Anna tidak tahu apa yang membuatnya langsung berlari meninggalkan ruangan musik, ketika gadis itu melihat Victor sedang bersama Shabrina disana. Yang jelas, ada perasaan sesak dan sakit ketika dia melihat sahabat kecilnya itu sedang berbicara empat mata dengan Shabrina, yang sekarang ini berstatus sahabat dekat dari Victor. Entahlah, Anna hanya tidak ingin perhatian Victor terbagi. Anna yang sangat merindukan Victor selama ini, merindukan perhatian laki-laki itu, hanya ingin Victor lebih memperhatikannya saat ini. Ketika dia sudah berdiri di depan Victor. Hanya itu, tidak lebih.
Benarkah hanya itu?
Yakinkah dirinya bahwa hanya itu yang dia inginkan? Bahwa dirinya hanya ingin Victor lebih memperhatikannya karena dia sangat merindukan sahabat kecilnya itu? Dan... apakah benar Anna hanya menganggap Victor sebagai sahabat kecilnya? Ataukah... perasaan lebih itu mulai muncul di dalam dirinya?
“An....”
Anna terkesiap ketika dia merasa lengannya ditarik paksa dan tubuhnya berputar ke belakang. Gadis itu terbelalak ketika melihat Victor sudah berada di depannya dengan napas tersengal. Laki-laki itu menatap Anna dengan tatapan heran.
“Lo ngapain, sih, pakai lari-lari segala? Kenapa harus kabur kayak tadi?” tanya Victor dengan kening berkerut heran. Anna mengerjapkan matanya berulang kali, berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa yang berdiri di depannya adalah Victor. Kemudian, gadis itu tersenyum salah tingkah dan melepaskan lengannya dari tangan Victor.
“Lo bukannya lagi sama Shabrina, Vic?” Anna balas bertanya. Victor yang seakan tersadar bahwa dia memang sedang bersama Shabrina karena ingin berbicara empat mata dengan gadis itu, langsung menepuk jidatnya dengan kesal. Dia benar-benar merasa t***l karena sudah meninggalkan sahabatnya itu begitu saja di ruang musik. Victor tidak sengaja meninggalkannya disana karena melihat Anna berlari meninggalkan ruang musik setelah gadis itu melihatnya bersama Shabrina. Victor hanya tidak ingin Anna berpikiran yang aneh-aneh tentang apa yang sudah dia lihat.
“Ya ampun, An, gue lupa kalau gue lagi ngomong serius sama Shabrina!” Victor berdecak kesal dan meremas rambutnya dengan kuat. Melihat itu, Anna hanya bisa tersenyum tipis dan menepuk pundak Victor.
“Sana, balik lagi ke ruang musik. Kasihan, Shabrina....”
Victor mengangguk dan tersenyum lebar ke arah Anna seraya mengucapkan terima kasih. Begitu Victor memutar tubuhnya dan berniat kembali ke ruang musik untuk menemui Shabrina, Victor langsung jatuh tersungkur ke lantai, diiringi jeritan kecil Anna. Gadis itu langsung berlutut di samping Victor yang sedang menyeka darah dari sudut bibirnya. Keduanya menatap satu sosok yang saat ini sedang menatap tajam ke arah mereka sambil mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di sisi tubuhnya.
“JANGAN HARAP SETELAH INI, LO BISA DEKAT LAGI SAMA SHABRINA, VIC! KARENA GUE NGGAK AKAN NGEBIARIN HAL ITU TERJADI!” teriak Arsyad penuh amarah.
***
Arsyad bisa melihat dari dalam kelas, ketika Victor berlari keluar dari ruang musik dan mengejar Anna yang sudah lebih dulu berlari. Setahu Arsyad, Anna sedang berada di dalam ruang UKS karena gadis itu tidak enak badan. Lalu, kenapa sekarang tiba-tiba saja gadis itu muncul di depan ruang musik?
Arsyad merasa perasaannya tidak enak. Terlebih ketika dia menyadari bahwa Shabrina tak kunjung keluar dari ruang musik, meskipun Victor sudah keluar dari ruangan tersebut. Dengan perasaan cemas dan khawatir, Arsyad berlari menuju ruang musik untuk melihat keadaan Shabrina.
Betapa terkejutnya Arsyad ketika menemukan Shabrina tidak sadarkan diri di atas lantai ruang tersebut. Laki-laki itu langsung menghampiri Shabrina yang pingsan dan mengangkat tubuh gadis itu ke atas pangkuannya.
“Shab? Shab... bangun....” Arsyad menepuk pelan pipi Shabrina, namun gadis itu masih tetap tidak sadarkan diri. Akhirnya, Arsyad menggendong tubuh Shabrina dan membawa gadis itu ke ruang UKS. Arsyad bisa merasakan tubuh gadis itu panas tinggi. Bibir dan wajahnya pucat. Dalam hati, dia memaki Victor habis-habisan.
Dan... disinilah dia sekarang. Berdiri menjulang di depan Victor yang baru saja dihajarnya. Laki-laki itu nampak kebingungan karena Arsyad tiba-tiba saja menghajarnya. Victor bangkit berdiri dengan dibantu Anna. Laki-laki itu menatap Arsyad tajam dan mengerutkan kening.
“Maksud lo apa ngomong kayak gitu, hah?!” seru Victor balik. Beruntung saat ini jam pelajaran sedang berlangsung, sehingga keributan yang baru saja terjadi diantara Victor dan Arsyad tidak akan menjadi tontonan bagi para murid yang lain. Dan, untungnya juga, kelas Victor sedang tidak ada guru yang mengajar, karena guru yang bersangkutan sedang berhalangan untuk hadir.
Arsyad tertawa hambar dan terkesan merendahkan Victor. Laki-laki itu kemudian menunjuk wajah Victor lurus-lurus.
“Lo masih berani nanya maksud omongan gue apa?!” seru Arsyad. “Lo itu emang benar-benar b******k, ya, Vic! Lo yang ngajak Shabrina ke ruang musik untuk bicara empat mata sama dia! Gue yang dari awal nggak suka kalau lo ngajak dia ngomong empat mata dan berusaha untuk mencegah, harus mengubur dalam-dalam niat gue karena Ravina dan Amalina nyegah gue. Mereka bilang, lo sama Shabrina butuh waktu untuk ngomong, untuk nyelesein masalah lo berdua! Oke, gue bisa ngerti hal itu. Tapi, bukan berarti lo bisa seenak jidat lo ninggalin dia gitu aja disana!”
Baru saja Victor akan membuka mulut untuk menjelaskan kenapa dia pergi dari ruang musik itu, Arsyad telah lebih dulu berbicara. Nada suaranya terdengar dingin dan penuh amarah. Intonasi suaranya begitu keras dan lantang. Matanya meletupkan bara kebencian yang begitu kental.
“DIA PINGSAN DISANA!”
Tubuh Victor seketika membeku. Laki-laki itu berusaha mencerna apa yang baru saja Arsyad katakan. Anna sendiri tersentak dan menatap Arsyad dengan sorot mata yang menunjukkan sedikit keraguan.
“Jangan bercanda, lo!” desis Victor tegang. Victor berpikir, mungkin ini hanyalah akal-akalan Arsyad saja.
“Lo pikir ini bagus buat dijadiin bahan bercandaan, Vic?!” desis Arsyad balik. Laki-laki itu maju dan mendekatkan tubuhnya dengan tubuh Victor. Anna yang sedikit takut dengan emosi yang ditampilkan oleh Arsyad, bersembunyi dibalik punggung Victor. Kedua laki-laki yang sama tinggi itu saling tatap dalam diam. Manik mata mereka beradu, menyiratkan bara kebencian dan amarah yang terpendam untuk masing-masing dari mereka. Saking dekatnya tubuh mereka saat ini, Victor bahkan sampai bisa merasakan ujung sepatunya beradu dengan ujung sepatu milik Arsyad.
“Gue nggak peduli kalau lo sahabat Shabrina, tapi, satu hal yang harus lo ingat... gue, sahabatnya dari kecil, nggak akan pernah sudi dan rela lo sakitin dia kayak gitu. Dan gue, gue bersumpah demi apapun yang ada di dunia ini, bahwa gue akan dengan senang hati untuk membunuh lo, kalau sampai gue liat lo berani dekatin dia lagi!”
Selesai berkata demikian, Arsyad mencibir dan pergi meninggalkan Victor yang terperangah karena ucapannya. Arsyad sengaja menyenggol bahu Victor dengan bahunya. Ketika dia melewati Anna, Arsyad tersenyum dingin pada gadis itu dan kembali melanjutkan langkahnya.
Arsyad memang tidak membenci Anna, karena gadis itu tidak mempunyai salah apa-apa. Hanya saja, kemunculan gadis itu telah menorehkan luka di hati Shabrina. Di hati sahabat kecilnya. Karena, serapat apapun Shabrina menyembunyikannya, semua orang dapat melihatnya dengan jelas. Termasuk Arsyad sendiri.
Bahwa Shabrina menganggap Victor lebih dari sekedar sahabat.
***
Girl, you make my speakers go boom boom...
Dancin' on the tailgate in a full moon...
That kinda thing makes a man go mmm hmmm...
You're lookin' so good in what's left of those blue jeans...
Drip of honey on the money make her gotta be...
The best buzz I'm ever gonna find...
Hey, I'm a little drunk on you...
And high on summertime...
(Luke Bryan-Drunk On You)
Anna mendesah pelan ketika tahu bahwa Shabrina sedang sakit dan berada di dalam UKS saat ini. Gadis itu bahkan tidak mengikuti mata pelajaran ketiga, karena tidak cukup kuat untuk hadir di kelas. Arsyad memperhatikan guru yang sedang mengajar di depan kelas dengan tatapan penuh emosi. Anna bisa melihat hal itu. Sedangkan Victor, laki-laki itu seperti berada di dunia lain. Raganya ada di kelas, tapi Anna sangat yakin, pikirannya sedang berada pada Shabrina.
Anna jadi merasa bersalah. Seandainya saja tadi dia tidak penasaran ketika melihat Victor menarik lengan Shabrina dan membawa gadis itu ke ruang musik, ini semua pasti tidak akan pernah terjadi. Shabrina tidak akan pingsan dan sakit seperti sekarang. Tadi, sewaktu Anna ingin kembali ke kelas setelah beristirahat di UKS, harusnya Anna mengikuti instingnya untuk tidak mengikuti Victor dan Shabrina.
Anna mendesah lagi dan bangkit berdiri. Gadis itu meminta izin kepada guru yang sedang mengajar untuk pergi ke toilet. Begitu izin tersebut dia dapatkan, dengan langkah gontai, Anna berjalan keluar kelas.
Ketika melewati lapangan, Anna menghentikan langkahnya. Dia bisa mendengar suara riuh para murid laki-laki sedang bermain sepak bola. Murid-murid tersebut memakain pakaian olahraga, sehingga Anna bisa menarik kesimpulan bahwa mereka sedang memasuki jam pelajaran olahraga.
Anna berkacak pinggan dan memejamkan kedua matanya. Dia sungguh tidak ingin membuat Shabrina merasa tersisihkan oleh dirinya, karena Victor dekat dengannya. Walau bagaimanapun juga, meskipun Victor adalah sahabatnya sewaktu kecil dan meskipun Anna tidak bisa membohongi perasaannya sendiri, bahwa semenjak dulu, gadis itu menyukai Victor, tapi, Anna tidak ingin merusak persahabatan Victor dengan Shabrina.
“What’ve i done?” gumam Anna lirih. Dia harus mencari akal supaya persahabatan antara Victor dan Shabrina bisa kembali seperti sebelum dia datang kesini. Karena kelihatannya, Arsyad sama sekali tidak mau Victor dekat-dekat lagi dengan Shabrina.
Apa mungkin... Arsyad menyukai Shabrina?
Sedang asyik berkutat dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba, Anna merasa kepalanya dilempar oleh sesuatu. Gadis itu menjerit pelan dan jatuh terduduk. Kepalanya ditundukkan dan sebelah tangannya terangkat ke kepala untuk mengusap kepalanya yang terasa sakit, akibat dilempar oleh benda, entah apa itu.
“Sorry... sorry... gue benar-benar nggak sengaja nendang bola ini ke arah lo! Dari tadi gue udah neriakin lo buat minggir, tapi lo nggak dengar....” Sebuah suara berat, khas suara laki-laki yang sedang memasuki fase pendewasaan, terdengar jelas di telinga Anna. Gadis itu bahkan bisa mendengar nada menyesal pada suara tersebut. Namun, rasa sakit di kepalanya membuat Anna masih enggan mengangkat kepalanya yang tertunduk.
“Aduh... lo nangis, ya? Please, dong, jangan nangis. Nanti, gue disangka mau ngapa-ngapain lo....” Suara berat itu kembali terdengar. Kali ini, nadanya terdengar sangat panik. Ketika laki-laki itu mengulurkan tangannya untuk menyentuh pundak Anna, dia terkesiap ketika tiba-tiba Anna mengangkat kepalanya. Untuk sesaat, laki-laki itu tertegun di tempatnya. Matanya memandang Anna tanpa berkedip. Anna ternyata tidak menangis seperti yang laki-laki itu duga sebelumnya. Gadis itu justru menatapnya dengan kejengkelan yang teramat sangat. Anna mengabaikan uluran tangan laki-laki itu, bangkit berdiri, berkacak pinggang dan menatap laki-laki yang mengenakan seragam olahraga di depannya itu dengan mata melotot.
“Heh, k*****t! Bisa main bola, nggak, sih?!” seru Anna kesal. Gadis itu bahkan tidak menyadari bahwa laki-laki di depannya telah berubah menjadi patung. Anna meneliti penampilan laki-laki itu. Lebih tinggi darinya (karena Anna hanya setinggi d**a laki-laki itu), mata berwarna abu-abu terang, hidung mancung, short messy hair, kaus olahraga yang mencetak jelas tubuh atletisnya, terlebih karena laki-laki itu berkeringat. Bukannya merasa jijik, sebetulnya, Anna justru merasa sedikit terkesan dengan penampilan laki-laki itu. Walaupun dia masih sangat dongkol saat ini.
Karena yang diomeli hanya diam saja, Anna menggeram kesal dan mengentakkan kedua kakinya di aspal. Persis seperti anak kecil yang sedang merajuk karena keinginannya tidak dipenuhi. Gadis itu kemudian menunjuk wajah laki-laki itu lurus-lurus, sehingga membuat laki-laki itu tersadar dan mulai fokus akan kehadian Anna.
“WOY! Lo belum pernah gue kasih makan bola kaki, ya?!” seru Anna lagi. “Belum pernah ngerasain dilempar pakai panci?!” *efek dewan panci ^^v*
Laki-laki itu buru-buru tersenyum dan menatap Anna dengan sorot meminta maaf. “Sorry, tadi, kan, gue udah bilang sama lo, kalau gue nggak sengaja nendang bolanya ke arah lo. Lagian, siapa suruh lo udah gue teriakin dari tadi, tapi nggak minggir.”
“Dih! Jadi, sekarang lo nyalahin gue?!” jerit Anna melengking. Laki-laki di depannya bahkan sampai refleks menutup kedua telinganya.
“Bukannya nyalahin lo, tapi, gue....”
“Stop it!” Anna mengangkat sebelah tangannya, dan memotong ucapan laki-laki itu. “Gue malas berdebat sama orang yang nggak mau ngakuin kesalahannya. Lo liat aja nanti, tunggu pembalasan gue!”
Anna mendengus dan melenggan pergi meninggalkan laki-laki itu. Gadis itu setengah berlari menuju toilet perempuan. Ketika Anna menoleh sebentar ke belakang karena penasaran dengan ekspresi laki-laki yang sudah dibentaknya itu, Anna tercengang karena melihat laki-laki itu bersandar pada pilar yang ada, dengan kedua tangan dilipat di depan d**a dan tersenyum manis ke arahnya! Laki-laki itu benar-benar terlihat cool!
Sepeninggal Anna, laki-laki itu berdecak kagum dan menggelengkan kepalanya seraya tertawa. Baru kali ini, ada seorang gadis yang berani marah-marah padanya. Meskipun dia sendiri tahu, ini memanglah kesalahannya. Eh, tapi bukan sepenuhnya kesalahan dia juga, sih, gadis itu juga bersalah. Siapa suruh tidak menghindari ketika dia berseru keras untuk menyuruh gadis itu minggir, bukan?
“Eh, Yo!”
Gio yang baru saja lewat, berhenti melangkah dan mengerutkan kening ketika melihat siapa yang memanggilnya.
“Kenapa?”
Laki-laki yang baru saja dibentak oleh Anna itu tersenyum lebar dan merangkul pundak Gio. “Lo tadi papasan sama cewek manis, nggak? Ciri-cirinya, dia mungil, setinggi d**a gue, lah, terus hidungnya mancung, kulitnya putih, matanya cokelat terang, indah pula, terus rambutnya hitam bergelombang dan panjangnya sebahu! Papasan, nggak? Terus, lo kenal, nggak? Soalnya tadi yang gue liat, dia mau ke arah toilet, dan lo abis dari toilet, kan?”
Gio mengerutkan kening dan berusah mengingat siapa orang yang bisa disamakan dengan ciri-ciri yang laki-laki itu ucapkan barusan kepadanya. Dan seingatnya, hanya satu orang yang berpapasan dengannya saat dia keluar dari toilet tadi.
“Anna, maksud lo?” tanya Gio memastikan. Seketika, tatapan mata laki-laki itu bersinar-sinar penuh semangat.
“Anna? Jadi, namanya Anna?”
Gio mengangguk. “Anna Jefriana, namanya. Teman sekelas gue. Pindahan dari Bandung. Kenapa, emangnya?”
Laki-laki itu tersenyum lebar dan menggeleng. “Nggak pa-pa. Makasih, ya, Yo!”
Gio mengangguk dan kembali melangkah menuju kelasnya. Laki-laki yang baru saja berbicara dengan Gio itu senyum-senyum sendiri sambil bersiul dan menyanyikan lagu Drunk On You milik Luke Bryan dengan perasaan senang yang tiba-tiba saja terbit dalam hatinya.
“Woooy, Keizo! Ngapain lo bengong disana?! Ayo, main lagi!”
Laki-laki yang dipanggil Keizo itu mengacungkan jempolnya ke udara. Kemudian, Keizo mengambil bola yang tidak sengaja mengenai kepala Anna dan laki-laki itu malah semakin tersenyum. Tak ayal, teman-teman Keizo yang berada di lapangan mengerutkan kening melihat tingkah aneh teman mereka itu.
“Anna Jefriana, ya?” gumam Keizo pelan. Laki-laki itu tertawa kecil dan langsung bergabung kembali dengan gerombolannya.
***
Anna merapihkan alat sekolahnya dan memasukkan barang-barang itu ke dalam ranselnya. Gadis itu kemudian tersenyum ke arah Victor, Ravina dan Amalina.
“Gue duluan, ya, Vic, Rav, Lin....” Anna pamit kepada ketiga orang itu yang disambut dengan anggukan kepala ketiganya. Ketika matanya bertumbukan dengan mata Victor, Anna bisa melihat kekacauan di mata laki-laki itu. Anna membuang napas pelan dan melambaikan tangannya.
Anna menundukkan kepala. Gadis itu kembali dihinggapi rasa bersalah. Dia benar-benar harus mencari cara supaya keadaan bisa kembali normal seperti biasanya.
“Hai, Anna Jefriana....”
Satu suara bernada lembut dan terkesan menggoda itu membuyarkan semua pikiran Anna. Gadis itu berhenti melangkah dan menoleh. Anna langsung mendengus ketika mengetahui siapa yang baru saja memanggilnya.
“Dari mana lo tau nama gue?” tanya Anna ketus. Laki-laki itu berjalan mendekati Anna dan menundukkan kepalanya untuk bertatapan dengan gadis manis itu. Senyumnya mulai mengembang dan Anna harus mati-matian menahan gejolak aneh dalam dadanya ketika diberi senyuman tersebut.
Duh, kok gue jadi nggak karuan gini, sih?
“Gue Keizo Alvinzo! Gue anak kelas 3 IPA 2.” Keizo memperkenalkan dirinya pada Anna yang hanya dibalas dengan wajah datar oleh gadis itu.
“Penting, gitu, nama lo buat gue?” balas Anna masih dengan nada ketus yang sama. Keizo mati-matian menahan tawa. Laki-laki itu kemudian menangkap pergelangan tangan Anna, dan membawa gadis itu mendekat ke arahnya.
Anna terkesiap dan langsung menahan napas. Aroma maskulin yang tercium dari tubuh Keizo itu mampu membuat dunia Anna melayang. Gadis itu berusaha untuk tidak terpengaruh, namun ternyata gemuruh dalam dadanya mulai membahayakan dirinya.
Sial! Jangan sampai gue terpesona sama laki-laki ini!
“Lo harus tanggung jawab sama gue, An....” Keizo mengulum senyum. Saat ini, ketika jam pulang sekolah, semua murid otomatis akan berjalan menuju gerbang sekolah dan pastinya, akan melewati tempat dimana kedua remaja itu sedang berdiri dan saling bertatapan. Yang satu menatap dengan tatapan menggoda, sedang yang satu menatap dengan tatapan galak sambil berusaha melepaskan diri.
“Tanggung jawab apa?! Harusnya, gue yang minta tanggung jawab sama lo!” seru Anna kesal. Tiba-tiba saja, suara murid-murid yang melewati tempat itu mulai terdengar membahana. Mereka semua meneriaki keromantisan yang tercipta akibat ulah Keizo.
Jangan ditanya bagaimana wajah Anna saat ini. Wajah gadis itu sudah merah karena malu. Namun, gadis itu masih sanggup melotot garang pada Keizo.
Ya ampun! Nih cewek benar-benar manis, banget! Sial, benar-benar jatuh hati, gue! Langsung pada pandangan pertama, lagi! Keizo menggumam dalam hati.
“Gue? Tanggung jawab? Emangnya, gue udah ngapain lo? Kita, kan, baru aja kenalan. Gue belum bikin lo hamil, kok.”
Plaaaasss!
Wajah Anna kontan semakin memerah. Anna memaki ketololannya sendiri dalam hati karena sadar serangannya untuk Keizo malah menjadi senjata makan tuan.
“Lepasin, gue, nggak, Kei?!” seru Anna. Keizo tertawa pelan dan mensejajarkan wajahnya dengan wajah Anna. Otomatis, Anna memundurkan wajahnya, namun gerakan Keizo lebih cepat lagi. Laki-laki itu menahan kepala belakang Anna dengan sebelah tangannya yang bebas, hingga Anna tidak bisa lagi menghindar.
“Gue kayaknya jatuh cinta pada pandangan pertama, nih, sama lo, An! Tanggung jawab, dong....” Keizo mengedipkan sebelah matanya ke arah Anna, membuat gadis itu menelan ludah susah payah karena pesona yang dikeluarkan oleh Keizo itu. “Jadi cewek gue, ya? Gimana?”
WHAT THE?!
Laki-laki di depannya ini benar-benar sinting.
Sementara itu, tanpa Anna dan Keizo sadari, mereka berdua sudah menjadi tontonan murid-murid yang hendak pulang ke rumah masing-masing, termasuk Ravina dan Amalina. Kedua gadis itu hanya saling pandang dan mengangkat bahu tak acuh, lalu segera pergi meninggalkan tempat tersebut. Ravina dan Amalina sudah mengenal Keizo semenjak kelas satu SMA. Laki-laki yang ramah pada setiap perempuan itu, yang juga adalah sepupu Ravina, sudah sering membuat hati semua perempuan yang mendekatinya patah dan hancur berlebur. Bukan salah Keizo juga, sih, para perempuan itu sendiri yang mendekatkan diri mereka pada Keizo. Keizo yang pada dasarnya memang ramah, hanya ingin menjalin pertemanan dengan mereka.
Anna mundur ke belakang, ketika dia sadar bahwa Keizo mulai maju perlahan. Sorak sorai para penonton semakin membahana. Anna mulai panik, ketika di belakangnya sudah berdiri tembok yang kokoh. Keizo nyengir kuda dan melepaskan cekalan tangannya. Sebagai gantinya, Keizo mengurung Anna dengan rentangan kedua tangannya.
“Lo udah bikin gue tergila-gila sama lo, An.”
“Ja—jangan ngaco, Kei.” Anna menelan ludah susah payah.
Tiba-tiba saja, tanpa bisa diduga oleh Anna sebelumnya, Keizo menundukkan kepala dan mencium pipi gadis itu. Ciuman yang sangat lembut dan terasa hangat di pipi Anna. Anna bagaikan tersengat listrik, ketika bibir Keizo mendarat di pipinya. Tiba-tiba saja, semua perlakuan galaknya untuk Keizo hilang. Menguap tak bersisa. Yang ada tinggallah semburat merah yang muncul di wajah gadis itu, ketika Keizo mengakhiri ciuman itu.
“CIYEEEEEEE! SO SWEET, EUY!”
Anna menundukkan kepalanya. Gadis itu benar-benar merasa malu. Keizo yang melihat itu hanya bisa menahan tawa dan menatap gadis yang tengah menunduk itu dengan tatapan hangat. Sungguh, Keizo tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan langsung terpikat dan terpesona pada seorang gadis galak yang baru pertama kali ditemuinya.
Suara deru motor, disusul dengan suara klakson, membuat Anna dan Keizo, serta semua kerumunan yang ada menoleh. Anna langsung bersemangat dan berseru kencang.
“Kak!”
Mendengar kata ‘kak’ keluar dari bibir mungil Anna yang menggoda iman Keizo itu, langsung membuat Keizo melepaskan rentangan kedua tangannya. Anna menoleh dan menatap galak Keizo, disusul dengan gadis itu mengacungkan tinju mungilnya dan leletan lidahnya. Mau tidak mau, tawa Keizo lepas juga.
Anna segera berlari ke arah motor gede tersebut dan naik ke jok motor itu. Si pengendara motor menaikkan kaca helm-nya dan menoleh ke arah Anna yang telah duduk manis di belakangnya.
“Kamu tadi diapain sama cowok itu?” tanya laki-laki itu pelan namun terdengar berbahaya di telinga Anna. Anna langsung menggeleng cepat.
“Nggak diapa-apain, Kak. Tadi, Anna cuma ngomongin soal pelajaran sama dia,” balas Anna. Jujur, Anna takut kalau kakaknya itu langsung main tinju-tinjuan sama Keizo. Kan, nggak lucu, dong! Apalagi, Anna melihat, Keizo masih berdiri di tempatnya tadi dengan melipat kedua tangannya di depan d**a dan tersenyum ke arahnya. Sementara kerumunan itu mulai bubar perlahan.
“Benar?”
Anna mengangguk tegas. “Iya, Kak Lez. Kak Lezko nggak perlu khawatir. Ayo, pulang, Kak... Anna capek.”
Lezko mengangguk dan menatap Keizo. Untuk sesaat, keduanya saling tatap. Lezko kemudian menurunkan kembali kaca helm-nya dan mulai melesatkan motor gedenya. Tiba-tiba saja, pikirannya melayang kepada gadis itu.
Kenapa gue jadi kepikiran sama Shabrina, ya?
***
Shabrina melangkah ke dalam kelas dengan pelan. Tadi, Arsyad menemuinya di UKS dan berkata akan mengantar gadis itu pulang. Shabrina mengiyakan dan pamit sebentar untuk mengambil semua peralatan sekolahnya di dalam kelas. Arsyad sendiri langsung menghilang ke toilet.
Sesampainya di kelas, Shabrina membeku di ambang pintu. Gadis itu melihat Victor tengah menatapnya dari tempatnya duduk. Shabrina menelan ludah. Jujur, dia belum siap untuk bertemu dengan Victor saat ini.
Melihat kedatangan Shabrina, Victor langsung bangkit dari duduknya. Laki-laki itu berjalan mendekati Shabrina, namun gadis itu justru mempercepat langkahnya menuju kursinya dan mengambil semua peralatannya.
“Shab....”
Shabrina berusaha melepaskan cekalan tangan Victor dari lengannya, namun gagal.
“Lepasin gue, Vic,” lirih Shabrina.
“Shab, kita harus ngomong.” Victor menatap Shabrina, namun gadis itu mengalihkan pandangan. Berhadapan dengan Victor saat ini entah kenapa membuat Shabrina merasa sangat sakit dan sesak. Luka dalam hatinya seolah diberi perasan jeruk nipis hingga membuatnya perih. Shabrina berusaha mengenyahkan airmata yang sudah siap tumpah keluar.
“Vic... gue... mohon....” Shabrina menarik lengannya, namun Victor masih tetap bertahan memegang lengan gadis itu.
“Vic... lo tau nggak kalau lo udah nyakitin gue?”
Victor terbelalak. Laki-laki itu tidak menyangka bahwa Shabrina mengeluarkan kalimat tersebut.
“Salah gue, apa, Shab?” tanya Victor putus asa. Dia benar-benar tidak tahu apa kesalahannya hingga membuat Shabrina merasa tersakiti.
Shabrina tertawa hambar. Gadis itu membiarkan airmatanya mengalir turun. Karena kalau dia menahannya, hatinya akan semakin perih. Shabrina mendongak dan melihat kekagetan di wajah Victor, ketika laki-laki itu melihatnya menangis.
“Shab....” Victor mengulurkan tangan untuk menghapus airmata di wajah Shabrina, namun gadis itu menolaknya.
“Vic... rasanya sakit banget, disini,” tunjuk Shabrina pada dadanya. “Lo tau, nggak? Ada satu rahasia yang gue simpan rapat-rapat dari lo selama ini.”
Victor diam. Dia memberikan Shabrina waktu untuk berpikir sejenak, sebelum gadis itu melanjutkan ucapannya.
“Gue... gue suka sama lo... gue sayang sama lo, lebih dari sekedar sahabat, Vic....”
“Apa?” tanya Victor tidak percaya. Shabrina memejamkan matanya dan makin menangis. Mendadak, rasa sakit yang dirasakannya di kepala, sejak beberapa minggu terakhir ini, kembali menyerang.
“Gue... suka... sama... lo... tapi... bahkan... lo... nggak... bisa... peka... sama... perasaan... gue... itu....” Shabrina berusaha mengendalikan isak tangisnya, namun gagal.
“Shab... please—“ Victor tidak sanggup lagi melihat sahabatnya itu menangis. Dan, jujur saja, pengakuan Shabrina barusan membuatnya bingung harus berbuat apa.
Shabrina menggeleng dan terisak makin keras.
“Lo... bahkan... bilang... bahwa... seperti... nggak... ada... cewek... lain... aja... yang... bisa... lo... sukain... sampai... sampai... lo... harus... suka... sama... gue....” Shabrina menatap Victor dengan luka yang terlihat sangat jelas di kedua matanya. Hal itu membuat Victor nelangsa dan ingin menghajar dirinya sendiri. “Lo... nggak... tau... sakitnya... gue... waktu... lo... ngomong... kayak... gitu....”
“Shab.... gue....”
“Sakit... Vic... sakit... banget.... emang... gue... kenapa? Gue... kenapa...? Apa... gue... nggak... pantas... untuk... lo... sukain?”
Victor memejamkan kedua matanya dan menggeleng. Rasanya bagaikan ada ribuang pedang menghunus jantungnya saat ini.
“Gue pikir, mungkin, sebaiknya persahabatan kita cukup sampai disini, Vic....” Shabrina berkata demikian, setelah gadis itu bisa mengendalikan isak tangisnya.
Mendengar pernyataan itu, Victor tersentak. Cekalannya pada lengan Shabrina perlahan meluruh. Laki-laki itu menatap Shabrina dengan sorot mata tidak percaya.
“Lo bercanda, kan, Shab?”
Shabrina menggigit bibir bawahnya dan menggeleng lemah. “Gue serius, Vic. Gue nggak bisa memandang lo tanpa harus berpikir bahwa lo adalah sahabat gue, bukanlah laki-laki yang bisa gue sukain. Gue nggak bisa nahan perih dan sesak yang selalu menghimpit d**a gue, kalau gue ngeliat lo di dekat gue. Lo tau, Vic? Hal yang paling menyiksa adalah ketika lo menyukai seseorang yang selalu berada di samping lo, selalu ada buat lo, tapi lo nggak bisa untuk memilikinya.”
Shabrina membalikkan tubuhnya dan melangkah. Kemudian, langkahnya terhenti ketika mendengar ucapan Victor.
“Apa harus dengan cara seperti ini?”
Shabrina memejamkan kedua matanya.
“Shab! Apa harus dengan cara seperti ini?!” seru Victor lagi. “Apa lo tau? Gue juga suka sama lo! Apa lo bahkan peka sama hal itu, hah?!”
Shabrina menggeleng. Airmata itu kembali turun. Victor meremas rambutnya dengan gusar dan menatap Shabrina yang membelakanginya dengan tatapan frustasi.
“Lo cuma kasihan sama gue, Vic, karena lo baru aja mendengar pengakuan gue, tentang perasaan gue ke lo....”
“Itu nggak benar! Gue—“
“Makasih, Vic, buat persahabatan kita selama ini. Makasih karena lo udah mau nemenin gue, dengarin keluh kesah gue, bantuin gue, semuanya. Semoga, lo bisa dapatin cewek yang lebih baik dari gue....”
Victor terbelalak dan langsung bergerak, ketika dia melihat Shabrina kembali melangkah. Seperti kesetanan, laki-laki itu langsung mencekal lengan Shabrina. Namun, mendadak sebuah pukulan keras mendarat di wajahnya. Victor terhuyung mundur dan melihat Arsyad tengah menatapnya dengan tatapan penuh amarah.
“Udah gue peringatin sama lo, jauhin Shabrina! Jangan pernah lo dekatin dia lagi!”
Victor melihat Arsyad menggenggam tangan Shabrina dan membawa gadis itu pergi. Victor merasa udara di sekelilingnya mulai menipis. Rasa sesak mulai menghimpit rongga dadanya. Rasa sakit mulai menerjangnya. Rasa dingin itu mulai menyerbunya.
“Shabrina...,” panggil Victor lirih. Victor bahkan membiarkan rasa sakit itu mengalir dalam bentuk airmata. Dibiarkannya airmata itu mengalir, tanpa peduli kalau ada orang lain yang melihatnya menangis. Tanpa peduli bahwa seorang laki-laki pantang untuk menangis.
Ketika Victor melihat Shabrina tetap melangkah pergi, menjauh darinya, dari hidupnya, memutuskan persahabatan yang sudah terjalin selama ini, Victor hanya bisa berdiri diam dengan pandangan terluka. Kedua tangannya terkepal kuat di sisi tubuhnya.
“SHABRINAAAAA!!!”
***