“Access card? Buat apa?”
“You go home with me now, or you are not coming home tonight.” desis Arjun. Rahangnya mengeras. Tangan kanannya terulur, meminta barang yang tadi ia sebutkan.
“Arjun, please...” Galvin merengek, memohon pada pria di depannya agar melunak.
“Access card, Galvin!!” Satu bentakan kembali lolos dari mulut Arjun.
Lagi, sebuah pertikaian terjadi di Galvina yang menjadi tontonan seisi studio. Beberapa kru dan pengunjung menyaksikan pertengkaran yang terjadi antara Galvin dan Arjun, dua orang yang selama ini terlihat akur dan selalu romantis.
Tak terkecuali Giandra, lelaki itu beranjak dari duduknya dan berdiri di samping Xeline, melihat bagaimana raut memelas Galvin saat memohon Arjun untuk tidak mengambil access card-nya. Juga saat Galvin menyeka air mata saat Arjun mengumpat dan mengatakan bahwa Galvin tidak tahu terima kasih. Rahang Giandra mengeras melihat wanita itu terisak dan terus memohon pada Arjun yang kini berbalik meninggalkan Galvin.
“Padahal setahu gue, selama hampir lima tahun kerja di Galvin, Galvin sama Pak Arjun itu akur terus, romantis terus, sampai kadang gue yang suka sama cewek aja pingin ngerebut Pak Arjun. Eh, dia bisa kayak asshole juga.” celetuk Xeline, membuahkan tolehan dari Giandra.
“Oh ya? Nggak pernah gitu, lo denger Arjun berperilaku kasar sama Galvin?”
Gelengan kepala Xeline membuat Giandra mendengus dan kembali menoleh pada Galvin yang menghambur pada mobil SUV hitam Arjun yang hndak berlalu. Sungguh, hatinya merasa ngilu melihatnya. Ingin sekali Giandra menarik lengan Galvin, mengajak wanita itu masuk ke studio dan berhenti memohon pada si asshole.
Kerumunan penonton pertikaian itu bubar saat Galvin membalikkan tubuhnya, mlangkah lunglai memasuki Galvina Studio. Xeline, Giandra, dan yang lainnya melesat ke tempat masing masing. Giandra menarik Xeline ke meja rias untuk meminta cewek pecinta sesama jenis itu bergaya meriasnya seiring Galvin yang semakin mendekat.
Wanita photographer itu menyeka air mata di pipinya. Ia berjalan pada set yang tadi digunakan Belia, meraih tas selempangnya untuk mengambil ponsel. Ada satu pesan dari Belia. Ia membaca pesan adik-adikannya itu.
Belia : Mbak, aku lusa diajak Ben ke nikahan sepupu Gian. Nanti temenin aku ke butik, ya?
Senyum tipis terukir di wajah Galvin seraya membalas pesan itu. Baru saja ibu jarinya menekan tombol B pada keypad, pintu studio terbuka kasar, menampilkan sosok Arjun yang berdiri, menyapu isi studio dengan tatapan marah.
Galvin beranjak dari duduk, berniat menghampiri Arjun. Namun, pria yang kini menampilkan raut datar itu sudah lebih dulu menganyunkan kaki lebar-lebar ke arahnya. Rahangnya mengeras menatap sembab di wajah Galvin.
“Please, Arjun. Dua jam lagi, please, habis itu aku pulang. I beg you...” Galvin merengek.
“Give me you cellphone.” perintah Arjun datar
“What? Untuk apa? Aku—”
“Just, give me this s**t!” bentak Arjun seraya merebut ponsel di genggaman Galvin.
“Arjun, gimana kalau Kalina nanyain soal—”
“I don’t f*****g care about her, Galv!” Lagi, itu sebuah bentakan. Galvin sampai menunduk dan mundur selangkah. “Kamu lebih milih stay di studio, kan? Fine! Then stay dan membusuk aja di sini.”
Hati Galvin mencelos mendengar ucapan pria yang ia sayangi barusan. Perih bukan lagi yang sedang terjadi di dalam sana, namun kehancuran. Runtuh dan tak bersisa. Jauh dalam hati, Galvin tahu bahwa hal semacam ini akan terjadi. Bahwa Arjun akan bosan dan mencampakkannya.
Apa? Menikahimu? Jangan mimpi, Galvin. Pria itu baru saja menghempaskanmu!
“Arjun, aku mohon. Kali ini saja. Aku mohon...” Tubuh Galvin merosot. Ia terisak seraya memeluk dirinya sendiiri. “Aku mohon Arjun. Satu jam... oke abis itu ak—”
Arjun membungkuk, membuat tatapan keduanya bertemu. Pria itu meraih tas selempang Galvin, mengambil dompet, lalu kembali beranjak. Tanpa repot-repot berkata, ia angkat kaki dari hadapan Galvin. Melangkah tergesa keluar studio milik adiknya ini.
Jika Galvin tidak mau memilihnya, baiklah. Galvin bukan satu-satunya alasan Arjun pulang cepat ke Indonesia. Ada hal lain yang menjadi alasannya mengambil penerbangan pertama semalam agar bisa cepat sampai di negara yang sedang dirundung mendung ini.
Dan, sudah jelas bukan Galvin satu-satunya.
*
Giandra menatap wanita itu miris. Jujur, hatinya pilu menatap Galvin. Wanita itu terlihat murung. Meskipun begitu, si iris cokelat gelap itu masih berlaku profesional dengan meng-handle foto pre-wedding teman Kalina—yang dua puluh lima kali lebih cerewet dari Vella.
Si calon bride selalu merasa kurang puas akan pose groom-nya. Minta ini-itu, membuat Xeline yang tak henti mengumpat ketika Galvin memintanya mengambil property. Ajaibnya, Galvin sama sekali tidak mengeluh seperti Xeline dan kru lain. Wanita itu tetap tersenyum sabar menghadapi calon pengantin rese itu.
Dengusan lolos dari mulut Giandra saat manik birunya melirik jam di ponsel. Sudah pukul setengah lima sore, pemotretan itu belum juga selesai. Lelaki bule itu tak henti menoleh pada Galvin, masih merasa khawatir pada wanita yang kini menunjukkan hasil bidikannya pada si calon pengantin pria.
“Nah gini, bagus, Mbak. Wah, nggak salah Kalina recommend kamu.” puji si bride cerewet.
“Thanks, semoga kalian puas sama hasilnya, ya?” Galvin mengulas senyum ramah, membalas jabatan tangan calon pengantin sumringah di depannya.
Tak beberapa lama kemudian, studio mulai sepi. Si klien cerewet sudah pulang setelah mengucapkan terima kasih tadi. Disusul Xeline dan beberapa kru yang lain. Giandra menghela napas, beranjak dari duduknya dan menghampiri Galvin yang tengah membereskan stand tripod dan kamera.
“Hei, mau gue bantu?” tawar Giandra.
Galvin menoleh, mengulas senyum hangat, “Loh, kamu? Kok masih di sini? Daritadi belum balik?”
“Belum, gue nungguin Rizky, tapi nggak nongol-nongol.”
Galvin mengangguk mengerti. Ia kembali mengemasi barang-barangnya, memasukkan kamera kesayangannya pada tas selempang. Saat tiba-tiba ia menoleh dengan raut heran pada Giandra.
“T—tunggu. Kamu nungguin Rizky bukan karena amunisi kamu dibawa dia kayak pas itu, kan?” selidik Galvin, “Pas sampe malem kamu nganggur di depan studio?”
“Gu—apa? Nggak!” elak Giandra, lalu terkekeh pelan, “Nggak, Rizky tadi bilang mau ke sini buat bahas konsep promosi, tapi kayaknya nggak jadi.”
Helaan napas lega keluar dari mulut Galvin, membuat Giandra menyengir. “Karena kalau iya, aku nggak bisa bantuin kamu sekarang. I mean, you know, dompetku dan segala isinya dibawa Arjun. So, aku gembel banget sekarang.” ujar Galvin seraya menutup risleting tasnya.
Mengerucutkan bibir sebelum menghela udara, Galvin kemudian beranjak dari set. Studio ini sudah benar-benar sepi. Hanya ada dirinya dan Giandra saat ini, berdiri bersebelahan menatap jingga yang sudah surut di cakrawala.
“Lo... nggak akan tidur di sini, kan?”
Galvin mengangkat kedua bahunya, “Emang mau ke mana lagi?”
“Gue inget, dulu lo pernah bilang, kalau studio ini ada hantunya.”
Galvin sontak terkekeh mendengar ucapan Giandra, membuahkan senyum di wajah lelaki bule yang sedari tadi khawatir akan keadaannya.
“Aku cuma takut kamu kelaperan aja dulu, Gi. But yeah, hantu bisa ada di mana aja, kan? Aku bisa aja tetep pulang dan tidur di koridor apartemen, kamu inget, ada kursi?”
“Tapi lo nggak akan lakuin itu, kan?”
“Jelas aja nggak. Di apartemen itu ada banyak teman Arjun, dia bisa malu kalau ada temennya yang mergokin aku ngegembel.”
“So... maybe you can go home with me?” tawar Giandra dengan nada takut-takut.
Si wanita gembel mengatupkan bibirnya, memandang sepenuhnya lelaki yang lebih tinggi darinya itu.
“Aku nggak pa-pa, Gi. Studio ini nggak begitu buruk. Ada makanan juga.”
“Tapi apa studio ini... aman? Maksud gue, dari maling atau yang lain? I know you can handle ghost, maybe. But thief? Gue beneran khawatir.”
Galvin mengulas senyum hangat. Tangan kanannya menyentuh bahu kanan Giandra, “Kamu mending cepet pulang. Udah malam, Gian. Beneran, aku nggak apa-apa.”
“Gue nggak akan pulang sebelum lo pulang sama gue.” sungut Giandra sungguh-sungguh.
Mulut Galvin terbuka, melongo menatap raut serius wajah lelaki di depannya.
“I won’t do anything. I promise. I just wanna help you.” Giandra membuat gestur pinky promise.
“Well, I know you won’t do anything. Tapi aku nggak mau ngerepotin kamu, Gian.” Lagi, senyum hangat yang membuat Gian merasa sedikit lega.
“Anggap aja gue balas kebaikan lo waktu itu. Oke, gue tau, lo dulu tulus bantuin gue, dan kali ini gue coba lakuin hal yang sama. So... sebelum semakin larut dan gue mulai merasa horor. Yuk!” Giandra meraih tas selempang yang selalu dipakai Galvin, menenteng benda berisi kamera itu dan menggandeng tangan kanan wanita di sisinya itu.
“Tapi, Gian....”
“Please... gue nggak bisa lihat lo terdampar di tempat gede yang nggak ada cctv-nya ini. Kalau kebiasaan sleepwalking yang pernah lo sebut itu kambuh, dan boom, lo ilang gimana?”
Atas ucapan itu, Galvin merotasikan mata, menurut saja ke mana lelaki bule ini menariknya.
*
Parkiran Galvina Studio hanya terdapat satu motor, sejenis motor sport seperti yang digunakan pebalap MotoGP di tv yang pernah Galvin tonton. Giandra menghentikan langkah di samping motor hitam itu, mengambil helm dan memberikannya pada Galvin.
“Kita naik ... M—motor?”
“Iya, gue tadi bawa motor. Nih,” Giandra menunjukkan goresan kembar di sikunya, “Karena jatuh dari motor. Sengaja nggak bawa mobil biar Rizky nggak pinjem.”
“Terus, kalau aku pakai helm, kamu pakai apa?”
“Pakai ini.” Giandra menggunakan snapback hitam dengan logo klub sepak bola Liverpool. Kemudian, pemuda yang katanya sedang balas budi itu mengenakan jaket hitam sebelum menaiki motor. “Lo pakai itu aja dulu. Ntar rambut lo berantakan. Ntar kita beli helm.”
Tak mau mendebat, Galvin memakai helm merah itu, mengikuti arahan Giandra untuk ikut naik di atas motornya.