Episode 4 | Terjebak di Dunia Aneh

2971 Kata
Suara gemuruh terdengar begitu keras. Langit yang semula cerah dengan sinar mentarinya seketika tertutup awan kelabu. Gelegar bersahut-sahutan di iringi petir menyentak keras. Suasana berubah menjadi mencekam dan menyeramkan. Burung bersembunyi di sangkarnya yang hangat di sela-sela ranting. Tikus tanah yang mencari makan, memasuki lubang kecil yang menjadi rumahnya. Rusa, kijang, kelinci, dan semua hewan yang tinggal di hutan bersembunyi ketakutan. Tak jauh dari hutan, sebuah pemukiman cukup besar merasakan hal yang sama. Para Ibu segera mencari anaknya yang tengah bermain. Kepala keluarga bergegas pulang, meski pekerjaan belum juga usai. "Ibu!" teriak salah satu anak kecil berusia lima tahun. "Ayo Nak, kita pulang! Sesuatu tengah terjadi, Ibu berharap tidak ada kabar buruk!" Si Ibu menggendong anaknya cepat. Melangkah masuk ke dalam rumah sederhananya. "Pulanglah anak-anak! Di luar tidak aman!" Teriak salah satu penduduk paruh baya yang juga berjalan cepat. Di lihatnya, anak-anak yang berlarian ke rumah masing-masing. Seketika itu pula, keadaan menjadi hening. Senyap seketika. Keadaan luar rumah yang semula terang oleh sinar matahari kini mendadak gelap dengan awan hitam yang menggumpal tebal. Sesekali kilatan petir menyinari tanah, mengejutkan makhluk hidup yang tengah bersembunyi. Semua penduduk bertanya-tanya, ada apa dengan langit yang mendadak berubah menjadi gelap disertai petir yang menggelegar. Berbeda dengan keadaan di luar yang begitu mencekam, di dalam ruangan yang megah dan luas, seorang pria dan keempat prajurit di belakangnya menunduk patuh. Kepalanya menatap lantai tanpa mampu mendongak, telinganya terpasang siaga mendengar titah junjungan mereka. Di hadapan mereka, lebih tepatnya, seorang pria duduk di singgasananya yang besar. Menikmati suara menggelegar di luar sana yang begitu mencekam, memekakkan telinga. Berbeda dengan dirinya yang sangat begitu bahagia. Senyum miring terukir di salah satu sudut bibirnya yang tebal. "Melodi yang indah.." ujarnya. Kemudian di pandangnya satu persatu bawahannya yang masih menunduk patuh. Tanpa suara sedikit pun. "Kalian tau, apa artinya gemuruh di luar sana?" tanya si pria dengan suara yang menakutkan. Kelima pria yang menunduk itu bergetar takut. Sebisa mungkin mereka tetap bersikap tenang, selayaknya prajurit terlatih. "Ampun My King, kami belum mengetahui penyebab kegaduhan di luar sana." Seorang pria diantara mereka menjawab. "Serigala-ku akan segera kembali." Sontak kelima pria yang tengah menunduk itu membulatkan matanya, junjungan mereka, seseorang yang telah lama di segel kini kembali. Terbebas dari belenggu yang dulu sempat merantainya dalam sebuah bangunan kuno di atas langit. Pantas saja, suara gelegar dahsyat muncul tiba-tiba. Kilat petir sahut-menyahut siap menghanguskan apa saja di bawahnya. Kumpulan awan kelabu menutup sinar matahari yang begitu menyengat kulit, dan ketakutan penduduk di sekitar yang merasa nyawa mereka terancam. Semua ini karena 'Alpha' mereka yang telah bangkit. Dari arah luar, suara gemuruh tiba-tiba menghilang. Senyap mendominasi seketika, para prajurit yang menjaga di luar gerbang terpental hingga menghantam kerasnya tembok. Beberapa dari mereka mengerang kesakitan, mulai bersiaga adanya ancaman. "Jangan ada yang menyerang!" teriak sang pria yang mereka panggil, 'My King'. Semua prajurit hanya mampu diam tanpa bergerak. Mata mereka menatap waspada ke arah pintu yang terbuka. Kepulan debu menutup jarak pandang mereka, namun tidak dapat menutupi pandangan sang pria yang terus menyunggingkan senyum miring. "Yero..." suara berat dan serak menyapa di tengah kewaspadaan prajurit. "--Aku kembali." sambungnya. Aura kekejaman menyelimuti saat sosok itu memunculkan wujudnya. Tubuh besar dengan bulu berkilau warna hitam, tatapan mata emasnya yang tajam dan keempat kakinya yang memiliki kuku runcing. Seketika semua prajurit, dan pelayan menunduk submisif kecuali satu orang pria yang masih menatapnya dengan senyum kepuasan. Mereka mengenal aura mendominasi yang telah lama tersegel. "Lexus... Kemarilah!" titahnya pada sosok mengerikan yang berdiri di tengah pintu. Wujud itu berjalan mendekati raga yang memanggilnya, pria yang di panggil Yero itu mengelus surai hitam legam milik Lexus. Ia mengerang nikmat, menyukai usapan lembut pada kepalanya. Lexus. Seekor serigala besar berwarna hitam yang telah lama tersegel di sebuah bangunan kuno diatas langit. Ratusan tahun lalu, Lexus secara paksa di pisahkan dari Yero, human-nya. Yero marah, ia menghancurkan hutan, rumah, dan istananya sendiri hingga porak poranda. Kemarahan Yero berakibat rusaknya ekosistem yang lumayan parah. Hingga pada akhirnya, Yero yang kehilangan wolf-nya sempat putus asa. Yero terpuruk, kehilangan Lexus sama saja seperti mati secara perlahan, begitu pun dengan kemampuan berburunya yang menurun drastis. Hingga pada akhirnya, Yero memutuskan untuk mengasah kemampuannya kembali. Siang malam Yero berlatih, tak pernah mempedulikan kondisi tubuhnya yang luka dan lebam hampir di seluruh tubuh. "Kau tampak lebih kuat dari terakhir kali kita bertemu." ujar Lexus secara memperhatikan tubuh human-nya. "Karena aku adalah Raja." jawab Yero menyombongkan diri. Lexus diam. Ia tak mengomentari ucapan Yero, "Aku ingin meminjam prajurit mu, untuk mencari Mate-ku!" Yero menatap Lexus dalam, "Apa kau sadar apa yang kau katakan?!" Lexus mengangguk dengan kepala serigalanya, "Mate-ku yang membebaskan ku." Sepasang manik Yero menatap Lexus tak percaya. Setelah sekian lama ia menanti, akhirnya terbalas. Apalagi, yang membebaskan Lexus adalah Mate-nya sendiri. Sungguh keajaiban bagi Yero setelah ratusan tahun hidup dalam kesendirian yang menjengkelkan. "Cari dan dapatkan Mate-ku!" perintah Yero mutlak. "Laksanakan My King." jawab semua serentak. Yero menyerahkan tugas pencarian pada Beta-nya yang langsung di komando oleh Lexus. Serigala berbulu hitam mengkilat itu memberikan petunjuk dengan ciri-ciri yang ia sebutkan. Setelahnya ribuan prajurit terlatih keluar gerbang dan melaksanakan tugasnya. Sementara Yero menatap kepergian prajuritnya dari halaman istana. Di sampingnya Lexus berdiri dengan keempat kakinya. Yero menatap Lexus, "Menyatu lah denganku kembali Lexus!" Tanpa berkata apapun, Lexus hilang tanpa jejak. Kini, Lexus telah menyatu dengan tubuh human-nya. Mendiami tempat nyaman yang ratusan tahun lalu tidak dapat ia jangkau karena segel sialan dari pemberontak dan pengkhianat. "Aku ingin mendapatkan Mate-ku secepatnya!" Lexus berujar dalam pikiran Yero yang kini telah menyatu dengan tubuhnya. "Akan kau dapatkan, Lexus. Begitu pula denganku." Yero tersenyum miring, dengan kekuatan Lexus yang telah menyatu dengan dirinya membuat kekuatan Yero kembali. Bahkan Yero dapat mencium aroma candu Mate-nya dalam serigala Lexus. Sungguh menggoda jiwa primitifnya. *** Pertama kali membuka mata, Reno di kejutkan dengan dirinya yang berada di tempat asing. Sangat jauh berbeda dengan hutan yang sempat mereka lewati. Di lihatnya sekitar, Reno mendapati teman-temannya pingsan di atas tanah. Netranya menangkap Eca yang menahan sakit. Reno berusaha bangkit, menjangkau tubuh Eca yang tergelak cukup jauh darinya. "Eca..." Reno melihat luka Eca kembali mengeluarkan darah segar, "Ca, luka lo..." "Gue gak papa, cuma sakit sedikit." jawab Eca lemah. "Wajah lo tambah pucet banget, Ca!" kemudian Reno mendengar erangan dari sebelah Eca, Frans. Tergeletak dengan wajah dan baju yang kotor. "Frans!" "Lo baik?" sambung Reno, ia membantu Frans untuk duduk. Bersandar di salah satu pohon. "Kayanya kaki gue terkilir. Sakit banget!" Reno melihat pergelangan kaki Frans yang membengkak biru. "Masih bisa lo tahan?" Frans mengangguk. "Yang lainnya mana?" Frans bertanya, Reno kemudian tersadar. Betris masih pingsan tak jauh dari jangkauannya, sementara Milly dan Davis telah bangun dari pingsannya. Reno menghampiri Betris untuk memeriksa kondisinya. "Betris..." panggilnya seraya mengguncang bahunya pelan. Tak lama Betris bangun dengan tersentak, ia meraup udara sebanyak-banyaknya. Napasnya sesak tersengal-sengal. Tarikan napasnya pun mulai memberat. "Se-sesak.." Reno panik seketika, ia mendudukkan tubuh Betris pada tubuhnya. "Bernapas pelan Betris... Tarik napas lalu hembuskan perlahan, jangan terburu-buru. Ingat kondisimu, semuanya baik-baik saja. Kau baik-baik saja Betris, jangan khawatir..." Reno membisiki kalimat yang dapat membuat perasaannya tenang. Betris memeluk Reno erat, menenggelamkan wajahnya pada d**a bidang Reno. Sesaat kemudian, terdengar suara tangis dari bibirnya. "Aku takut Ren! Aku takut! Aku baru saja terjatuh, ak-aku mengira aku sudah mati." Kalimat Betris terputus karena napasnya tersengal, meski telah lebih baik. Dari arah yang agak jauh, Milly dan Davis bangun dengan merintih sakit. Milly berusaha bangkit dengan bantuan Davis, meski masih sempoyongan. "Kita ada dimana?" kalimat lirih itu terdengar dari mulut Eca. Setelah menahan sakit karena lukanya yang terbuka, Eca mampu duduk bersandar pada batang pohon yang telah mati di sampingnya. Seakan tersadar, mereka semua mengamati keadaan sekitar. Pohon tinggi besar menjulang. Daunnya masih berwarna hijau dengan kelopak bunga yang jatuh di tanah. Aura mengerikan dan sunyi kental terasa. Membuat bulu kuduk berdiri. Jarak pandang terbatas, karena pohon yang lebat membuat keadaan sekitar menjadi temaram. Bahkan hembusan napas dapat mereka dengar saking sunyinya hutan. Tanah di sekitar mereka di d******i banyaknya lumut hijau. Akar-akar pohon yang mencuat terlihat lebih besar dari ukuran normalnya. Mereka tak mengenal tempat asing seperti ini, hingga suara geraman terdengar memecah kesunyian. Mereka menegang takut, hingga Betris berteriak histeris. "Aaaakkkhhhh!" Di depan mereka, seekor hewan buas berkaki empat menggeram lapar. Gigi-giginya yang tajam penuh air liur dan kotor. Bahkan air liurnya di biarkan menetes jatuh ke tanah dengan aroma busuk yang menyengat. Bulunya terlihat kusut dan kasar, beberapa noda tanah menempel di bulunya hingga mengeras. Sekilas hewan itu mirip dengan anjing, namun dengan tubuh yang lebih besar dari ukuran normalnya. Ekor panjangnya di penuhi bulu, berdiri tegak setara dengan sepasang telinganya yang siaga. Air liur tak henti menetes dari mulutnya, geraman-geraman lapar terdengar bak alunan pengantar kematian. "He-hewan apa itu?" Frans tergagap melihatnya. "Apakah anjing?" Hewan buas itu menggeram kasar ketika melihat pergerakan spontan dari Milly, tatapan maniknya yang tajam begitu menyorot ingin memangsa. "Milly! Hati-hati!" seru Davis. Milly terdiam kaku, pergerakan spontan tampak menyenangkan di mata hewan buas itu. Terbukti dari pergerakan si hewan yang berjalan pelan mendekati Milly. Tegas dan mengintimidasi setiap langkah, Milly ketakutan. Matanya berkaca, pikirannya di landa kekalutan. Eca melihat hewan buas itu mendekati sahabatnya menjadi panik, ia meminta tolong pada Reno untuk menghalau hewan itu mendekati Milly. "Tolong Milly, Ren!" Reno yang juga panik tanpa sengaja melempar hewan itu dengan kayu besar di sampingnya, membuat hewan buas itu menggeram marah. Tanpa aba-aba, hewan buas itu menyerang Reno menggunakan cakarnya yang tajam. Bergerak gesit, Reno menjauh dari jangkauan hewan karnivora itu. Perbuatannya yang melempar kayu menyebabkan si hewan karnivora itu bertindak agresif. Merasa menemukan mainan baru, tanpa takut menyerang beberapa kali dengan cakarnya. Betris menangis ketakutan melihat Reno melawan hewan buas itu sendirian, lalu pandangannya beralih pada Frans yang juga melihat Reno. "Bantuin Reno, Frans!" Betris menarik lengan baju Frans yang masih diam mematung. "Oke, oke! Gue bantuin!" sentak Frans dengan mengambil kayu secara random. Kecerobohan Frans yang menyerang tanpa persiapan berakhir tragis. Belum sempat Frans memukulkan kayu yang ia bawa, ia terkena cakaran di punggung sebab Reno yang tadinya menghindari terkaman hewan buas itu malah mengenai Frans. "FRANS!!" teriak Eca dan Betris secara bersamaan. Menahan sakit, Frans jatuh menghantam tanah. Seketika itu pula, punggungnya mengeluarkan cairan merah kental. Tak terlalu panjang namun cukup membuat Frans lemas kekurangan darah. Sementara di sana, Reno tengah berusaha melawan hewan buas itu sendirian. Tubuh serta pakaiannya kotor terkena lumut dan tanah basah, beberapa bagian wajahnya lebam dan berdarah. Sekuat tenaga Reno kerahkan untuk mengalahkan hewan buas itu, hingga Reno terpental menghantam tanah karena kehabisan tenaga, si hewan buas itu melompat cepat ke arahnya, berusaha menerkam Reno yang mulai kelelahan. Ia memejamkan mata, pasrah jika tubuhnya di jadikan santapan hewan buas itu, setidaknya Reno telah berusaha sekuat tenaga menyelamatkan adik kesayangannya serta teman-temannya. "RENO!" "TIDAK!! RENO!!" Suara cakaran kuku tajam menyentuh kulit secara cepat terdengar ngilu. Di iringi suara pekikan kesakitan yang panjang. Semua pasang mata terbelalak melihatnya, darah merembes dari balik punggung yang semula tertutup pakaian. Luka menganga di tiga bekas cakaran melintang di sepanjang punggungnya. "DAVIS!" "DAVIS!" Pria berkacamata itu rela mengorbankan dirinya dengan menjadi tameng bagi Reno. Melindunginya dari terkaman hewan buas yang kini menatap mereka penuh minat. Suara kesakitan tertahan terdengar meski berusaha Davis cegah. Reno yang berada di bawahnya, menatap syok pada sosok Davis. Tatapan matanya penuh kesakitan, namun senyum tipis ia sematkan pada Reno. Bibirnya terbuka, akan terucap meski bergetar dengan warna yang mulai pucat. "Se-se-lamat-kan... Te-tema-n ki-ta, ak-aku percaya padamu..." tak kuat menahan sakit, Davis menjatuhkan tubuhnya di samping Reno. Reno menatap Davis yang ia perkirakan masih hidup. Lalu beralih pada semua teman-temannya yang menatap sorot ketakutan. Karena tekadnya yang begitu kuat, Reno kembali melawan hewan buas itu dengan sisa kekuatan yang ia miliki. Reno tak akan membiarkan pengorbanan Davis sia-sia. Eca, Betris, Milly dan Frans hanya mampu menatap kebengisan hewan itu terhadap Reno. Mencakar, menendang, menggigit, semuanya di kerahkan untuk melumpuhkan Reno. Hewan menyerupai anjing itu terlihat ganas dengan tubuhnya yang melebihi batas normal anjing lainnya. Reno dan hewan buas itu berguling di atas tanah yang di penuhi lumut, lebam dan luka sayat hampir memenuhi tubuh Reno. Hingga pada akhirnya, Reno yang kehabisan energi kembali terpental menghantam pohon. Bunyi debuman serta suara tulang patah sungguh mengiris hati. Betris menjerit histeris melihat keadaan Reno, apalagi hewan buas itu masih belum menunjukkan tanda-tanda kelelahan atau pun kehabisan tenaga. Stamina hewan buas itu begitu luar biasa. Milly yang berada cukup jauh dari ketiga temannya mencoba memancing hewan buas itu agar tertarik padanya. Gadis bersurai pirang itu mengambil batu cukup besar lantas melempar sekuat tenaga agar mengenai si hewan buas. Dan benar saja, hewan pemakan daging itu merasa tak terima hingga berbalik arah menuju tempat Milly berdiri. "MILLY! APA YANG KAU LAKUKAN?!" jerit Eca. Tanpa menghiraukan pertanyaan Eca, Milly berteriak, "FRANS! BAWA ECA PERGI!!" Eca yang menyadari maksud dari perbuatan Milly menggeleng tak percaya, ia tak ingin Milly mengorbankan dirinya dengan menjadi umpan dari hewan buas itu. Eca tak kuat jika harus melihat sahabatnya sendiri mati demi dirinya, Eca tak sekuat itu. "TIDAK MILLY! Ku mohon jangan lakukan itu!" berurai air mata, Eca memohon. "Setidaknya biarkan aku yang mencoba melindungi kalian saat ini," menatap sahabatnya dalam, menyimpannya agar senantiasa abadi dalam memori ingatannya. "BAWA MEREKA SEMUA PERGI DARI SINI FRANS!!" Sekali lagi, Milly menghantamkan batu pada hewan buas itu, memancing agar ia di jadikan pusat permainannya. Lolongan kemarahan terdengar menggelegar keras ketika batu itu menghantam kepala si hewan, burung-burung terbang menjauh. Suara bising membuat burung-burung terbang ketakutan. Sekuat tenaga Milly berlari menjauhi teman-temannya, menjadikan dirinya umpan agar sahabat serta teman-temannya selamat. Tak menyianyiakan kesempatan, Frans bangkit dan membawa Betris yang berada tak jauh darinya lari secepat mungkin. Setidaknya hingga mereka benar-benar aman untuk saat ini. "TIDAK! MILLY!" Eca berteriak saat melihat hewan karnivora itu mengejar Milly dengan begitu buas. Menerjang apapun yang menghalangi jalannya. Seolah-olah hewan itu harus mendapatkan Milly apapun yang terjadi karena berhasil mengusik kesenangannya. Sementara Eca menangis melihat sahabatnya kembali mengorbankan diri, menjadikan tubuhnya umpan agar hewan buas itu menjauh dari Eca juga teman-teman yang membenci Milly. "Berhenti! Milly!" dalam rasa sakitnya, Eca berusaha mengejar Milly. Namun, tangan kekar menahan pergerakannya. "Kita harus pergi dari sini!" tertatih, Eca menolak pergi. "Gue gak mau! Gue gak mau ninggalin Milly!" "Kita harus pergi Ca!" "Lepas! Gue harus tolongin Milly!" Eca memberontak, melupakan keadaanya yang tengah terluka. "Lepasin gue!" "ECA!" sentak Reno. "Gue gak mau!" Penolakan dengan pemberontakan Eca layangkan, Reno terpaksa menyeret Eca agar mengikutinya. Meninggalkan Davis yang terbaring lemah di tanah. Keadaannya yang mengenaskan tak mungkin mereka bawa bersama mereka. Setidaknya mereka harus selamat dan mencari jalan pulang. *** Tidak ada yang baik-baik saja setelah kejadian beberapa saat lalu. Suasana senja mulai terlihat, sinar matahari tak mampu menembus lebatnya hutan. Hawa dingin menyentuh kulit begitu menusuk. Kabut-kabut putih perlahan turun, menyebabkan jarak pandang mereka terbatas. Sunyi senyap bak tak ada kehidupan, hanya keheningan yang tercipta. Di atas tanah tanpa alas, Eca duduk diam. Matanya menatap kosong, pikirannya penuh akan keadaan sahabatnya. Luka menganga di betisnya tak ia hiraukan, hatinya terasa begitu sesak. Meraup napas rasanya begitu sulit. Air matanya mengalir tanpa henti, begitu deras meski pandangannya kosong tak tentu arah. "Ca..." panggil Reno lirih. Menyentuh pundak lalu mengelusnya sayang, "--Lo harus kuat. Kita harus cari cara supaya kita bisa pulang." "Enggak. Gue gak mau pulang sebelum nemuin Milly!" "Jangan gila lo, Ca!" Betris menyentak keras. "--Kita mau mati dan lo mau balik lagi ke sana cari sahabat lo yang entah mati atau mungkin jadi santapan anjing itu! Gue gak mau mati sia-sia disini!" Eca menatap nyalang Betris, "Lo pikir apa yang di lakuin Milly itu apa? Hah?! Lo buta?" Eca membalas berteriak. "Milly rela ngorbanin dirinya sendiri demi kita. Dan lo bilang, gak mau mati sia-sia? Ini balasan kita? Lo gak punya hati tau, gak?!!" "Eca, udah. Kalian jangan berantem di saat yang gak tepat!" lerai Reno. "Kalian semua gak punya hati! Kalian biarin Davis sekarat di sana, lalu Milly?!" "Dia rela pancing hewan buas itu demi kita, lalu apa balasan kita ke Milly sama Davis?! Apa kalian setega itu biarin mereka mati di tempat mengerikan ini?!" Eca terengah di sela tangisnya, emosinya meledak tanpa ia sangka. Mengeluarkan semua amarah terpendam yang mati-matian Eca tahan. "Setidaknya, biarin gue bawa Milly dan Davis pulang. Meski hanya raga tanpa jiwa." ujar Eca putus asa. Reno terdiam. Begitu pula dengan Betris yang mulai menangis, gadis bertubuh molek itu merasa tertekan. Tak ada apapun yang Betris pikirkan kecuali kembali pulang, meninggalkan hutan mengerikan ini. Frans yang sejak tadi mendengarkan mulai mengangguk, menyetujui ucapan Eca. Frans bersyukur, setidaknya ia masih selamat meski luka cakar di punggungnya terasa begitu menyiksa. "Kali ini gue setuju." "Gue mau pulang. Gue takut di sini." suara bergetar Betris menambahkan. Gadis itu mulai melemahkan suaranya. Nada tingginya menghilang entah kemana. Eca memalingkan wajah saat Reno menatapnya. Wajahnya penuh air mata serta suara sesenggukan sesekali terdengar. "Untuk sekarang, yang bisa kita lakuin adalah cari tempat aman untuk beristirahat. Mencari Milly pun percuma, hari mulai gelap. Disini juga ada kabut, salah-salah kita bisa terpisah." Reno berujar, lalu mengalihkan pandangannya pada pada adik tirinya yang menatap tak terima. "Gue mohon lo ngertiin keadaan kita sekarang Ca. Kita semua terluka, Frans, Betris, gue juga lo. Kita cuma bisa berharap semoga Davis bisa bertahan dan Milly kita temuin dalam keadaan baik-baik aja." "Kita cari tempat aman untuk malam ini." tambah Frans. Menghela napas panjang, Eca menatap keadaan yang membuatnya putus asa. Rasa penyesalan kian mendera, satu persatu kepingan kejadian saat mereka menghadapi hewan buas itu kembali di ingatannya. Andai, Eca menuruti perkataan Milly mengenai ketidaksetujuannya. Andai, Eca mempercayai alasan Milly di balik semua ini. Andai, Eca mau melakukan survei dan mencari tempat kuno yang aman. Andai, Eca menolak usulan dari kakak tirinya mengenai bangunan kuno itu. Andai, andai, andai dan andai. Semua hanya pengandaian yang kini tak berarti. Semua tak akan terjadi. Eca tak akan terjebak di dunia aneh dan mengerikan ini dengan teman-temannya. Dan Eca tak akan pernah kehilangan sahabat terbaiknya, yaitu Milly. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN