Paginya aku membantu ibu memasak di dapur. Mataku jelas sudah sangat sembab. "Hana, apa kamu akan terus tinggal di sini? Mau menemani hari tua ibu?" tanya ibu sambil memotong daun bawang. Aku menggeleng ringan, "Maaf Bu, sepertinya tidak. Ada seseorang yang ingin Hana temui Minggu depan, mungkin akan membutuhkan waktu yang cukup lama. Jadi, setelah semua urusan Hana selesai... maukah ibu ikut Hana ke kota? Hana sudah mempunyai rumah besar di sana. Kita bisa tinggal bersama!" Aku berseru semangat, menanti jawaban iya dari ibu. Ibu tersenyum tipis padaku. "Ibu sangat penasaran apa yang terjadi padamu di luar sana, Hana. Maukah lain kali kamu cerita pada Ibu? Siapa orang yang ingin kamu temui? Apakah pacarmu? Ibu pikir orang itu Dodi, tapi sepertinya bukan." Ibu mengelus lembut kepalaku, m

