Sinar hangat mentari samar-samar menyentuh kulit. Menghempas dingin malam berganti pagi. Reno yang sejak semalaman terus berjaga tanpa berganti merasakan lelah luar biasa. Matanya memerah dengan kantungnya yang menghitam layaknya hewan khas Cina. Rambutnya acak-acakan, beberapa daun menempel di rambutnya yang kotor juga kusut.
Reno menoleh saat mendengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya. Di tatapnya Eca yang baru bangun tidur. Wajahnya masih kotor dengan beberapa bekas tanah yang menempel. Menutupi sedikit kecantikannya yang alami.
"Sudah bangun?" Eca mengangguk.
"Gue gak bisa tidur." ungkapnya pada pria yang masih setia menatap lingkaran hitam di bawah matanya, tanda ia tak bisa tidur semalaman.
"Masih mikirin Milly?" sekali lagi Eca mengangguk.
"Pagi ini kita balik lagi ke tempat kemaren. Kita cari Davis sama Milly, semoga keduanya baik-baik aja. Jangan di pikirin lagi, terpenting itu diri lo sendiri." Reno mengusap bahu mungil Eca penuh kasih sayang.
Cinta tak terbalasnya begitu besar meski gadis di hadapannya selalu menganggap perasaannya sebuah lelucon semata. Mengagumi dalam diam juga menjaganya dari kejauhan, hanya itu yang Reno lakukan untuk gadis yang di sukainya. Perasaannya ada semenjak Reno mengenal Eca tanpa sengaja. Dimana saat itu, Reno yang tengah babak belur karena tawuran antar SMA di temukan Eca yang hampir pingsan di dekat bak sampah.
"Toh--longhh..." sedikit tenaga pria berkemeja putih dengan celana abu-abunya itu merintih.
Beberapa debu kotoran dan bercak darah menempel di kemejanya, celananya sobek dan kulitnya lecet. Penampilannya sangat jauh di katakan sebagai anak SMA. Apalagi lebam di bibir, tulang pipi serta pelipis yang mengalir darah segar membuat pemuda itu lebih buruk lagi.
"Tolong..." dengan sisa tenaga, pemuda itu berteriak. Berharap ada seorang malaikat yang menolongnya saat ini.
Di sisa tenaganya yang hampir habis, Reno merasakan seseorang mengguncang bahunya pelan. Seakan takut menyakiti tubuhnya yang terluka. Reno berusaha membuka matanya meski berat dan samar-samar ia melihat seorang gadis mungil menatap dirinya khawatir.
"Astaga Kakak!"
"Kakak kenapa? Kok luka-luka gini," gadis berkuncir ekor kuda itu menepuk lembut pipi pemuda SMA yang ia temukan.
Gadis itu melihat ke kanan dan kiri berharap ada seseorang pejalan kaki yang melintasi jalan tikus dekat tempat pembuangan sampah, "--Sepi banget, gak ada yang lewat. Eca harus ngapain?"
"Kakak bertahan dulu ya, Eca cari bantuan dulu!"
Reno diam, tak menanggapi kalimat gadis mungil yang menopang sebagian tubuhnya. Lantas gadis berkuncir kuda itu melesat meninggalkan pemuda SMA yang menatap dirinya samar-samar. Hingga rasa sakit yang ia rasakan tak mampu membuatnya bertahan, pandangannya mulai hitam dan ia tak mampu menahan kelopak matanya untuk tetap terbuka menatap sang malaikat kecil, penolong mungilnya.
"Ren!"
Pria itu tersentak saat gadis dengan kantung mata yang melingkar di bawah matanya menepuk keras bahunya. Membuat kenangan beberapa tahun lalu sirna, tergantikan masa sekarang yang sangat berbeda jauh.
"Kita masih di hutan kalo lo lupa!" ujar Eca.
"Lo ngelamunin apa sih?" tanyanya sekali lagi.
Reno menggeleng pelan, "Enggak kok, gak ada. Lo tadi mau ngomong apa?"
"Gue--"
"Ren!"
Frans datang bersama Betris, menyela pembicaraan keduanya yang terlihat akrab. Luka di punggungnya masih basah, apalagi kain yang pakai untuk membelit telah penuh noda darah, membuatnya tampak pucat.
"Lo pucet banget Frans!" Eca menyeru saat melihat Frans.
Lantas Eca berdiri, memberikan bongkahan kayu yang sempat ia duduki agar Frans dapat duduk dengan nyaman, meski kenyatannya tak begitu. Samar-samar Frans mendesis kesakitan, apalagi wajahnya bak mayat hidup yang sangat pucat.
"Gue baik kok. Lo tenang aja Ca, yang penting kita bisa temuin jalan pulang. Gue gak mau di hutan aneh ini lagi. Persetan sama skripsi!"
Eca pun berpikir sama. Ia sendiri pun ingin pulang, tidur di kasurnya yang lusuh dan sempit. Eca tak peduli betapa kumuh kosan miliknya, terpenting ia bisa terbebas dari hutan aneh dan hewan buas di sini. Beruntung, semalam tak ada hewan buas lagi yang mengincar mereka. Apalagi suasana hutan yang sangat menakutkan kala malam hari mampu membuatnya di hantui ketakutan sepanjang malam.
"Semua ini gak akan terjadi kalo bukan karena Eca!" sentak Betris.
Eca menatap Betris sengit, "Apa-apaan sih lo! Nyalahin gue terus!"
"Emang lo kan penyebabnya! Semua ini gak akan terjadi kalo lo yang jadi ketuanya! Kita semua gak bakal terjebak di hutan aneh in!"
"Di serang hewan buas! Milly sama Davis jadi korban, itu semua gara-gara lo! Semua ini gara-gara elo, Eca!" bentak Betris.
"CUKUP!! Betris cukup!" Reno berteriak keras.
"Jangan nyalahin Eca! Gue yang salah! Gue!" Reno melihat Eca terdiam, namun air matanya mengalir begitu deras di kedua matanya.
"--Gue yang rekomendasiin bangunan kuno itu buat jadi tempat penelitian kita. Bukan Eca! Gue yang paksa Eca buat nerima saran dari gue! Gue yang seharusnya salah di sini!" Reno memaki dirinya sendiri.
Pria itu teramat menyesal atas apa yang kini ia dan semua teman-temannya alami. Seharusnya Reno tak teriming-imingi nilai menakjubkan dengan menemukan prasasti sejarah yang masih terkubur. Seharusnya ia tak tergoda akan kemudahan kelulusan jika penelitiannya memuaskan. Seharusnya, ia melupakan bangunan kuno itu. Menganggapnya tak ada dan tak pernah menjamah sesuatu yang bahkan di dalamnya banyak bahaya yang mengintai mereka.
Frans diam begitu mendengar penjelasan Reno, saat ini ia bingung. Jika bisa, sejak awal Frans akan menyarankan mereka agar melakukan penelitian di tempat aman. Sebuah tempat yang memang di sediakan untuk para mahasiswa sepertinya. Bukan mencari jalan sendiri dan malah membawa petaka pada mereka. Apalagi mereka telah kehilangan dua orang temannya.
"Udah, udah... Sekarang kita cari makanan. Kita juga butuh energi, sejak kemarin kita belum makan." Frans menengahi.
"Masih sempet-sempetnya ya lo, mikirin perut lo itu!" Betris menatap sengit Frans.
"Jangan pada munafik lo! Kita semua butuh makan, kita butuh energi buat cari Davis sama Milly! Kalian semua jangan egois! Pikiran kalian udah kacau dan gak bisa berpikir rasional!"
"Frans bener. Pikiran kita udah kacau, kita butuh makan."
"Untuk saat ini, kita cari sesuatu yang bisa ganjal perut. Cari buah atau tumbuhan tidak beracun." Reno menyetujui usulan Frans yang menurutnya saran terbaik saat ini.
Betris terpaksa mengangguk menyetujui, sebenarnya ia pun juga lapar. Namun, karena situasi yang sama sekali tak mendukung membuatnya melupakan perutnya yang belum terisi apapun. Hanya beberapa lembar roti dengan selai sebelum mereka berangkat untuk penelitian, itu pun sudah kemarin pagi.
Eca menurut saja, karena pendapat Frans saat ini adalah yang terbaik. Dia pun juga lapar, namun karena situasi yang sangat sulit sekarang membuatnya hampir putus asa. Apalagi memikirkan Milly yang entah keberadaannya sekarang, menambah beban pikiran Eca.
Rasa penyesalan tak ada gunanya, ingin memutar waktu pun tak bisa. Lelah, capek, putus asa, dan hampir menyerah. Itulah yang Eca juga ketiga temannya rasakan.
"Frans, lo masih kuat kan?" Reno bertanya pada pria yang duduk di dekatnya.
"Lo gak liat gue masih baik-baik aja?!" jawab Frans dengan nada menyebalkan.
"Sialan lo! Gue tanya baik-baik juga." Reno menoyor pundak Frans pelan. Pria itu terkekeh pelan. "Santai lah, gue baik kok. Tapi perut gue yang gak baik, laper!"
Eca mengulas senyum tipis melihat interaksi kakak tirinya dengan Frans. Berbeda dengan Betris yang masih menatap Eca sengit. Terlebih, Reno yang terang-terangan membela Eca di hadapannya. Sungguh, Betris tak terima semua ini!
"Ya udah, gue sama Frans mau cari makanan atau sesuatu yang bisa kita makan. Lo berdua tunggu disini, jangan kemana-mana. Secepetnya kita balik!" Reno mengambil alih tugas kepemimpinan Eca.
Pria itu tau, jika gadis kesayangannya masih di landa kegelisahan. Ia tak ingin, membuat beban Eca bertambah. Setidaknya, dengan cara inilah Reno dapat membantu meringankan tugas Eca.
"Dan buat Betris, jangan cari masalah sama Eca! Urusan pribadi belakangan, yang penting kita harus bisa kerja sama biar bisa keluar dari hutan aneh ini!" Frans menambahkan.
Pria berwajah blasteran itu tau, bagaimana tingkah Betris pada Eca. Sejak hubungan Betris dan Reno putus tiga bulan lalu, Betris gencar mendekati Reno lagi. Berharap keduanya dapat balikan, sebab di lihat dari segi manapun, Betris terlalu mencintai Reno.
Sedangkan Reno sendiri ia terlalu acuh pada Betris, lebih parahnya lagi, lelaki b******k itu memanfaatkan tubuh Betris. Dan Betris tidak keberatan sama sekali, hanya untuk Reno, gadis bertubuh sintal itu mau melakukannya. Benar-benar pasangan gila!
Lantas kedua pria berbeda usia itu melangkah pergi mencari makanan untuk mereka berempat. Meninggalkan Betris dan Eca di dekat lubang tanah, tempat mereka bermalam.
Udara pagi masih saja terasa menusuk, meski sinar matahari berusaha memasuki hutan hingga menembus tanah. Suara hewan malam pun sudah tak terdengar lagi, yang ada hanya cicitan burung yang mencari makan untuk anak-anak mereka di sarang.
Eca duduk diam di batang pohon yang tumbang. Melihat sekeliling yang juga terasa menakutkan, meski sudah pagi. Hutan ini begitu kental akan aura gelap dan mistis yang sewaktu-waktu dapat membahayakan mereka semua.
"Lo licik banget ya, Ca." Betris membuka suara.
Eca menoleh, mengangkat wajahnya pada Betris yang berdiri. Sedangkan dirinya masih duduk di batang kayu. "Maksud lo?"
"Gak usah sok polos deh! Gue gak nyangka lo sepicik itu, jadiin Reno sebagai tameng lo?!" Betris tertawa miris, "Bahkan Reno mati-matian belain lo di depan gue!"
Eca berdiri dari duduknya, "Lo salah paham! Gue sama Reno gak ada apa-apa, kita gak punya hubungan spesial lebih dari temen!"
"Gak ada hubungan apa-apa, lo bilang?!" Betris menatap semakin nyalang, "Lo pikir gue gak tau, kalo Reno sering pelukan sama lo! Lo pikir gue gak tau, kalo pandangan Reno ke lo itu jelas beda!"
"Jangan pura-pura gak tau lo, Ca!" Betris terengah-engah, napasnya tak beraturan.
"Semua yang lo liat, belum tentu benar! Gue emang gak ada hubungan apa-apa sama Reno!" Eca menyangkal.
Betris tak menanggapi, dirinya terlalu sibuk dengan linangan air mata yang tak kunjung berhenti. Suara tangisnya terdengar putus asa dan pilu. Eca duduk di sampingnya, perlahan tangannya terangkat. Berusaha menangkan Betris di tengah tangisnya, namun Eca urungkan karena suara Betris.
"Lo tau, Ca... Kenapa Reno mutusin gue?" Eca bergeming. Ia takut jawaban yang akan ia beri akan membuat Betris semakin murka padanya.
"--Karena Reno bilang ke gue, kalo dia jatuh cinta sama cewek lain. Dan lo tau siapa dia, Ca?" Betris menoleh dengan wajah merahnya penuh air mata.
"Cewek itu lo, Rebecca Raluna." setelah mengatakannya Eca termenung.
Ya, seharusnya ia bisa menebak kisah rumit ini. Seharusnya ia tau, jika masalah akan selalu datang bila ada dirinya di situ. Ia tak tau, dan menolak ingin tau ketika Reno mengatakan jika ia ingin bicara serius padanya. Eca takut, gadis bermanik cokelat itu takut akan perasaan Reno yang melebihi status mereka sebagai saudara tiri.
Eca tak ingin membebani pria dua tahun di atasnya itu dengan semua kebutuhannya. Ia tak mau, apalagi setelah Betris yang mengatakan kalimat yang tak pernah ingin Eca dengar. Kalimat itu hanya akan membuat banyak hati terluka.
Terdengar suara langkah kaki yang menjauh, Eca melihat Betris yang berjalan sendirian berlawanan arah dari Reno dan Frans. Sontak, Eca berusaha menghentikannya.
"Betris! Lo mau kemana?" Eca berdiri, menyuarakan suaranya.
Gadis bertubuh sintal itu, berbalik, "Gue mau cari air."
Eca mengerti, "Gue temenin."
"Gak perlu!"
Eca menggeleng, "Gue bakal tetep temenin lo!"
Betris tak peduli, ia mengacuhkan Eca. Lalu berbalik, menyusuri hutan guna mencari danau atau pun sumber air. Di pijaknya tanah berlumut pelan-pelan, menyibak daun lebar yang menutup jalan. Betris melakukannya dengan hati-hati, begitu pula Eca yang mengikutinya dari belakang. Hingga suara gemericik dari sisi sebelah kiri membuat Betris mencari sumbernya. Ia melangkah, setapak demi setapak. Hingga suara kerasnya gemericik air terpampang nyata di hadapan kedua gadis itu.
"Air terjun?" gumam Eca.
Tepat di hadapannya, keindahan air jatuh dari atas tebing begitu memukau. Di sinari cahaya mentari, warna oranye terpantul di atas air. Membentuk perpaduan warna cantik, hampir mirip seperti pelangi. Bedanya, warna yang di hasilkan oleh pantulan itu seperti kilauan dan hanya berwarna emas, tak ada berbagai macam warna seperti warna pelangi yang berjejer dalam satu barisan melengkung.
Sesaat Eca terpesona akan keindahannya, kerlap-kerlip pantulan cahaya menyegarkan mata, tidak menyilaukan sama sekali. Di temani suara kicauan burung di derasnya air terjun. Sungguh menakjubkan.
"Ikannya besar sekali!" Betris berbinar saat matanya menangkap pergerakan di air jernih.
Eca yang penasaran, ikut mendekat. Gadis berambut cokelat itu berdiri di pinggir air terjun, sedikit menjauh dari percikan air yang ternyata sangat dingin namun segar. Dari jaraknya ia berdiri, Eca melihat banyak sekali ikan-ikan berenang begitu lincahnya. Melambai-lambai di dalam air, meliukkan tubuhnya yang licin agar terhindar dari benturan keras batu.
Eca merendahkan tubuhnya, berjongkok di pinggir air terjun. Menyentuh pelan air jernih yang begitu menggoda mata. Dingin, namun air jernih itu terasa segar menyentuh kulitnya. Eca merasa ia ingin membersihkan diri, tubuhnya terasa lengket dan kotor. Tapi, ia harus menahannya, setidaknya ia akan membersihkan wajah, tangan dan kakinya saja.
Di seberang sana, Betris tampak menyibukkan diri dengan air. Melakukan hal sama, dengan apa yang Eca lakukan, membersihkan tubuhnya. Gadis bertubuh sintal itu, duduk di atas batu besar. Mencelupkan kedua kakinya di dalam air yang jernih itu. Lantas kedua tangannya sibuk mengusap bagian tubuh yang dapat ia jangkau.
Tak lama, Betris menghampiri Eca, "Ca!" serunya. Gadis bersurai cokelat itu menoleh, kernyitan bingung tercetak di dahinya ketika Betris berdiri menjulang di sampingnya.
"Gue mau mandi di bawah air terjun sana," Betris menunjuk ke arah air terjun, lebih tepatnya di bawah batuan yang hampir mirip goa. Namun tertutupi oleh guyuran deras dari atas yang berlomba-lomba jatuh menghantam bebatuan di bawahnya.
"--Lo bisa kan, pergi dari sini?" lanjut Betris.
Eca menggeleng, "Gue gak mau salah satu dari kita kenapa-napa! Gimana kalo-"
"Jangan sok cari muka deh!" Betris menyentak, lalu beranjak menuju bawah air terjun yang ia maksud.
"Sekarang lo bisa pergi." tanpa menoleh, Betris melangkahkan kakinya. Menyelami segarnya air terjun yang begitu jernih.
Terpaksa Eca pergi dari tempat indah nan segar itu, tapi dirinya pun tak tega meninggalkan Betris seorang diri. Apalagi hutan ini penuh dengan bahaya akan hewan buas yang sewaktu-waktu bisa melukai Eca juga Betris.
Menghela napas, Eca melangkah pergi dari air terjun itu. Menjeda waktu bersantainya, ia akan menunggu Betris di balik pohon itu. Setidaknya Eca akan tetap menemani Betris, meski gadis cantik itu menolak kehadirannya. Baru beberapa langkah Eca mengayunkan kedua kakinya, suara jeritan melengking mengagetkan dirinya.
"Aaarrrggghhhh!!"
Betapa terkejutnya Eca ketika melihat Betris tengah di todong tombak berujung runcing oleh sekelompok orang yang memakai pakaian hitam, dan sebagian wajahnya di tutupi dengan kain senada. Bahkan kini, semua orang-orang berbaju aneh itu mengelilingi Betris juga dirinya. Eca terdiam, tubuhnya terasa kaku tak mampu bergerak seinchi pun, ia takut jika ujung tombak itu melukai lehernya.
"Si-siapa kalian?" tanya Eca. Suaranya bergetar ketakutan, di depan sana Betris menahan gemetar isak tangis. Betris yang panik membuat ujung tombak yang runcing hampir merobek lehernya.
Sekumpulan orang-orang itu, melirikkan matanya. Saling memberi kode satu sama lain, seolah berbicara lewat tatapan mata.
"Penyusup!"
"Mereka bukan berasal dari kerajaan kita!"
Eca membulatkan matanya, ia tak mengerti atas apa yang terjadi. Ia takut, jantungnya berdebar begitu cepat. Ia tak ingin tertangkap oleh orang-orang berpakaian aneh, Eca tak tau bahaya apa yang mereka hadapi setelah ini.
"Tidak! Tidak! Ku mohon jangan bawa kami..." Eca memelas berharap kemurahan hati orang-orang berpakaian gelap itu.
"Lepaskan aku!" Betris meronta saat kedua tangannya di ikat di belakang punggungnya.
"Seret dan hadapkan pada Alpha! Mereka telah lancang memasuki teritori Dark Blue Moon Pack!" seruan keras memimpin orang-orang yang mengacungkan tombak mereka. Dengan patuh mereka melaksanakan perintah yang di yakini pemimpin mereka.
"Tidak! Lepaskan aku!"
"Ku mohon jangan bawa kami!"
Menghiraukan teriakan, permohonan dan mengharap kasihan, para pasukan berpakaian gelap itu menyeret paksa Eca dan Betris begitu kasar. Menjambak rambutnya keras lalu menariknya hingga rasa perih dan sakit karena tarikan itu begitu nyata terasa. Eca berharap semua ini hanyalah mimpi buruknya yang tak akan pernah ia inginkan. Mimpi yang sialnya menjadi malapetaka untuk Eca sendiri.
***