Bajuku terasa ketarik, aku kemudian melirik ke bawah, tangan kecil mungil itu ternyata yang menarik bajuku. "Kak, terima kasih ya." Mataku terbuka lebar, anak laki-laki imut dengan mata yang berbinar-binar itu membuka perlahan pintu hatiku yang sudah terlampau aku tutup dengan keimutan dan keluguannya. Aku tersenyum tipis sembari mengelus lembut rambutnya, sebelum sempat mengatakan padanya bahwa aku tidak apa-apa, pandanganku sudah lebih dulu menghitam, setelah itu aku tidak tau apa yang terjadi sampai aku bangun di atas ranjang rumah sakit. Aku menatap sekeliling, aroma dan pemandangan yang cukup asing, tapi aku tau betul bahwa saat ini aku berada di ruangan rumah sakit. Bunyi hentakan kaki yang cepat dan semakin dekat itu membuatku menolehkan kepala ke jendela. Aku melirik ke sebelah,

