Seorang pria dengan jubah berwarna merahnya tampak berdiri di atas balkon. Angin malam yang berhembus pelan menghantarkan rasa dingin menyentuh kulit, jubahnya yang bersulam emas melambai pelan. Tampak tak begitu mengganggunya, pria itu bahkan menikmati rasa dingin sendirian. Berteman sepi sepanjang kehidupannya.
Tetapi, kini pria itu tak lagi sendirian. Sebagian nyawanya telah kembali, menyatu padu dalam aliran darahnya. Berdegup dalam satu jantung yang sama. Setelah sekian lama, di segel secara paksa oleh para pemberontak. Serigalanya kembali, ajaibnya sang Mate lah yang membebaskan separuh nyawanya.
Tak pernah sekalipun ia memikirkan pasangan jiwanya. Setelah perenggutan serigalanya secara paksa semua pikirannya tertuju bagaimana cara membebaskan serigalanya. Mengasah kemampuan berburunya yang sempat melemah karena kehilangan serigalanya. Lantas, mendapat keajaiban sekaligus kado terindah ini membuat cahaya di wajahnya bersinar.
Serigalanya kembali bersamaan dengan sang Mate yang akan datang ke pelukannya. Sayangnya, sang Mate belum di temukan. Bisa saja, ia mencari Mate-nya. Tetapi, aroma yang di rasa oleh indra penciuman serigalanya masih lemah. Ia tak bisa mengandalkannya, maka jalan tengah dari pencarian sang Mate adalah memerintah seluruh prajurit terbaiknya membawa calon Ratu mereka.
"Aku meragukan kemampuan mu dalam melatih prajurit selama aku tidak ada."
Suara berat nan tajam menyapa di pikirannya yang dalam. Pandangannya yang menatap jauh ke arah pemukiman penduduk seketika tersadar. Serigalanya mencoba mengajaknya bicara, entah mengapa suara berat serigalanya terdengar menyebalkan.
"Sekarang apalagi Lexus?" balas pria itu. "Kau tidak lelah melontarkan kalimat sarkas semenjak kau kembali?" tambahnya. Semenjak Lexus kembali menyatu dengan dirinya, serigala itu menjadi lebih cerewet dan keras kepala.
Lexus mendengus, serigala yang kini mendiami jiwa terdalam pikirannya tampak kesal. Ekor besarnya yang di penuhi bulu tebal bergoyang ke kanan dan ke kiri. Perasaan cemas dan agresif tiba-tiba merayapi hatinya. Pria berjubah merah itu tau, jika itu adalah perasaan Lexus saat ini.
"Aku tidak bisa menunggu lama, Yero." putus Lexus.
"Aku tengah berusaha."
Pria yang di panggil Yero itu membalas, raut wajahnya yang tegas di terpa sinar rembulan membuat wajahnya tampak berkilau. Angin malam yang dingin tak membuat tubuhnya menggigil, sebab tubuhnya akan selalu terasa hangat. Seorang werewolf memiliki temperatur suhu yang dapat menyesuaikan dengan keadaan iklim maupun cuaca. Bahkan tubuhnya akan selalu merasa hangat dan nyaman meski musim salju sekalipun.
"Sudah terlalu lama, dan kau tak mendapat satu laporan pun!" Lexus memanasi, menurutnya tubuh manusianya terlalu lamban dalam memimpin. "--Aku mulai meragukan tubuh mu yang lemah tanpa kekuatan ku!"
"Jangan memprovokasi ku, Lexus." Yero berbalik, berjalan memasuki kamarnya. Pria berjubah merah dengan sulaman emas itu membiarkan angin malam memenuhi kamarnya. Terasa dingin dan sepi, selayaknya ia hidup saat ini.
"Aku tidak akan pergi untuk mencari Mate. Biarkan para prajurit yang membawanya padaku."
"Aku tak sesabar dirimu! Aku menginginkan Mate-ku!"
Yero diam. Pria itu tak membalas kalimat Lexus, serigala keras kepala yang sedikit posesif. Entah mengapa, perpisahan mereka tak membuat serigalanya menjadi lebih penurut dan patuh pada Yero. Malah lebih keras kepala juga terlalu gegabah.
"Kita satu tubuh, Lexus. Kau menginginkan Mate-mu, maka aku pun sama."
"Tapi kau terlalu lamban!"
"Semua memerlukan rencana yang matang. Puluhan tahun, aku menghabiskan waktu ku untuk menyusun rencana ini. Jadi, bisakah kau diam?" Yero membuka pintu kamarnya, kaki panjangnya melangkah menuju ruangan yang berada di sebelah kiri pojok.
"Kehadiran Mate akan sedikit membuat rencana ku goyah."
"Kau tidak menginginkan Mate?!" Lexus mendengus remeh. "Sungguh? Kau munafik!" lanjut Lexus.
Yero menutup pintu, "Aku menginginkannya Lexus. Aku membutuhkan generasi penerus untuk kerajaan ini. Maka dari itu, aku akan menyelesaikan rencana yang telah ku susun lalu mencari Mate."
"Kau salah! Mate-ku untuk ku cintai! Tidak harus kau jadikan mesin penghasil anak!"
"Kau terlalu keras kepala." Yero mengambil botol kecil di laci meja kerjanya. Lantas menelan beberapa pil putih-ramuan dari Tabib istana, itu sekaligus.
"Tidurlah Lexus. Aku membutuhkan kekuatan mu, besok pagi."
Di pikirannya, Lexus baru menyadari obat yang di minum Yero adalah obat tidur. Karena ia merasakan mengantuk yang luar biasa. Yero mencoba mendiamkannya secara paksa dengan obat tidur. Meski Lexus dapat tidur secara paksa, obat itu akan mempengaruhi tubuh Yero. Perlahan, Yero ikut mengantuk. Pria itu berjalan menuju sofa panjang untuk ia tiduri, hingga kesadarannya tergantikan kegelapan.
***
Sunyinya hutan terasa mencekam. Udara dingin yang menusuk kulit membuat tubuhnya menggigil. Berbekal baju yang ia kenakan, berharap mampu melindungi tubuhnya yang menggigil kedinginan. Semua barang-barangnya hilang, tas ransel berisi makanan, materi penelitian dan beberapa perbekalan mereka musnah. Tak ada satu pun yang tersisa.
Semuanya musnah saat mereka menghadapi seekor anjing buas yang siang tadi menyerang mereka. Membuatnya kehilangan satu teman dan satu sahabat terbaiknya.
"Belum tidur?" ujar suara berat yang sangat ia kenali.
"Gue gak bisa tidur di saat kita belum temuin Milly." suara parau nan pelan milik gadis berambut cokelat itu terdengar pelan.
Gadis beriris cokelat itu tak terganggu akan kehadiran kakak tirinya yang menemaninya duduk di salah satu batang pohon yang tumbang. Tatapan matanya menatap kosong ke depan, meski ia tau semuanya gelap. Hanya sinar samar sang rembulan yang menerangi malamnya.
"Gue janji. Gue akan temuin Milly gimana pun keadaan dia nanti. Juga Davis. Dia rela jadiin tubuhnya tameng buat gue, tapi dengan terpaksa gue ninggalin dia waktu dia sekarat." pria itu tertawa miris.
Reno, di balik sikapnya yang urakan dan berandal. Ia adalah sahabat yang setia untuk Davis dan Frans. Kakak yang baik untuk adik tirinya, Eca. Juga anak yang bertanggung jawab untuk Mama kandung dan Papa tirinya.
Kali ini dirinya merasa gagal. Reno gagal menjalankan amanah dari Mama dan Papa tirinya agar menjaga Eca dengan baik. Reno terlalu gegabah dan merasa solusi yang ia berikan adalah yang terbaik. Mengingat Reno salah satu anggota pecinta alam yang tentu saja hapal di luar kepala mengenai tempat atau bangunan bersejarah. Kebodohan teman-temannya ia gunakan untuk menunjukkan bakat terpendam selama ia menjelajahi hutan. Nyatanya, Reno salah besar.
Keputusannya yang terlalu terburu-buru tanpa memikirkan resiko sungguh kesalahan terbesar baginya.
"Semua salah gue! Ini semua salah gue!" Eca terisak. Air matanya kembali mengalir begitu derasnya. Seakan tak pernah kering.
"Sebagai ketua penelitian, harusnya gue yang cari situs kuno! Harusnya gue yang survei sendiri! Harusnya gue lebih bertanggung jawab! Harusnya gue! Gue, Kak! Bukan lo!"
"Bukan lo yang harusnya ngasih tau soal bangunan kuno itu! Bukan lo!"
"Harusnya gue dengerin perkataan Milly! Harusnya gue percaya!"
"Tapi bodohnya gue tetep lanjutin rencana penelitian ini!"
"Gue bodoh! Gue bodoh, Kak!"
Panggilan Kakak yang telah lama tak ia dengar, kali ini menyapa indra rungu pria bertubuh kekar itu. Setelah sekian lama, panggilan itu ia dengar kembali. Suara isakan Eca semakin keras memecah heningnya hutan. Mengalahkan suara jangkrik saling menyahut satu sama lain, menciptakan melodi malam yang mengusik indra pendengaran.
Tak kuasa menahan perih melihat adik tirinya menangis, Reno memeluknya. Mendekap Eca erat seraya membisikkan kalimat menenangkan. Mengelus rambut cokelatnya yang kusut dan kotor penuh kasih sayang.
"Ssssttt... Enggak Ca. Enggak! Lo nggak salah, lo nggak salah! Kakak yang salah!"
Reno menahan air matanya yang ikut pecah. Menyaksikan bagaimana menderitanya Eca atas keputusannya yang mengusulkan bangunan kuno untuk tempat penelitian akhir tahun mereka. Ekspektasi yang Reno harapkan memuaskan, realitanya sangat menyakitkan.
Mereka berenam malah tersesat di dunia aneh tanpa tau jalan untuk kembali. Bertarung melawan hewan buas hingga menyebabkan dua temannya menjadi korban. Sekarang mereka harus tidur dengan kondisi perut yang kelaparan. Karena tas ransel serta barang-barang mereka hilang saat mereka terjatuh dari bangunan kuno beberapa jam yang lalu.
"Jangan nyalahin diri lo sendiri. Lo gak tau apa-apa, semua ini karena opini Kakak yang salah. Kakak yang terlalu percaya diri sama kemampuan Kakak yang gak seberapa. Maafin Kakak Ca, Kakak minta maaf." Reno berkata seraya memeluk Eca lebih erat lagi. Menyalurkan rasa hangat di tengah dinginnya hutan yang menyelimuti malam mereka.
"Apa yang harus Eca sampein ke Mama Milly soal Milly, Kak? Eca gagal jagain sahabat Eca sendiri."
"Enggak Ca. Lo nggak gagal, lo udah berusaha sebaik mungkin buat temen-temen. Tapi Milly sendiri yang pilih buat selametin lo, lo harus kuat." Reno merenggangkan pelukannya. Di lihatnya mata sang adik yang basah karena air mata.
"--Jangan putus asa. Percaya sama gue, Milly pasti selamat." tekannya menatap sepasang manik Eca dalam.
"Milly gadis yang kuat dan tangguh. Hewan buas itu adalah mainan kecil bagi Milly. Lo harus percaya sama gue." Reno memberikan sugesti positif untuk Eca.
Melihat manik Eca yang masih ragu. Reno kembali mengatakan kalimat positifnya. Meyakinkan adik tirinya yang tengah berada dalam kesedihannya, "Lo inget kan, kalo Papa Milly dulunya pemburu? Bahkan Milly sering di ajak berkemah di tengah hutan dan berburu di alam bebas. Milly tak selemah itu, Ca."
"Itu mengapa, Milly memancing agar hewan sialan itu mengejarnya. Kakak yakin, Milly pasti telah memiliki rencana agar ia bisa menyelamatkan teman-temannya dan juga dirinya sendiri."
"Percaya sama Milly. Dia sahabat terbaik yang pernah lo punya, dia gak akan pernah ninggalin sahabatnya sendiri dalam ketakutan."
Nampak sinar kesedihan di matanya berkurang. Secercah harapan muncul di sana, Reno tak tau apa yang telah ia katakan pada adiknya. Ia hanya men-sugesti jika Milly baik-baik saja. Nyatanya, Reno tak tau apapun mengenai Milly. Ia hanya pernah mendengar beberapa kali Eca menceritakan sahabatnya dengan begitu semangat.
Dan dari cerita lama itulah, Reno mencoba menanamkan harapan kecil meski itu semua adalah semu. Reno tak tau keadaan Milly saat ini, pria itu pun hanya mampu berharap agar mereka semua dapat kembali berkumpul dan pulang. Tak peduli mengenai penelitian yang membawa bencana bagi mereka.
"Gue percaya. Milly bakal baik-baik aja." seulas senyum terbit di wajahnya. Menghiasi wajahnya yang basah juga merah. Reno ikut tersenyum. Semoga kisah karangan yang ia buat menjadi kenyataan.
Ya, kenyataan. Kenyataan yang berawal dari kebohongan.
Reno memeluk Milly sekali lagi. "Sekarang lo tidur, istirahat. Besok kita balik lagi ke tempat itu buat cari Milly dan bawa Davis pergi. Betris sama Frans udah istirahat duluan. Sekarang lo masuk, biar gue yang jaga malam ini."
Tanpa membantah, Eca mengangguk. Ia pergi menuju goa yang terletak di bawah pohon besar. Di kelilingi oleh semak-semak yang lebat membuat goa itu hampir tak terlihat oleh mata telanjang jika saja Frans tak sengaja terperosok dan menemukan goa itu.
"Ca.." panggilan pelan itu berhasil membuatnya berhenti melangkah. Eca menoleh, melihat sekilas wajah Kakaknya yang samar di gelapnya hutan.
"Selamat malam."
"Malam Kakak."
Malam ini saja, Eca akan mengistirahatkan pikiran dan hatinya yang kalut. Memejamkan mata sejenak di tengah bahaya yang mengancam sewaktu-waktu. Jika bisa, Eca berharap semua ini hanyalah mimpi buruknya di tengah lelapnya ia tidur.
***
"Kau terlalu ambisius."
"Jangan banyak mengoceh."
"Terserah kau saja! Yang terpenting segera selesaikan lalu pergi cari Mate-ku!"
"Hm."
Di dalam pikirannya terdalam, Lexus mendengus kesal. Sisi manusianya begitu menyebalkan. Sebebasnya Lexus dari segel di bangunan langit, ia harus menyatu dengan Yero yang begitu angkuh dan ambisius. Tak sampai di situ, Yero secara paksa menidurkannya dengan obat tidur meski Yero ikut terkena dampaknya. Tapi, tetap saja. Obat tidur itu membuat Lexus tak nyaman. Meskipun yang Lexus lihat saat ini, Yero tampak begitu tenang dan tak terdefinisi.
Dini hari, saat mentari belum menampakkan sinar oranye-nya. Yero bangun tepat waktu dan memerintahkan pasukan bayangan khusus untuk melakukan penyerangan sesuai rencananya. Rencana yang bertahun-tahun lebih Yero rancang dan persiapan. Sehingga ketika sewaktu-waktu Lexus terbebas dari segelnya, Yero dapat melakukan serangan secara mendadak.
Terbukti. Pada dini hari ini, Yero melakukan rencananya. Bersama seluruh pasukan bayangan yang ia latih secara diam-diam, sebagai senjata utama kerajaannya. Kembalinya Lexus, menambah kematangan rencana penyerangan ini seratus persen tingkat keberhasilan.
"Menyebar ke seluruh sisi target." ujar Yero dengan tenangnya.
Baju kulit berwarna hitam berlengan panjang melapisi tubuhnya dari dinginnya malam yang menusuk. Kaki panjangnya terbalut celana kain berwarna senada dengan pelindung kuat di kedua lututnya. Melingkupi begitu pas kaki panjangnya dalam melangkah tegas tanpa gentar.
Mendapat instruksi dari King mereka. Semua prajurit pasukan bayangan mulai menyebar ke seluruh sisi. Menyatu dengan kelamnya malam berteman sepi. Saling memberi kode satu sama lain begitu lihai. Hanya kilaunya mata yang terlihat, penutup wajah yang mereka gunakan begitu sempurna menyembunyikan identitas diri.
Semua pasukan bersiap. Menatap bengis rumah besar yang terletak di pinggir desa. Rumah busuk tempat berkumpulnya para pria dengan pekerjaan kotor di temani perempuan tak bermoral pula. Lantainya yang berdebu tebal dengan daun-daun kering menyebar. Tak terawat dan menjijikkan.
Lexus bahkan sempat protes karena kotornya rumah itu. Serigala berbulu hitam itu tak ingin jika Yero berganti shift dengannya dan membuat bulunya menginjak tempat menjijikkan. Lexus tak mau jika penampilannya berubah menjadi buruk dan berbau aroma tidak sedap dari rumah busuk itu. Apalagi jika Mate-nya sampai tau, Lexus tak ingin citranya buruk di awal bertemu.
"Perintah selanjutnya siap di laksanakan My King." ujar seorang prajurit bayangan yang memimpin pasukan penyerangan pagi ini.
Seringai tipis tercipta di wajahnya yang tampan. Aura membunuhnya keluar meminta di puaskan. Apalagi monster dalam jiwanya merongrong haus akan darah segar. Hebatnya, Yero masih dapat mengontrol diri ketika pergolakan jiwanya begitu besar dan saling menolak satu sama lain.
Yero melihat rumah itu sepi karena memang dini hari. Lampu yang tergantung bergoyang di terpa angin begitu kencang. Hari ini, adalah hari terakhir bagi pemberontak melihat sinar matahari. Ah, rasanya tidak mungkin. Hidup dan mati para pemberontak itu, sekarang berada di dalam genggaman tangannya.
Hanya sang Raja yang memutuskan akhir atau awal kehidupan musuhnya.
"Sekarang!" titahnya mutlak.
Mendapat komando dari sang Raja. Para pasukan bayangan segera menerobos masuk tanpa jeda. Mendobrak pintu, melewati jendela lalu memecahkan kaca. Mereka melakukannya begitu cepat, tepat dan tangkas. Seakan sisi liar mereka di lepaskan dan mencari buruan mangsa di depan mata.
"Si-siapa kalian?!"
"PENYUSUP!!"
Terbukti, beberapa pria tua tersentak kaget dari aktivitas mabuk mereka. Tak sempat melawan, pasukan bayangan menghunuskan pedang tajam nan panjang mereka tepat mengenai jantung. Lelaki muda yang masih dapat melawan memilih bertarung meski dengan tangan kosong.
"LEPASKAN AKU!!"
"AMPUN!!"
"AMPUNI KAMI!!"
Teriakan kesakitan bersahutan di penghujung malam. Suara patahan tulang dan benturan benda keras memenuhi rumah itu.
"JANGAN BUNUH AKU!!"
Para wanita yang berada di rumah itu, tak luput dari penyerangan oleh pasukan bayangan milik Yero. Mereka semua mati secara mengenaskan di dalam rumah itu, bahkan banyak tubuh tercabik-cabik serta hancur.
Yero menyaksikan seberapa brutal prajurit bayangannya setelah sekian lama ia latih fisik secara keras tanpa ampun. Dan hasilnya sungguh memuaskan jiwa monster-nya yang begitu menikmati alunan kesakitan dan rintihan ampunan.
"Sih--sihapah kahlianh... Me-mengapah menyerang kamihh.." seorang pria tua yang tengah sekarat mencoba bicara.
Napasnya yang putus-putus seakan tak kuat lagi mengambil oksigen berucap. Di lihatnya para prajurit berpakaian hitam lengkap penutup wajah serta pedang panjang berdiri siaga di setiap rumahnya.
Hingga salah satu di barisan paling belakang, Yero menampakkan wajahnya. Seringai kejinya tak luput untuk ia tunjukkan. "Apa kau masih tak ingat diriku, Pak Tua?"
Melihat siapa yang menjawab membuat napas pria paruh baya itu semakin pendek serta putus-putus. Pria paruh baya itu tak menyangka karma akan mendatanginya secepat ini. Tak ada jalan keluar, tak ada jalan pintas. Semuanya buntu. Pria itu hanya bisa pasrah akan nasibnya yang tak akan lama lagi.
"Putra Mahkota Qiero."
Yero menyunggingkan seringai tipis, "Kau mengingatnya? Mengingat bagaimana dengan teganya kau menyegel Lexus? Memisahkan dariku yang dulunya masih remaja?!"
"KAU INGAT SEKARANG?!" Yero mencengkram rahang pria paruh baya itu dengan jari-jari kukunya yang panjang. Melelehkan cairan merah kental yang menetes pelan.
"Aku menuntut balas atas apa yang kau lakukan pada Lexus juga diriku!" Yero menekankan suaranya. Tak menunggu jawaban juga tanpa belas kasihan Yero mengayunkan kuku panjangnya sekali tebas. Menciptakan percikan darah mengenai wajah juga pakaiannya.
"Matilah di atas keserakahan mu." Yero menatap tajam mayat pria paruh baya yang kepalanya telah terpenggal. Menggelinding jauh terpisah dari tubuhnya.
Melihat tak ada satu pun yang masih hidup. Yero menyunggingkan seringai tipis penuh kepuasan. Dendamnya telah selesai dengan para pemberontak yang sengaja menyegel serigala miliknya di sebuah bangunan yang tak dapat Yero jangkau. Membuatnya lemah dan tersiksa, semua itu karena ulah para pemberontak. Usaha membelot dan menguasai kerajaan miliknya. Tapi tak semudah itu, biar pun Yero kehilangan Lexus. Yero tak akan mati dengan mudah.
Kini, Yero menuntut balas atas apa yang pernah para pemberontak itu lakukan padanya. Hukum alam tetaplah hukum alam, dimana sang kekuatan akan selalu menjadi piramida tertinggi dalam sebuah rantai ekosistem.
Dan sang pemilik kekuatan itu adalah King of Alpha, Yero Vadral Qiero.
"Hanguskan tempat kotor ini tanpa sisa."
"Laksanakan My King!" ujar semua pasukan bayangan dengan menunduk submisif melaksanakan perintah.
Melangkah penuh ketegasan tanpa kenal takut sedikit pun, Yero menyusuri hutan. Setapak demi setapak dirinya lewati, hingga sinar keemasan matahari menyorot berusaha memasuki hutan. Yero berhenti melangkah, di lihatnya hijau hutan serta cantiknya lembah memanjakan mata. Terpaan lembut sinar hangat mentari membuat wajahnya berkilau layaknya berlian.
"Ambisi ku telah selesai. Saatnya aku menepati janjiku padamu, Lexus."
"Menemukan Mate kita."
***