1. Bertemu Teman Lama
Kesal, kesal, kesal! Sekarang aku sedang kesal pada bunda. Kenapa kali ini bunda tidak mengerti keinginanku? Padahal hari ini aku sudah ada janji bersama teman-teman untuk bertemu di luar, tapi dengan seenaknya, bunda malah menyuruhku membatalkan janji tersebut, lalu memintaku ikut ke acara arisan.
What? Arisan? Yang benar saja. Masa anak remaja sepertiku mesti ikut acara ibu-ibu? Ada apa sebenarnya dengan bunda? Selama ini, dia tidak pernah memaksa seandainya aku tidak suka. Lalu, kenapa sekarang bunda memaksaku untuk ikut? Ke acara arisan pula. Ah, merusak mood-ku saja. Berantakan, kan jadinya.
“Naf! Nafisa?”
Ada apa lagi bunda memanggilku? Belum cukupkah dia membuatku terjebak dalam mood buruk ini? “Iya Bunda, ada apa,” sahutku, malas.
Sekian detik kemudian, bunda masuk ke kamarku sambil menenteng sebuah gamis di tangan. “Belum siap-siap?”
Aku menggeleng. “Aku ragu, harus ikut atau tidak."
"Naf, bunda 'kan sudah bilang, mau tidak mau, kamu harus ikut. Titik. Bunda tidak menerima penolakan apa pun."
"Tapi untuk apa, Bun? Bunda di sana mau arisan, masa iya aku harus menyaksikan sesuatu yang pasti akan membuatku bosan. Bun, please! Jangan seperti ini. Aku tidak cocok dengan kebiasaan kalian, para ibu-ibu."
Bunda tampak menghela napas, pelan. "Sebenarnya, nanti acaranya bukan hanya sekadar arisan. Sebelum itu, tuan rumah akan mengadakan selamatan dulu, atas suksesnya perusahaan yang dikelola anaknya."
"Lalu apa hubungannya denganku, Bunda?" Aku mulai meradang, merasa tidak puas atas penjelasan bunda.
"Ya ... pokoknya kamu ikut saja, nanti juga akan tahu."
"Kalau Bunda tidak memberi alasan yang jelas, jangan harap aku akan ikut."
"Naf!" Nada bicara bunda mulai naik satu oktaf. "Jangan memancing amarah Bunda. Lagi pula, selama ini Bunda selalu menuruti keinginanmu. Kali ini Bunda hanya memintamu ikut sebentar, apa susahnya menurut?"
Nyaliku seketika menciut. Kalau sudah melihat bunda marah seperti itu, mana bisa aku menolak. "Ya sudah, aku ikut," tandasku, pada akhirnya.
"Bagus. Ambil ini, untuk kamu pakai nanti ke acara teman Bunda." Aku melongo saat bunda menyodorkan gamis lengkap dengan hijab lebarnya.
"Ya ampun, Bunda, yang benar saja? Masa aku harus memakai pakaian besar seperti itu? Bunda tahu sendiri 'kan, kalau selama ini aku tidak pernah berpakaian tertutup?"
"Kali ini, harus mulai dibiasakan."
Aku mengernyit heran, atas sikap bunda yang tidak seperti biasanya. "Sejak kapan bunda agamis seperti ini? Kalau Bunda memaksaku untuk memakai baju kebesaran itu, aku lebih baik tidak jadi ikut. Lagi pula, Bunda 'kan tahu kalau hari ini aku ada janji dengan teman sekolah, jadi lain kali saja aku ikut ke acara teman Bunda itu.”
“Kan, Bunda sudah bilang, kamu batalkan janjimu dengan teman-teman. Karena Bunda tahu acaranya tidak terlalu penting. Kalau alasanmu hanya karena ingin bertemu mereka, besok juga kalian bisa bertemu di sekolah.”
Bibirku terkatup rapat. Rasanya lidahku sudah malas saat ingin menimpali perkataan bunda. Aku hanya menatapnya sekilas, selebihnya langsung memalingkan wajah begitu saja.
“Sudah, sekarang kamu pakai dulu gamisnya, ya. Bunda tunggu di luar. Ini, pakai.”
Aku masih belum menerima gamis yang disodorkan bunda. Wajahku malah memasang raut bingung. Benarkah aku harus memakai gamis? Yang benar saja. Seumur hidup di dunia ini, belum pernah aku memakai baju-baju seperti itu.
Apalagi, bunda menyuruhku memakai gamisnya. Oh, Tuhan! Pasti aku akan terlihat seperti ibu-ibu. Ya, walaupun tubuhku hampir sebanding dengan bunda, tapi tetap saja aku tidak terbiasa memakai pakaian dan hijab lebar itu.
“Kok bengong, ayo diambil. Sebentar lagi kita berangkat.”
“Bun, memang sangat diharuskan, ya, memakai gamis dan hijab besar itu? Aku rasa, semua itu tidak akan cocok di tubuhku."
Tatapan bunda berubah tajam. "Naf, kamu belum mencobanya, jadi kamu belum tahu ini cocok atau tidak. Lebih baik dicoba dulu, baru nanti berkomentar," desaknya semakin menajamkan pandangannya.
"Mmm, ukuran kerudungnya, apakah tidak ada yang lebih kecil daripada itu?”
Sebelum menjawab, terlebih dahulu bunda mengulas senyum. “Ini modelnya memang seperti ini, Sayang. Ini namanya hijab syar’i. Kalau kamu memakai hijab ini, Insya Allah, lekukan tubuhmu yang biasanya tampak akan tertutup.”
“Tapi Bun, tubuhku langsing, semampai. Kalau pakai kerudung sebesar itu, nanti aku malah akan terlihat seperti ondel-ondel.”
Bunda malah terkikik saat aku kembali mengeluarkan protes. Lantas, tangannya mengelus puncak kepalaku. “Kata siapa kamu akan seperti ondel-ondel kalau pakai ini?"
"Kataku, barusan."
"Kamu belum mencobanya, Sayang, jadi mana tahu hasilnya? Sekarang, dicoba dulu, baru nanti berkomentar. Sudah ah, cepat kamu siap-siap, ini sudah pukul delapan, sebentar lagi acaranya dimulai.”
Dengan ragu ku ambil alih gamis dan hijab dari tangan bunda. Sepertinya saat ini aku harus benar-benar merelakan rencanaku gagal karena bunda. Setelah bunda pergi, aku tak langsung berganti pakaian. Yang ku lakukan malah asyik menatap diri di pantulan cermin. Mengira-ngira jika aku memakai pakaian seperti ini, apakah akan cocok? Baiklah, dicoba dulu. Mudah-mudahan saja tidak cocok, jadi aku punya alasan untuk tidak jadi ikut ke acara temannya bunda itu.
“Ayo Naf, sudah selesai?” Bunda kembali menyusulku saat aku sudah selesai berganti pakaian. Bukannya masuk kamar, ia malah berdiri di ambang pintu sambil memerhatikanku dari arah cermin. Sepertinya bunda tertegun melihat penampilanku yang....
“Masya Allah, tuh 'kan, Bunda bilang juga apa, kamu pangling pakai pakaian seperti ini, cantik,” katanya sambil berjalan mendekatiku.
Bukankah aku memang sudah cantik dari lahir? Begitulah sisi narsisku berkata. Dan ... seperti yang dikatakan bunda, aku memang pangling saat berpakaian tertutup seperti ini. Itu artinya ... apakah aku harus ikut dengan bunda? Ya sudahlah, kali ini saja. Sesekali menyenangkan orang tua sepertinya tidak masalah.
*****
Aku terbengong saat menyaksikan gedung megah di depan sana. Bukan, itu hanyalah sebuah rumah yang terletak di kawasan perumahan elit. Bangunannya, tak jauh beda dengan rumah lainnya yang ku temui saat di jalan menuju ke sini, tapi rumah ini, menurutku yang paling mewah. Sungguh, aku tak menyangka jika bunda sekarang sudah menjadi ibu-ibu sosialita. Temannya saja sampai memiliki rumah yang halamannya sudah seperti lapangan golf.
Begitu mobil berhenti di halaman parkir, aku tak langsung turun.
"Ayo, Naf, turun," perintah bunda, sambil sesekali merapikan penampilannya.
"Bun, kunci mobilnya aku saja yang pegang."
"Tidak. Bunda sudah tahu apa yang ada dalam pikiranmu," balasnya seraya memasukkan kunci mobil ke dalam tas. "Mau mencoba kabur, 'kan?"
Sesaat aku tertegun, tapi buru-buru ku tampik tuduhan bunda. "Mana ada, Bun, Bunda 'kan tahu aku tidak bisa mengendarai mobil, jadi bagaimana mau kabur?"
"Iya juga, ya?" Bunda tampak berpikir. "Tapi biar Bunda saja yang pegang kuncinya, tidak perlu repot-repot kamu yang pegang," pungkasnya, membuatku geram.
Sungguh sangat di sayangkan, aku tidak bisa membawa kabur mobil bunda. Padahal tadinya aku berharap rencana kali ini bisa sukses, tapi ternyata sama saja. Selama ini, bunda memang tidak tahu kalau aku diam-diam sering belajar mengendarai mobil. Rena sahabatku yang jadi mentornya. Hanya memerlukan beberapa bulan saja, aku sudah mahir dalam berkendara. Sayangnya, kemahiran ku dalam berkendara tidak dimanfaatkan karena bunda tahunya aku tidak bisa mengendarai mobil.
"Naf, ayo turun." Aku terperanjat. Melihat bunda sudah keluar dari mobil, aku pun lekas menyusulnya. Lagi, mata ini tak bosan menelisik halaman rumah yang setiap sudutnya ditanami berbagai pohon. Menjadikan suasana di rumah ini tampak asri. Sungguh luar biasa. Jika halamannya saja sudah seindah ini, bagaimana dengan isi di dalam rumah itu? Apakah akan seperti istana?
“Naf, kenapa bengong. Tante Selma bertanya kok tidak dijawab?” Aku tersentak saat telapak tangan bunda mendarat di bahu. Saking khusyuknya memerhatikan rumah mewah itu, aku sampai tidak menyadari kalau ada seseorang yang berdiri di depanku, entah sejak kapan. Dia memberikan senyum hangatnya padaku, sontak aku pun ikut menyunggingkan bibir. “Kamu masih ingat Tante Selma?” Bunda kembali bertanya.
Oh, ternyata namanya Selma. Tapi, siapa dia, kenapa bunda malah bertanya seperti itu padaku? Dengan perasaan canggung, akhirnya aku menggeleng pelan. “Sudah kuduga, Tik, Nafisa pasti tidak ingat. Secara waktu aku pindah, dulu usianya masih 4 tahun, jadi wajar kalau tidak ingat. Eh, tapi kamu masih ingat dengan Ridho, anak Tante? Teman main kamu waktu rumah kita masih tetanggaan.”
Untuk yang kedua kalinya aku menggeleng saat Tante Selma menyebut nama yang sangat asing di telingaku. Jujur, aku benar-benar tidak mengerti apa yang Tante Selma katakan. Aku hanya bisa menyimpulkan bahwa Tante Selma ini sepertinya teman bunda, itu saja.
“Tidak apa-apa kalau kamu tidak ingat.” Menanggapinya, aku hanya tersenyum canggung, merasa tak enak. Kemudian, arah pandang Tante Selma beralih pada bunda. Lantas kembali berujar, “Tik, lain kali kita adakan lagi pertemuan, sekalian ajak Nafisa, nanti aku ajak Ridho juga supaya mereka bisa bertemu. Aku yakin, Ridho akan merasa pangling saat melihat Nafisa versi remaja. Dia tidak akan menyangka kalau Nafisa kecilnya sekarang sudah menjelma menjadi bidadari yang begitu cantik.”
Aku mesem-mesem tidak jelas. Mendapat pujian seperti itu, memang sudah biasa. Tapi aku tidak bisa terlihat angkuh di depan orang yang baru ku temui ini. Untuk itu, ku tundukkan saja kepala, menyembunyikan rasa bangga dalam d**a.
“Ya sudah, ayo masuk, acara selamatannya sudah mau dimulai. Ngobrolnya kita lanjutkan nanti.”
Aku mengangguk hormat saat Tante Selma menggiringku untuk segera masuk ke rumah megahnya. Kami bertiga pun berjalan beriringan, menaiki setiap undakan tangga yang di setiap sisinya terdapat pot berukuran besar. Belum sampai di depan pintu, dering ponsel yang berbunyi menghentikan langkah. Ku rogoh benda pipih persegi panjang itu dari dalam tas. Saat melihat layar yang menampakkan nama si pemanggil, dengan sungkan aku berkata, "Bun, izin angkat telepon dulu, ya?"
"Dari siapa?" Tanya bunda, dengan tatapan menginterogasi.
"Rena," ucapku sedikit berbisik.
Setelah menatap sekilas pada Tante Selma, akhirnya bunda memberiku izin. Walau sepintas ku lihat ada rasa tak enak yang terpancar dari matanya. Namun aku tak terlalu memperdulikan.
"Kalau begitu, Tante dan Bundamu masuk lebih dulu, nanti kamu menyusul saja, ya?"
"Baik, Tante."
Selepas keduanya masuk, aku langsung berlari, sedikit menjauhi pintu masuk. "Kenapa, Ren," sapaku begitu panggilan terhubung.
"Naf, kamu serius gak mau ikut acara kali ini?"
Aku tercenung. "Sebenarnya ingin, tapi kamu tahu sendirilah, ibunda ratu kalau udah berdakwah seperti apa. Aku malas berdebat dengannya."
Bukan hal baru jika bunda dan aku sering berselisih. Jadi wajar, jika aku berkata seperti itu pada Rena, karena sahabat baikku itu jelas sudah tahu seperti apa hubunganku dengan bunda. Kami sama-sama keras kepala, dan terkadang, jika menurut bunda apa yang ku tentang bukanlah hal buruk, dalam artian aku menentang hal baik, sudah jelas bunda tidak mau mengalah.
"Tapi biasanya Bundamu selalu mengizinkanmu pergi, kalau aku juga ikut."
"Entahlah, aku juga gak ngerti kenapa kali ini Bunda malah melarang, dan membuatku terjebak di tengah acara yang sepertinya akan sangat membosankan."
"Memangnya acara apa?"
"Gak tau," jawabku seadanya.
Riuh suara anak-anak yang tengah bersenda gurau mulai terdengar di seberang sana. Aku yakin, mereka di sana pasti sedang bersenang-senang, dan sialnya di sini aku begitu nelangsa. Mendengar orang-orang yang mulai menggemakan namaku, aku semakin ingin melarikan diri dari kungkungan ini. Andai aku memiliki kekuatan untuk berpindah tempat tanpa harus naik kendaraan, pasti sudah ku lakukan sejak tadi.
"Naf, dengar, 'kan? Anak-anak ingin kamu datang. Kamu yakin, gak mau ke sini?"
Ku matikan panggilan secara sepihak, tanpa menjawab lagi perkataan Rena. Ah, rasanya aku ingin meledak! Ya, ingin sekali aku meledakkan amarah yang sudah penuh di atas kepala.
Tanpa berpikir lagi, aku langsung pergi meninggalkan halaman rumah.
*****