“Lepas Ngga, sakit!” ucap Dinar disertai ringisan tertahan.
Seketika Angga melepas cengkeraman pada lengan Dinar. Angga terlalu emosi sampai ia tidak sadar telah menyakiti Dinar.
“Apa yang udah lo lakukan sama cowok sialan itu?” tanya Angga sekali lagi
“Jawab, Din?” kali ini intonasi suara Angga lebih rendah namun tak menghilangkan kesan tegas. Dinar menelan ludahnya bulat-bulat sambil mundur satu langkah ke belakang. Dinar merasa seperti dihakimi oleh bapak Malik, ayahnya sendiri. Sial!
“Han-hanya peluk sama ciuman doang, Ngga. Nggak aneh-aneh,” jawab Dinar cepat dalam satu tarikan nafas.
“Sueerrr!!!” tambahnya lagi sambil mengacungkan jari tengah dan jari telunjuknya ke udara menyerupai huruf ‘V’.
“Nggak digrepe-grepe?” Angga menatap Dinar dengan mata menyipit sambil maju satu langkah membuat Dinar mundur ke belakang hingga punggungnya menyentuh tembok. Sebenarnya Angga ingin menanyakan kenapa pakaian Ardi bisa ada di kos Dinar namun justeru pertanyaan lain yang keluar dari mulutnya.
Dinar memejamkan matanya sejenak ketika kedua tangan Angga bergerak kemudian jatuh di kedua sisi tubuhnya bertumpu pada tembok. Mengungkungnya.
“Emm, itu gu-gu-.”
Sial! Dari jarak yang sedekat ini Dinar dapat merasakan sapuan hangat nafas Angga membelai pipinya dan mencium aroma keringat bercampur parfum cytrus yang memabukkan milik Angga. Entah mengapa otak Dinar mendadak nge blank. Perlahan ia membuka matanya membuat manik coklat terang miliknya menatap tepat manik hitam milik Angga.
“Apa, Din?”
Dinar menggaruk belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal sambil berpikir.
“Gue-,”
“Gue tahu, Din,” potong Angga cepat. Entah mengapa tiba-tiba saja Angga tidak siap mendengar jawaban yang keluar dari mulut Dinar. Ia beringsut mundur ke belakang. Sekilas kedua bahunya terangkat, ia mendesah.
“Gue harap lo bisa jaga diri lo, gue hanya nggak mau lo sampe kebablasan, Din.”
Dinar mendesah lega saat Angga sedikit berjarak darinya sebelum kemudian mengangguk faham. Bagaimana pun ia tahu jika kedua orang tuanya menitipkannya pada Angga untuk menjaganya.
“Udah buru lo mandi gue udah laper ini." Kembali Dinar mengulurkan pakaian milik Ardi.
“Gue ganti pakai baju lo aja, ogah gue pakai baju cowok sialan lo itu.”
“Ribet banget sih jadi cowok,” sungut Dinar. Dinar kembali memasukkan pakaian milik Ardi ke dalam lemari plastik warna biru bermotif kartun Donald Duck di setiap pintunya. Kemudian mengambil celana trining dan juga satu-satunya kaos over size miliknya lalu menyerahkan kepada Angga.
“Nih.”
“Thank you, dalamannya nggak da ini,” tanya Angga dengan ekspresi jail. Hilang sudah ekspresi menakutkan di wajah Angga.
“Nggak! Udah sana,” jawab Dinar tidak santai sambil mendorong tubuh Angga.
*
“Mau makan di mana?” tanya Angga sedikit mengeraskan suaranya karena saat berangkat tadi Dinar tidak mengatakan tujuannya ingin makan malam di mana. Dengan santai Angga mengendarai motornya membelah jalanan ibu kota yang masih ramai. Banyak kendaraan yang berlalu lalang memenuhi jalan raya.
“Angkringan depan itu aja Ngga,”
Tunjuk Dinar pada sebuah angkringan bebek goreng berjarak sekitar satu meter dari tempatnya saat ini. Angkringan itu tampak sangat ramai oleh pengunjung, tentu saja sebab saat ini masih jam makan malam.
“Enak nggak?”
“Nggak tahu juga sih, anggap aja enak, Ngga,” kata Dinar santai sambil nyengir.
“Ck.”
Angga memelankan laju motornya sebelum kemudian membelokkan motornya masuk pelataran parkir angkringan.
“Ramai banget, Din. Udah pasti lama ngantrenya. Lo yakin kita mau makan di sini?” ucap Angga sambil memutar kunci motornya, seketika mesin motor itu pun mati.
Dinar turun terlebih dahulu, melepaskan helm di kepalanya lalu memberikannya pada Angga sebelum kemudian menjawab pertanyaan Angga.
“Yakin, Ngga. Ayo buruan turun.” Tangannya menarik-narik kaus Angga seperti seorang anak yang meminta jajan pada orang tuanya.
Dengan santai Angga turun dari motornya setelah sebelumnya menaruh helm pada stang motor. Sebenarnya bukan Angga banget harus mengantre berjam-jam demi satu piring makanan. Tapi demi Dinar, Angga akan bersabar. Hehehe
Setelah memastikan motornya telah terparkir dengan sempurna. Angga dan Dinar pun melangkah bersama menuju angkringan. Melewati jejeran motor yang tertata rapi sembari bercerita. Sesekali diselingi tawa keduanya ketika yang dibicarakan terdengar sangat konyol. Suasana di angkringan malam ini memang sangat ramai. Terlihat dari meja-meja yang sudah penuh.
“Lo cari tempat duduk biar gue yang pesen makanan,” titah Angga saat langkah mereka sudah sampai di angkringan.
Dinar mengangguk membiarkan Angga memesan makanannya. Sementara ia mencari meja yang masih kosong. Pandangannya menyapu tiap sudut angkringan yang sudah di penuhi pengunjung. Benar-benar sangat ramai. Pasti bebek gorengnya enak banget sampai ramai seperti ini. Begitu pikir Dinar. Cacing-cacing di perut Dinar semakin riuh berdemo meminta makan.
Setitik senyum muncul di kedua sudut bibir Dinar ketika ada pengunjung yang beranjak dari duduknya. Duduk lesehan khas sekali makan di angkringan.
Dengan antusias Dinar membawa langkahnya untuk duduk di sana sembari menunggu Angga namun, tiba-tiba saja Dinar menghentikan langkah kakinya saat ia melihat Ardi sedang menikmati makan malam dengan seorang gadis Tampak sesekali kedua orang itu tertawa hangat, terlihat sangat akrab. Dan seperti pasangan yang sudah lama saling mengenal bukan karena perjodohan seperti yang Ardi katakan padanya. Dinar bergeming di tempatnya berpijak. Di sisi tubuhnya kedua tangan Dinar mengepal. Dadanya terasa sesak.
“Din, udah dapat tem-,” ucapan Angga mengambang di udara saat ia melihat Ardi sedang bersama seorang gadis. Calon istrinya mungkin. Angga tidak mau peduli yang ia pedulikan saat ini adalah Dinar, sahabatnya.
Mendengar suara yang sangat familier di telinganya, Ardi yang sedari tak sadar akan kehadiran Dinar pun mendongak, seketika kedua bola matanya melebar. Betapa kagetnya Ardi saat ia melihat Dinar dan Angga sudah berdiri di hadapannya. Menatapnya dengan sorot mata berbeda. Sorot kecewa milik Dinar. Dan tatapan tajam milik Angga yang seolah membunuhnya.
“Din,” lirih Ardi.
“Kita balik aja, Ngga.”
Mengabaikan panggilan Angga, Dinar memutar tubuhnya dan melangkah cepat keluar angkringan. Tak bisa dibendung lagi air matanya pun jatuh.
“Din, tunggu!!!” seru Ardi sambil beranjak dari duduknya namun perempuan itu menahannya.
"Kakak, kamu mau ke mana?”
“Kamu tunggu bentar.”
Ardi perlu berbicara dengan Dinar.
“Din, Dinar...!!” teriak Ardi seolah tak peduli pada tatapan para pengunjung. Ia terus melangkah mengejar Dinar akan tetapi langkahnya harus terhenti ketika Angga mencekal pergelangan tangannya. Dan...
Satu bogeman mentah mendarat di pipi kiri Ardi membuat suasana di dalam angkringan itu mendadak tegang.
"Kaakkk!!!” pekik perempuan itu ketika melihat tubuh Ardi tersungkur karena tak siap dengan pukulan Angga.
“Gue pastikan lo akan menerima lebih dari ini jika lo berani nyakitin Dinar,” ucap Angga dingin penuh peringatan sebelum kemudian ia bergegas mengejar Dinar yang sudah berada di luar angkringan.