"Walau begitu, aku tetap berpikir bahwa mereka adalah orangtuaku, keluargaku satu-satunya. Mereka lah yang selama ini merawat dan membesarkanku, dan terlebih... aku punya seorang malaikat kecil yang selalu menemaniku, yang selalu bersamaku dan menghiburku. Dan aku... jatuh cinta pada malaikat kecilku itu Omar." Aku tersenyum tipis menatap Omar yang nampak bersedih. "Malaikatku itu adalah anak laki-laki yang baik, pengertian, lembut, dia segala-galanya bagiku yang dulu Omar. Tanpa dia, mungkin aku tidak akan mampu bertahan atas semua penderitaan yang aku rasakan saat kecil dulu. Aku tidak pernah meminta apa-apa pada orangtuaku, karena aku mengerti keadaan ekonomi kami, aku sudah sangat bersyukur bisa sekolah, tanpa uang jajan pun tak apa." "Kita sangat-sangat berbeda bukan?" Aku melirik O

