Chapter 5

2941 Kata
Shabrina menghembuskan napas keras dan menatap awan di langit dengan pandangan menerawang. Gadis itu membiarkan angin memainkan rambutnya, hingga sebagian wajahnya tertutup. Sesekali, Shabrina menyingkirkan rambut itu dari wajahnya, agar dia bisa fokus melihat langit biru dan awan putih, yang seolah berkejaran di atas sana. Dan untuk yang tak terhitung lagi, gadis itu kembali menghembuskan napas keras.             Ada sesuatu yang berdenyut di dadanya. Sakit. Sangat sakit. Bahkan rasa sakit itu terlalu menyerangnya, hingga Shabrina tanpa sadar menitikan airmatanya. Dia sudah berusaha untuk tidak menangis, tapi, semua diluar kuasanya. Airmata sialan itu lebih memilih untuk jatuh membasahi pipinya daripada harus diam bersembunyi di kedua matanya.             Apa yang sedang dipikirkan oleh teman-teman sekelasnya saat ini tentang dirinya? Apa mereka sedang asyik menggosipkan dirinya karena tiba-tiba berlari keluar kelas sambil menangis hanya karena mendengar ucapan Victor?             Shabrina memejamkan kedua matanya dan meresapi hembusan angin di wajahnya. Kesejukan langsung mengalir di tubuhnya. Saat ini, gadis itu memang sangat membutuhkan udara segar dan oksigen untuk membantunya bernapas dengan benar.             Victor... apa dia harus mengucapkan kalimat menyakitkan tadi? Apa laki-laki itu harus berkata demikian? Shabrina tahu, bahkan sangat tahu, Victor hanya menganggapnya sebagai seorang sahabat, tidak lebih. Tapi... demi Tuhan... haruskah kata-kata sialan itu terucap dari bibir orang yang sangat Shabrina sayangi?             “Apa gue salah kalau gue suka dan sayang sama sahabat gue sendiri?” gumam Shabrina pelan. Kedua matanya masih terpejam dan airmata itu mengalir dengan bebas di pipinya.             Kalau harus memilih, Shabrina lebih memilih untuk tidak memiliki perasaan suka pada Victor seperti saat ini. Perasaan yang hanya bisa menyiksanya, membuatnya perih dan menahan sakit, karena harus bertepuk sebelah tangan. Karena, tanpa harus dijelaskanpun, Shabrina tahu dengan pasti, hanya dirinya yang memiliki perasaan ini. Shabrina sadar, apalah artinya dirinya jika dibandingkan dengan mantan-mantan pacar Victor yang segudang itu. Shabrina sangat sadar, jika dirinya dibandingkan dengan Anna, sahabat kecil Victor itu, dirinya sudah kalah telak.             Anna adalah tipikal gadis manis yang sanggup menarik hati laki-laki manapun yang melihatnya. Gadis itu bertubuh mungil dengan kulit putih. Senyumannya manis dan sanggup memikat siapa saja yang melihatnya. Rambutnya indah, begitu pula dengan kedua mata gadis itu. Benar-benar terlihat seperti sebuah boneka barbie.             Kalau Victor lebih menyukai Anna ketimbang dirinya, Shabrina merasa itu hal yang sangat wajar.             “Lo nggak berniat buat lompat ke bawah, kan, Va?”             Satu suara bernada rendah itu membuat Shabrina tersentak dan langsung menoleh. Gadis itu mendapati sosok Arsyad tengah berdiri dengan kedua tangan yang dimasukkan ke saku celana sekolahnya dan tersenyum tipis ke arahnya. Shabrina membalas senyum Arsyad dan kembali memusatkan perhatiannya pada gedung-gedung tinggi di depan bangunan sekolahnya.             Arsyad menghela napas dan berjalan mendekati gadis itu. Laki-laki itu kemudian duduk disamping Shabrina dan ikut menatap pemandangan di depannya, seperti yang dilakukan oleh gadis yang tengah bersedih di sampingnya. Meskipun Shabrina tidak mengatakan apa-apa tentang keadaan dirinya, namun Arsyad sudah bisa menebak perasaan gadis itu. Penjelasan masuk akal apa lagi yang bisa dispekulasikan oleh Arsyad, ketika melihat Shabrina menangis sambil berlari keluar dari kelas ketika mendengar ucapan dari bibir Victor, selain bahwa gadis itu tengah bersedih dan sakit hati?             “Yo...,” panggil  Shabrina lirih tanpa memandang wajah Arsyad. Arsyad menoleh dan tersenyum kecil.             “Hmm?”             Shabrina membuang napas dan berusaha untuk tidak menangis lagi. Hal yang sulit untuk dia lakukan, mengingat saat ini matanya mulai memanas karena dadanya bergemuruh dengan hebat.             “Emang... gue sebegitu nggak pantasnya, ya, buat Victor?”             Senyuman itu hilang dari wajah Arsyad, digantikan dengan ekspresi heran dan kerutan di kening laki-laki itu.             “Maksud lo, apa, ngomong kayak gitu, Va?”             Shabrina tidak langsung menjawab. Gadis itu menundukkan kepalanya dan memejamkan matanya kembali. Rasa sesak dan sakit itu kembali menyeruak. Luka dalam hatinya kembali menganga. Dan, Shabrina tidak bisa lagi membendung semua kesedihannya. Dia biarkan isak tangisnya keluar, seiring dengan butiran kristal itu.             Mendengar isak tangis Shabrina, Arsyad langsung memutar tubuhnya dan merengkuh tubuh gadis itu kedalam pelukannya. Shabrina tidak menolak dan membiarkan tubuhnya yang gemetar dipeluk dengan erat oleh Arsyad. Rasa kesal dan benci dalam diri Shabrina untuk Arsyad seolah lenyap tak berbekas ketika gadis itu tahu bahwa Arsyad adalah Tyo, sahabatnya semasa kecil dulu.             Arsyad mengelus punggung Shabrina lembut, berusaha mengalirkan kekuatan dan kehangatan untuk Shabrina. Perlakuan itu justru membuat Shabrina makin menangis dan menguatkan cengkraman tangannya di pundak Arsyad. Arsyad bahkan bisa merasakan gemetarnya tubuh Shabrina dan bagaimana dinginnya tubuh gadis itu, ketika gadis itu menguatkan pegangannya pada pundaknya.             “Va....”             “Gue... suka... sama... dia... Yo....” Shabrina memotong ucapan Arsyad, sebelum laki-laki itu menyelesaikan kalimatnya. Rahangnya terkatup rapat dan emosinya mulai terbit, ketika mendengar pengakuan yang keluar dari bibir gemetar Shabrina. Suara gadis itu bahkan terputus-putus karena isak tangisnya.             “Apa... salah... kalau... gue... suka... sama... Victor...?”             Arsyad tidak menjawab. Tubuhnya menegang. Apa... apa sebegitu besarkan rasa suka Shabrina pada Victor? Dari awal, Arsyad memang sudah curiga bahwa persahabatan Shabrina dengan Victor tidak seperti yang kebanyakan orang lihat. Dalam penglihatannya, salah satu diantara mereka berdua, pasti ada perasaan yang lebih dari sekedar sahabat. Dan sekarang, kecurigaannya terbukti. Shabrina menyukai Victor.             “Yo... gue... nggak... sanggup... lagi.... gue... tersiksa....”             Arsyad makin mengeratkan pelukannya untuk Shabrina. Shabrina menenggelamkan kepalanya di bahu Arsyad, mencari sandaran untuk dirinya. Saat ini, dunianya runtuh. Hatinya hancur. Shabrina bahkan tidak tahu, apakah setelah ini, dia masih bisa bertatap muka dan berinteraksi seperti biasanya dengan Victor.   Kucari sesuatu yang mampu mengisi lubang ini... Kumenanti... jawaban apa yang dikatakan oleh hati... Apakah itu kamu...? apakah itu dia...? Selama ini kucari tanpa henti.... (Letto-Lubang Di Hati)               Tenang saja, Va... mulai detik ini, gue akan bikin lo lupa sama Victor... mulai detik ini, gue akan bikin lo jatuh cinta sama gue.... *** Victor meringis ketika Ravina membersihkan noda darah yang keluar dari sudut bibir laki-laki itu. Amalina menyaksikan itu semua sambil tersenyum kecil. Teman-teman sekelas mereka tidak ada satupun yang berani bertanya, ada apa sebenarnya diantara Shabrina, Victor dan Arsyad, hingga beberapa saat yang lalu, Arsyad menghajar Victor. Padahal yang mereka tahu, Victor dan Shabrina itu bersahabat, sedangkan Shabrina dengan Arsyad adalah musuh.             “Aww! Rav, lo bisa nggak sih, ngobatinnya pelan-pelan?” gerutu Victor. Mendengar itu, Ravina bukannya memperhalus tindakannya, justru menekan kuat-kuat sudut bibir Victor, hingga membuat laki-laki itu berteriak. Mau tak mau, Amalina tertawa melihat itu.             “RAVINA!” seru Victor sambil melotot. Ravina balas melotot dan mengacungkan tinjunya.             “Apa?! Udah bagus gue ngobatin lo, udah bagus lo nggak gue lempat pakai panci karena ucapan lo ke Shabrina, masih berani lo ngomelin gue, Vic?!”             Victor terdiam. Laki-laki itu menghembuskan napas panjang dan kesal. Dia sendiri heran kenapa kalimat menyakitkan itu bisa terlontar dari mulutnya. Melihat itu, Ravina dan Amalina saling pandang dan menatap Victor dengan iba.             “Vic... ucapan lo tadi benar-benar kelewatan. Lo liat sendiri, kan, Shabrina sampai nangis kayak gitu?” Amalina membuka suara, setelah dilihatnya Victor hanya tertunduk lesu dan menatap lantai dengan tatapan kosong.             “Gue tau, Lin... gue juga nggak ngerti kenapa gue bisa ngomong kayak tadi....”             “Lo cemburu?”             Kali ini, Victor mengangkat kepalanya, ketika mendengar ucapan Ravina. Laki-laki itu menatap Ravina tepat di manik mata dan mendesah berat.             “Gue nggak mungkin cemburu, Rav... Shabrina itu sahabat gue. Kalau gue cemburu sama dia, itu berarti gue suka sama dia. Dan itu jelas-jelas nggak mungkin....”             Ravina mengerutkan keningnya. “Kenapa nggak mungkin?”             “Ya... karena gue sama Shabrina cuma sahabatan, nggak lebih....”             Ravina menganggukkan kepalanya. “Cuma sahabat,” katanya mengulangi ucapan Victor. Seulas senyum tersungging di bibirnya. “Vic, pernah nggak sih, lo ngerasa kesal kalau ngeliat Shabrina dekat sama laki-laki lain, selain lo?”             Victor terdiam. Laki-laki itu mengerutkan keningnya.             “Pernah nggak, sih, lo rasanya pengin nonjok siapapun yang bisa bikin Shabrina tertawa terbahak-bahak?”             Ini si Ravina lagi ngomong, apa, sih? Keluh Victor dalam hati. Sementara itu, di sampingnya, Amalina hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum geli. Gadis itu sangat gemas dengan ketololan Victor saat ini.             “Pernah, nggak, lo kebetulan baca SMS-SMS nya Shabrina sama laki-laki lain, dan lo langsung senewen karena SMS-SMS itu menunjukkan kalau mereka lagi mencoba untuk flirt ke sahabat lo, itu?” Ravina sengaja menekankan kata sahabat dalam ucapannya barusan.             “Sebenarnya, apa, sih, yang lagi lo coba untuk omongin ke gue?” tanya Victor akhirnya, ketika laki-laki itu masih juga belum paham dengan arah pembicaraan Ravina.             Ravina mendengus dan tertawa geli. Victor memang tampan, punya mantan segudang, tapi, untuk urusan peka dengan perasaan seseorang, laki-laki itu nol besar! Ravina dan Amalina bahkan tahu, tanpa harus bertanya kepada dua orang t***l itu, yakni Shabrina dan Victor, bahwa keduanya saling suka. Cuma, label sahabat lah yang membuat mereka berdua enggan mengakui perasaan mereka itu.             “Satu pertanyaan lagi....”             Victor memutar kedua matanya dengan jengkel. Pertanyaan-pertanyaan Ravina sebelumnya saja belum dia jawab, tapi, sekarang gadis itu sudah akan memberikan pertanyaan yang lain.             “Pernah, nggak, sih, lo marah banget waktu Shabrina pulang sama orang lain, selain lo? Pernah nggak lo kecewa, khawatir, cemas, campur aduk jadi satu?”             Victor langsung menggebrak meja dan menatap Ravina dengan antusias.             “Itu, dia, Rav! Gue lupa cerita ke lo berdua. Kemarin, waktu gue nganter Anna pulang, gue lihat si Shabrina pulang sama mahasiswa kampus depan! Mahasiswa yang hampir nabrak si Shabrina kemarin pagi! Rasanya, gue pengin jitakin kepala cewek itu karena dengan gampangnya nerima ajakan cowok lain gitu aja! Kalau dia diapa-apain sama cowok itu, gimana?!”             Ravina dan Amalina mengerjapkan mata dan detik berikutnya, kedua gadis itu tertawa keras. Victor yang tidak mengerti hanya bisa diam dan menatap tajam kedua gadis itu.             “Lo berdua kenapa ketawa? Ada yang lucu?”             “Haahahahaa... iya... yang lucu itu, ya, elo! Hahahahaha....” Ravina berusaha mengatur napasnya yang tersengal karena tertawa dan berbicara disaat yang bersamaan.             “Gue? Lucu? Lucu apanya?”             “Victor... Victor... lo itu emang playboy, tapi kalau urusan peka sama perasaan sendiri atau perasaan orang lain, lo itu nol besar!” Amalina meledek Victor dan menggelengkan kepalanya. “Lo sadar, nggak, sih, kalau lo itu udah cemburu sama Shabrina? Sama sahabat lo sendiri?”             “Dibilang gue nggak cemburu!”             “Masih mau ngelak?” tanya Ravina menyindir. Gadis itu mencibir ketika melihat Victor melotot ke arahnya. “Nih, ya, kenapa lo harus marah gitu ngeliat Shabrina pulang sama cowok lain?”             “Ya, karena dia sahabat gue, dan gue nggak mau dia kenapa-napa, dodol!” gerutu Victor sambil menyentil pelan kening Ravina, membuat gadis itu cemberut dan mengusap keningnya yang sedikit sakit akibat sentilan Victor itu.             “Loh, Shabrina kan, udah gede. Udah dewasa. Dia bisa, kok, jaga dirinya sendiri.” Amalina sengaja meperkisruh keadaan. Dia sangat yakin kalau Victor itu sebenarnya menyukai Shabrina, hanya saja, laki-laki itu gengsi untuk mengakuinya.             “Tapi, gue nggak suka kalau dia harus dibonceng sama cowok lain!” tandas Victor emosi. Entah kenapa, hanya dengan membayangkan Shabrina duduk di atas motor laki-laki lain, membuatnya naik darah.             “Kenapa nggak boleh?” tanya Ravina. Gadis itu menatap Victor tepat di manik mata. Victor balas menatap tatapan Ravina itu dengan tatapan tajam.             “Karena gue nggak mau dia kenapa-napa! Lo kenapa, sih, Rav? Apa belum cukup jelas penjelasan gue tadi?”             “Terus, kalau Shabrina nggak boleh boncengan motor sama cowok lain, lo boleh ya, boncengan sama cewek lain? Ngerasa egois, nggak, sih, lo? Lo bonceng Anna di depan muka Shabrina, yang udah biasa lo antar-jemput, terus, lo nggak suka dan ngelarang Shabrina buat pulang sama cowok lain? Gitu? Hebat banget, lo, Vic! Sumpah!”             Telak!             Victor kehilangan suara untuk membalas ucapan Ravina. Laki-laki itu hanya bisa terdiam dan terperangah mendengar semua ucapan gadis itu. Sementara itu, Ravina tersenyum tipis dan menghela napas panjang.             “Bukan persahabatannya yang jadi sumber masalah, Vic... tapi, perbedaan gender diantara lo sama Shabrina. Lo pikirin baik-baik, deh, ucapan gue. Gue cuma takut lo sadar perasaan lo itu, justru disaat Shabrina sudah jadi milik orang lain.” *** “Udah baikan?”             Shabrina tersenyum malu dan mengangguk. Entah sudah berapa lama dia berada dalam pelukan Arsyad dan menangis sepuas hatinya disana. Dia menumpahkan semua kesedihannya di bahu Arsyad, sahabat kecilnya dulu.             “Gue cengeng banget, ya, Yo?”             Arsyad tertawa renyah dan mengacak rambut Shabrina gemas. “Santai aja, Va... nangis bukan cuma untuk anak kecil, kok.”             Shabrina menghela napas panjang dan kembali terdiam. Kedua mata gadis itu sembap dan memerah. Arsyad memperhatikan gadis itu dalam diam dan tersenyum kecil.             “Kita udah bolos satu jam mata pelajaran.”             Shabrina mengangguk dan tertawa kecil. “Baru pertama kali ini, gue bolos, loh.”             Diam. Hanya hembusan angin yang menemani mereka berdua saat ini. Shabrina sendiri merasa sangat tenang dan nyaman sekarang. Entah karena dia sudah menumpahkan semua kesedihannya, atau karena ada Arsyad di sampingnya.             “Masih suka main biola, Va?”             Tubuh Shabrina menegang. Dia tidak menyangka, Arsyad akan menanyakan hal itu padanya. Beberapa orang yang mengenal baik dirinya, sudah tahu akan keadaan gadis itu. Shabrina mengalihkan pandangannya, ketika Arsyad menatap wajahnya.             “Va?”             Shabrina menelan ludah susah payah. Gadis itu memejamkan kedua matanya dan tersenyum pahit. Tiba-tiba, tangan Arsyad menyentuh dagunya, dan memutar kepala gadis itu agar menghadap ke arahnya.             “Va? Lo masih suka main biola, kan?”             “Gue... gue udah nggak main biola lagi, Yo....”             Alis Arsyad terangkat satu. Seingatnya, Shabrina sangat suka bermain biola. Biola adalah setengah nyawa dari gadis itu.             “Kenapa?” tanya Arsyad hati-hati.             Shabrina menggelengkan kepalanya dan menunduk. Kemudian, kedua tangan besar milik Arsyad menangkup wajah Shabrina dan mendongakkannya.             “Kenapa, Va?”             “Waktu... waktu gue kelas tiga SMP... gue sama Victor pulang sekolah naik motor... gue sama dia... kecelakaan.... sejak saat itu, tangan kiri gue nggak bisa berfungsi maksimal. Gue nggak bisa main biola lagi....”             Arsyad melepaskan tangannya yang menangkup wajah Shabrina. Laki-laki itu mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya.             “Kurang ajar!” desis Arsyad penuh emosi. “Gue akan bikin perhitungan sama orang itu!”             Shabrina terkesiap dan langsung menahan langkah Arsyad, ketika laki-laki itu bangkit berdiri dan berniat menemui Victor.             “Yo... itu kejadian udah lama. Sudahlah....” Shabrina mencekal lengan Arsyad. Arsyad menoleh dan menatap tajam Shabrina.             “Tapi, Va, dia udah bikin lo nggak bisa main biola lagi!”             “Udah, Yo... Victor itu sahabat gue... lagian, siapa sih yang bisa ngelawan takdir?”             Arsyad terdiam dan langsung memeluk Shabrina. Shabrina merasakan kehangatan dan kenyamanan ketika tubuhnya didekap erat oleh Arsyad.             “Maafin gue, ya, Va, saat itu gue nggak ada buat nyemangatin lo....”             Shabrina mengangguk di pundak Arsyad. Gadis itu melingkarkan kedua tangannya di leher Arsyad. Entah kenapa, dia sangat suka apabila Arsyad memeluknya. Seolah dia mendapatkan kekuatan dari laki-laki itu.             “Balik ke kelas, yuk?”             Shabrina melepaskan pelukannya pada Arsyad dan mengangguk. *** Victor memperhatikan Shabrina dan Arsyad yang baru saja masuk ke dalam kelas. Laki-laki itu kemudian meneliti wajah Shabrina yang terlihat kusut dan kedua mata gadis itu yang terlihat sembap. Sial! Rasanya, Victor ingin sekali menyakiti dirinya sendiri secara fisik karena sudah membuat Shabrina menangis. Ketika gadis itu duduk di depannya, Shabrina sama sekali tidak mau menoleh ke belakang.             “Shab...,” panggil Victor lirih.             Shabrina bergeming. Gadis itu membuka buku yang terletak di atas mejanya dan mulai membaca kalimat-kalimat yang berada didalam buku tersebut. Victor yang tidak tahan, akhirnya bangkit berdiri dan menarik lengan Shabrina dengan kuat, membuat gadis itu meringis dan tersentak.             “Vic, lepasin gue!” seru Shabrina keras. Beruntung saat ini, guru mata pelajaran selanjutnya belum datang. Semua orang yang berada di dalam kelas menoleh dan menatap kejadian itu dengan heran. Arsyad bahkan langsung bergerak, ketika melihat Victor menarik Shabrina keluar kelas.             “Syad!”             Langkah Arsyad terhenti ketika mendengar namanya dipanggil. Laki-laki itu menoleh dan melihat Amalina menggelengkan kepalanya.             “Mereka berdua butuh waktu buat ngomong. Mereka harus nyelesein masalah mereka. Gue harap, lo bisa ngertiin itu.”             Arsyad hanya diam dan memandang keluar kelas. Dia bisa melihat ketika Victor membawa Shabrina ke ruang musik yang berada tak jauh dari kelas mereka. *** “Gue bilang lepasin!”             Shabrina menyentakkan tangan Victor dari lengannya dan menatap mata Victor dengan tatapan tajam. Gadis itu kemudian berniat untuk keluar dari ruang musik, namun langkahnya terhenti, ketika dia melewati tubuh tinggi Victor dan lengannya kembali dicekal oleh laki-laki itu.             “LEPAS! LEPAS! LEPAS!” seru Shabrina sambil berusaha mengenyahkan tangan Victor dari lengannya. Namun kali ini, cekalan itu tidak berhasil dienyahkan Shabrina dari lengannya. Kali ini, cekalan Victor begitu kuat.             “Shab, dengerin gue dulu... gue....”             Shabrina menutup kedua telinganya rapat-rapat dengan kedua tangannya, yang bahkan masih dicekal oleh Victor. Gadis itu memejamkan kedua matanya dan menggelengkan kepalanya.             “Gue nggak mau dengar apapun!”             “Shab....”             “GUE BILANG GUE NGGAK MAU DENGAR APAPUN!”             Victor terperangah. Dia tidak pernah melihat Shabrina yang berteriak seperti ini sebelumnya. Apakah perkataannya benar-benar telah membuat gadis itu sakit hati?             “Shab....”             “Lo... jahat... banget... Vic....” Shabrina mulai bersuara pelan. Namun, isak tangis juga mulai terdengar dari bibir gadis itu.             Victor diam. Dia tidak tahu harus berkata apa. Dia benar-benar menyesal telah mengeluarkan kalimat sialan itu untuk Shabrina. Dia benar-benar menyesal telah membuat Shabrina menangis seperti sekarang.             “Apa lo sebegitu bencinya sama gue, Vic? Sampai-sampai lo tega ngucapin hal itu ke gue? Memangnya, kenapa? Kenapa kalau lo sampai suka sama gue? Kenapa? Apa gue nggak pantas untuk lo sukai?”             Victor berusaha meredam amarahnya yang mulai memuncak. Demi Tuhan, dia tidak ada pikiran kesana.             “Gue tau, gue bukan cewek-cewek cantik dan seksi yang pernah jadi pacar lo. Gue sadar kalau gue ini nggak secantik mereka. Tapi... apa harus? Apa harus lo keluarin kalimat itu?”             Victor tertegun ketika melihat Shabrina mengangkat kepalanya dan wajahnya sudah dipenuhi airmata. Baru saja Victor akan menghapus airmata di pipi gadis itu, mendadak, suara debaman pintu terdengar. Shabrina dan Victor menoleh dan mendapati Anna tengah berdiri di ambang pintu. Gadis itu tersenyum salah tingkah dan langsung berlari meninggalkan ruangan tersebut.             “Anna!” teriak Victor keras. Laki-laki itu menoleh ke arah Shabrina dan memejamkan matanya kuat-kuat. Tanpa pamit, Victor langsung meninggalkan Shabrina.             Shabrina mengangkat sebelah tangannya dan menekan kuat d**a kirinya. Sakit. Hatinya sangat sakit. Benar-benar terasa sesak. Detik berikutnya, gadis itu jatuh terduduk dengan beralaskan lutut. Gadis itu menunduk dan mulai menangis hingga tersedu-sedan. Menangis yang benar-benar menangis. Dia membiarkan suaranya menggema diseluruh ruangan.             Entah sejak kapan, perasaan ini muncul untuk Victor, sahabatnya. Selama ini pula, Shabrina selalu menutupi semuanya rapat-rapat.             “Vic... gue... cinta... sama... lo....” Shabrina membisikkan pengakuannya dengan lirih. Detik berikutnya, semua menjadi gelap. Segelap hatinya saat ini.   Don’t you know, my heart is broken, oh... It’s putting up the fight... And i’ve got this feeling... and everything’s alright... Don’t you see? I’m not the only one for you... bt you’re the only one for me... (Secondhand Serenade-Stay Close, Don’t Go) ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN