Setelah melepas perpisahan dengan Dodi tadi, aku langsung masuk ke stasiun. Awalnya Dodi ngotot mau mengantarku sampai memasuki kareta, tapi aku tidak kuat berlama-lama dengan sahabat kecilku yang entah kenapa jadi temperamen seperti itu. Aku masih ingat jelas wajah tampannya setelah menangis tadi. "Kalau ada masalah, atau apa pun itu, jangan lupa hubungi aku," ucap Dodi sambil menyeka kedua sudut matanya, menghapus air matanya. "Tentu. Saat kembali ke Jepang nanti, jangan lupa kabarin aku ya!" seruku memberi dorongan pada Dodi. "Pasti! Tanpa kamu minta pun, pasti akan aku kabari!" Dodi tersenyum lebar. Percaya diri. "Hana, biar aku antar kamu sampai memasuki kereta," tawar Dodi tiba-tiba. "Ah tidak perlu, aku bisa sendiri. Lagian aku tidak mau orang-orang melihat wajah tampanmu ini d

