semua penyusup." Beta Dema mengangguk patuh, "Baik Alpha." Baru dua langkah Lexus melangkahkan kakinya, ia kembali berhenti, "Ah, satu lagi Beta. Lakukan hukuman itu di hadapan seluruh rakyat Dark Blue Moon Pack." "Di laksanakan Alpha." Mendengar jawaban memuaskan dari Beta-nya, Lexus kembali melangkahkan kakinya menuju lantai atas. Lantai di mana kamarnya berada. Senyum kepuasan timbul di sudut moncongnya. "Tidak ada satu pun penyusup yang dapat meloloskan diri dari wilayah ku!" Lexus kembali berganti tubuh dengan Yero. Tanpa menghiraukan keadaannya yang telanjang, Yero berjalan santai memasuki kamar mandi. Membilas tubuhnya yang terasa lengket dan kotor. Pencarian hari ini belum usai, Yero tak ingin menjadi pria bodoh dengan melakukan penyusuran di hutan tanpa makan dan mandi. Bagaimana pun juga, akal sehat terus ia gunakan sebagai petunjuk mencari Mate-nya. Yero tak ingin menjadi bodoh hanya karena cinta Lexus pada Mate yang mempengaruhinya. Yero akan tetap pada pemikirannya, ia membutuhkan Mate untuk keturunannya kelak. Tak masalah dengan cinta, terpenting keturunannya akan menjadi sangat kuat bila dilahirkan dari rahim Mate-nya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN