Ami, Mika, gue sama Sella balik dulu ya," pamit Dinar pada dua rekan sesama SPG-nya. Dinar bekerja sebagai Sales Promotion Girl di salah satu pusat perbelanjaan di pusat kota. Hari ini Store cukup ramai membuat Dinar dan teman-temannya sedikit lebih sibuk. Saat ini jam kerja Dinar telah selesai. Sebab Dinar mendapat jadwal shift pagi. Ia akan bekerja dari pukul sembilan pagi sampai pukul lima sore.
Dinar hanya tamatan sekolah menengah atas. Setelah lulus sekolah Dinar memilih bekerja di kota untuk mambantu kedua orang tuanya yang hanya seorang buruh tani di kampungnya.
"Sipp, tiati ya beb," jawab Ami.
“Kalian berdua baik-baik ya, gue tinggal dulu, dadaahh... Jangan Rindu ya!” Sella melambaikan tangannya sambil terkikik geli. Sella partner kerja yang selalu bertingkah konyol membuat suasana store semakin berwarna karena keberadaan gadis manis itu. Gadis itu merangkul pundak Dinar.
"Idih ogah banget gue rindu sama lo, uwheeek,” jawab Mika dengan ekspresi jijik ingin muntah yang mana hal itu membuat teman-temannya tertawa.
Usai mengambil tas di lokernya Dinar dan Sella bergegas keluar gedung dengan enam lantai tersebut menuju lift karena store tempat Dinar bekerja berada di lantai tiga. Dinar lebih suka menggunakn lift untuk sampai di lantai dasar dari pada menggunakan eskalator. Sore ini mall tampak ramai seperti biasa. Sembari berjalan Dinar membuka ponselnya saat dirasa satu notifikasi chat masuk ke dalam ponselnya.
Angga: Din, sorry gue nggak bisa jemput. gue ada lembur hari ini. Gue udah pesenin ojol buat lo. Naik ojol nggak papa ya sekali-kali.
Dinar mengulas senyum geli melihat balasan chat Angga yang ia kirimkan siang tadi. Jemarinya bergerak lincah di atas layar, mengetikan balasan untuk Angga.
Gue : Ok. Semangat lembur Angga, cari duit yang banyak buat nraktir gue. Hehehee
Tanpa menunggu balasan dari Angga, Dinar pun memasukkan kembali ponselnya ke dalam tasnya sembari terus melangkah bersama Sella sembari bercerita. Mereka berjalan melewati jejeran store menuju lift.
Angga adalah sahabat juga seseorang yang sudah Dinar anggap sebagai kakak laki-lakinya meskipun usia mereka bersua hanya terpaut beberapa bulan. Tentu saja kakak yang sangat baik bagi Dinar. Angga dan Dinar bersahabat sejak masih sekolah menengah atas. Angga sangat perhatian padanya dari saat ia masih sekolah sampai sekarang. Angga selalu berusaha menguatkan Dinar jika gadis itu mendapat masalah. Sementara Angga sendiri bekerja di sebuah perusahaan periklanan sembari mengambil kuliah malam.
Dinar bernafas lega saat langkahnya sudah sampai di luar gedung mall, ia memejamkan matanya sejenak menghirup dalam-dalam udara bebas sore hari. Ia harus berpisah dengan Sella karena gadis bar-bar itu sudah dijemput oleh kekasihnya. Tiba-tiba Dinar merindukan seseorang yang selama ini sering menjemputnya pulang kerja. Dinar mengembuskan nafas kasar ketika mengingat hubungannya dengan Ardi saat ini yang entah mau dibawa kemana.
“Gue pasti bisa.” Dinar menyemangati dirinya sendiri sambil mengedarkan pandangannya mencari sosok tukang ojol yang dipesankan Angga untuknya.
Namun bukannya tukang ojek online yang Dinar lihat melainkan sosok pria yang ia rindu. Pria yang selama hampir dua minggu ini ia hindari. Tampak pria itu bersandar di badan mobil dengan tangan yang berlipat d**a memandang ke arahnya. Dengan sorot mata yang tidak bisa Dinar definisikan.
Tidak seperti biasanya yang selalu tampil rapi dengan setelan kantornya yang selalu melekat sempurna di tubuh tegapnya. Sore ini pria itu terlihat lebih kusut dan sangat berantakan tetapi tidak sedikit pun mengurangi kadar ketampanannya.
Ardi tetap mengeluarkan senyum terbaiknya saat melihat gadis yang ia cintai berada di depan matanya. Hampir dua minggu Dinar mengabaikannya dan terus menghindarinya. Tapi tidak untuk kali ini Ardi tak akan melepaskan Dinar begitu saja.
Menyadari jika Ardi berada beberapa langkah darinya saat ini dan melempar senyum ke arahnya segera Dinar memutar langkahnya dan melangkah cepat meninggalkan pria itu akan tetapi dengan langkah lebarnya Ardi yang tak sebanding dengan langkah kaki Dinar dalam sekali raih Ardi bisa menahan pergelangan tangan Dinar.
"Din, tunggu!!"
"Lepas, Kak!!" seru Dinar parau sambil menahan agar matanya tidak mengeluarkan air mata sambil menyentak tangannya yang tentu saja hanya sia-sia karena pergelangannya erat digenggam Ardi.
Selama hampir dua minggu ini Dinar menghindari Ardi namun perasaannya pada Ardi tetaplah sama. Ia masih sangat mencintai Ardi. Ia pun rindu pelukan hangat seorang Ardi. Namun ia harus sadar diri.
"Kita perlu bicara, Din?" ujar Ardi.
"Nggak ada yang perlu dibicarakan lagi kak, semua sudah jelas dan kita sudah selesai." Rahang Ardi mengeras memperlihatkan urat-uratnya yang menonjol. Matanya berkilat marah tidak terima jika Dinar mengatakan kalau mereka telah selesai. Ia semakin mengeratkan genggaman pada pergelangan tangan Dinar membuat Dinar meringis karenanya.
"Nggak pernah ada kata selesai di antara kita, kamu tahu itu aku sangat mencintaimu Dinar,” ucap Ardi begitu datar namun terdengar sangat dalam.
"Nggak usah berbicara cinta jika kamu sendiri tidak tahu apa itu artinya cinta. Bagiku kita udah selesai saat kamu menerima perjodohan orang tuamu dan menolak permintaan orang tuaku,” jawab Dinar menohok.
“Sekarang tolong lepas, aku mau pulang," mohon Dinar. Hampir saja Dinar menangis kalau saja ia tidak sadar berada di mana sekarang. Ardi dengan segala keras kepalanya dia tidak akan melepas Dinar sekali pun gadis itu harus menangis di hadapannya.
“Aku nggak akan melepasmu sebelum kamu mendengar penjelasanku.”
Dinar berulang kali mengeluarkan nafasnya. Ingin sekali Dinar mencakar wajah ganteng Ardi dengan kuku-kuku cantiknya.
“Fine." Akhirnya Dinar pun mengalah. Memohon pun rasanya percuma yang ada mereka hanya menjadi tontonan gratis orang-orang yang lewat. Sejujurnya Ardi tidak tega melihat orang yang dia cintai menangis karenanya.
“Apa yang mau kamu jelaskan padaku?” setelah beberapa menit saling diam, Dinar pun buka suara. Dinar ingin segera masalahnya dengan Ardi cepat selesai sehingga ia tidak berlama-lama dengan Ardi. Saat ini Ardi dan Dinar sudah berada di dalam mobil. Ardi menoleh sejenak ke arah Dinar yang memandang lurus ke depan lalu kembali fokus pada kemudinya. Sore ini jalanan cenderung ramai.
Ardi mengemudikan mobilnya dengan santai. Ia ingin menahan Dinar lebih lama lagi di sisinya.
“Kita makan dulu, baru aku akan menjelaskannya padamu.”
“Aku nggak lapar.”
“Aku lapar, temani aku.”
Dinar memilih diam sambil melempar pandangannya ke luar jendela mobil. Toh meskipun ia menolak Ardi tidak akan mengabulkannya. Jadi lebih baik diam. Menguras energi saja. Selang tak berapa lama mobil yang dikendarai Ardi pun berbelok lalu berhenti di sebuah restoran. Ardi membukakan pintu mobil untuk Dinar. Lalu menuntun Dinar masuk ke dalam restoran. Sesampainya di dalam restoran Ardi langsung memesan makanan.
Dia hanya memesan makanan untuknya karena Dinar benar-tidak mau makan bersamanya. Namun Ardi memesankan satu porsi makanan kesukaan Dinar untuk bisa di bawa pulang Dinar.
Sesekali Dinar melirik Ardi yang semangat mengunyah makanan dengan sangat lahap. Melihat cara makan Ardi yang begitu bar-bar membuat Dinar berpikir jika kekasihnya itu tidak makan berhari-hari.
Kekasih? Masihkan Ardi itu kekasihnya.
“Kamu beneran nggak makan?” tanya Ardi di sela suapannya. Dinar menggeleng lalu kembali mencuri pandang ke arah Ardi. Pria itu tampak sangat kacau. Garis rahangnya ditumbuhi bulu-bulu halus.
“Nggak usah lirik-lirik, kamu bisa memandangiku sepuasnya.”
Dinar tersedak ludahnya sendiri mendengar ucapan santai Ardi. Dia seperti maling yang tertangkap basah.
Ardi meraih telapak tangan Dinar, lalu menggenggamnya. Ia menatap manik Dinar Dengan sangat lekat.
“Din, aku cinta sama kamu, aku sayang sama kamu, dan aku nggak mau kita selesai. So please, untuk saat ini kita seperti ini dulu. Mamaku sakit Din, aku nggak mungkin menolak perjodohan itu.”
Dinar tidak bisa berpikir lagi semuanya terlalu rumit. Satu sisi Dinar sangat mencintai Ardi tapi jika ia memilih terus bersama Ardi bukankan dia gadis yang egois.