Menangkap kekhawatiran Zana, Brama menggeleng, “Pak Sena yang akan menghadapi Pak Ginanjar. Saya hanya mendampingi beliau,” jawabnya. Masih menatap Brama, Zana akhirnya mengangguk, tidak mau menganggu Antasena. Tidak mau berurusan dengan sang papa mertuanya itu. “Tapi nanti aku bisa lihat Kak Isha, kan?” “Pasti.” “Oke deh,” Zana mengangguk lagi. Punggung tangannya mengusap mata, lalu menyadari dirinya masih berada dalam pelukan Brama. Zana mendorong d**a Brama. “Lepasin aku,” pintanya. Kemudian mengingat kalau ia duluan yang memeluk Brama, rasanya malu juga canggung. Kembali mengingatkan diri kalau ia tadi benar-benar dalam suasana hati yang buruk. Ia sudah lebih tenang sekarang, kenapa Brama masih menahannya di pelukannya? “Kamu sudah lebih tenang?” Zana mengangguk. “Oke,” Brama b

