Kelabu mendominasi cakrawala pagi ini. Di balkon apartemennya, Galvin duduk sembari menyesap teh. Iris cokelat gelapnya menatap ke angkasa tanpa hangat sinar mentari di pukul setengah delapan pagi ini. Sudah empat hari ini, kelabu juga menjadi warna di paginya. Sejak sore itu, Arjun sama sekali tidak bisa dihubungi. Adik perempuan Arjun pun sama seperti Arjun: tidak bisa dihubungi. Menyebalkan!
Wanita berambut keriting panjang itu seharusnya sudah pulang kemarin sore, seperti yang dulu dijanjikannya. Namun, hingga pagi yang mendung ini kembali datang, Kalina belum juga pulang dari honeymoon part ke-20 nya.
Galvin mendesah kesal, seiring teh di cangkirnya yang habis. Wanita itu meraih ponsel di atas meja, mendapati ada sebuah pesan dari Belia.
Belia : Mbak, nanti kita jadi ada photoshoot lagi, kan? Mamanya Ben mau lihaaattt. OMG aku nervous, Mbaakkk!
Galvin mengulas senyum. Ini sudah hari keempat sejak Galvin mengajak gadis modis itu ke sebuah galeri lukisan milik keluarga Arjun. Dirinya dan Belia menjadi semakin akrab. Keduanya pun sering bertukar cerita—atau Belia yang sering cerita dan Galvin yang mendengarkan. Menurut Galvin, Belia gadis yang menyenangkan. Di usianya yang baru menginjak 19 tahun, ia sudah aktif di kegiatan sosial untuk anak-anak kurang mampu dan penderita kanker.
Kekasih Ben itu pernah sekali mengajak Galvin untuk mengunjungi salah satu yayasan tempat Belia mengajar. Rasa kagum semakin membuat Galvin begitu menyayangi gadis berambut cokelat itu, menganggap gadis itu seperti adiknya. Maka, sebagai kakak yang baik, Galvin akan memberi nasehat.
Galvin : you’re gonna be fine. Beauty is what inside, and you already have both. Beautiful soul and beautiful face. Aku yakin mamanya Ben udah tahu itu. See you.
***
Galvina studio siang ini tidak begitu ramai, baik di lantai satu maupun lantai dua. Jesse sedang merias Belia ditemani oleh Shena, mamanya Ben. Xeline tengah membantu Galvin menata set untuk pemotretan Belia selanjutnya, Wendi baru saja datang bersama Giandra—lelaki yang empat hari ini absen karena kegiatan kampusnya sedang padat.
Galvin mengernyit melihat si bule yang hari ini terlihat berbeda. Wanita itu bahkan membenarkan letak kacamata yang ia pakai demi bisa lebih jelas melihat apa yang beda dari Giandra. Pemilik iris biru itu sedang menghampiri ibunda Ben, membungkuk sopan, lalu mengambil duduk di sebelah Jesse yang sedang merias Belia.
“Xeline,” panggil Galvin pada Xeline. Yang dipanggil menoleh, “Menurut kamu, apa yang beda dari Giandra? Kok kayaknya dia nggak kayak terakhir aku ketemu.”
“Eumm...” Xeline terlihat mengamati, “Outfit sih sama, jadul. Ganteng juga masih sama. Ah, his hair, you see? It’s darker that the last time we met, four days ago?”
Galvin mengangguk. Kemudian, wanita itu kembali menyusun buku-buku di meja. Selama empat hari ini, jarak kembali membentang antara Giandra dan Galvin. Setelah pesan Galvin ‘kidding. I’m fine, Gian. Have fun, see you :)’ tempo hari, Giandra sama sekali tidak membalas pesan Galvin. Benar-benar menyebalkan. Arjun tidak bisa dihubungi dan Giandra pun tidak nampak batang hidungnya. Lucky, Galvin has Belia.
Menghela napas panjang, Galvin meraih kameranya. Seperti biasa, mengambil gambar set kosong terlebih dahulu. Kemudian, si model cantik yang ditemani ibu kekasihnya itu naik ke atas panggung. Here we go! Pemotretan dimulai.
Belia sudah berpose selayaknya model, Galvin dengan cekatan mengambil gambar, dan Giandra? Lelaki itu tak henti mengamati wanita yang empat hari ini ia rindukan. Senyum lega terukir saat netranya tak menemukan apapun itu—seperti sayatan di lengan dan memar di pergelangan tangan. Kedua manik cokelat gelap itupun cerah, tidak sembab maupun meenghitam seperti minggu lalu.
Yap, the photographer is totally fine!
*
Pemotretan itu masih berlangsung. Belia sedang berpose dengan outfit celana baggy putih dan turtle neck hitam lengan panjang sembari menggendong ransel kecil di punggung. Senyum ceria ia tampilkan tepat pada lensa kamera Galvin. Looks so gorgeous.
Studio begitu sibuk menjelang makan siang ini. Salah satu dari manusia yang masuk dalam daftar orang menyebalkan versi Galvin mengirim pesan. Kalina, dalam pesannya mengatakan bahwa akan ada salah satu teman SMP-nya yang melakukan foto pre-wedding dan ingin Galvin yang menangani. Adik kandung Arjun itu mengucapkan permintaan maafnya karena batal pulang cepat.
Aku lagi di Palawan. Damn, Galv. Di sini bagus banget! Kamu harus ajak Kak Arjun ke sini kalau si tukang sibuk itu free. Sorry, ya. Aku janji akan bawain kamu banyak hadiah!
Begitulah pesan yang diterima Galvin tadi saat ten minutes break setengah jam yang lalu. Dengusan lolos dari mulut Galvin saat membaca kata banyak hadiah.
“Memangnya aku anak kecil yang masih pantas dirayu pakai hadiah?” Galvin menggerutu seraya mengabadikan pose Belia yang sedang mengibaskan rambut sebahunya.
“Siapa yang ngerayu lo pakai hadiah?” Sahutan suara lelaki itu membuat Galvin menurunkan Nikon D850-nya. Giandra, berdiri di sampingnya sambil bersidekap menatap Galvin. Galvin hanya menyengir, hendak menjawab saat Ben dan Rizky datang menghampiri. Dua bos Oldies Club itu membawa dua keresek besar berisi kotak makan.
“Maksi dulu, yuk!” ajak Ben. Lelaki itu menyerahkan keresek yang ia bawa pada Giandra, lalu melenggang santai pada set, meraih lengan gadisnya untuk turun. “Nggak apa kan, Mbak?”
“Oh, nggak apa.” Galvin mengacungkan jempolnya. “Okey, kita break lunch dulu ya. Nanti lanjut lagi.” kata Galvin pada seluruh kru.
*
Galvin melahap gado-gado yang dibelikan Rizky khusus untuknya dalam waktu setengah jam. Kini, wanita yang membekap mulut karena ingin muntah itu berhamburan menuju kamar mandi, membuahkan raut khawatir di wajah Belia. Adik-adikan Galvin itu melirik kesal pada Rizky yang asyik memakan cokelat bar dengan pisang, lagi.
“Riz, lo kenapa beliin Mbak Galvin gado-gado coba? Mana nyuruh ngabisin lagi!” omel Belia.
“Ya kan sayang kalau nggak dihabisin.” Rizky menjawab setelah menelan pisang coklat-nya. “Gue beli pakai duit bukan pakai onta!”
“Kan lo tau, dia nggak bisa makan masakan bersantan, dudul!” Giandra ikut mengomel.
“Emang gado-gado bersantan? Sok tau! Enggak ada itu. Hoax!” Rizky mengelak.
“Rizky!” Itu suara mamanya Ben, “Gado-gado ada santannya, bang!”
“Tante tahu darimana?”
“Yee, Tante sering masakin itu kan kalau kalian nginep di rumah. Gimana sih!”
“Geblek emang Rizky ini. Udah gue bilang tadi, mampir Japfood. Eh, dia nggak mau.” imbuh Ben.
Mengabaikan Ben yang menyikutnya, Rizky bertanya pada mamanya Ben, “Tante, setau Rizky, bumbu gado-gado sama sate Madura itu sama, dan Sate madura enggak pakai santan, ih.”
“Ya kalau bakar sate ya nggak ada santannya. Tapi bumbu kacangnya itu ada santannya.”
Yang terjadi setelahnya adalah adu pendapat antara Mamanya Ben dan Rizky. Pemuda bossy itu tetap kekeuh bahwa bumbu kacang gado-gado dan bumbu kacang sate tidak bersantan. Sebaliknya, Mama Ben mengatakan jika keduanya memakai santan. Bahkan, ibu dua anak itu sampai membuka aplikasi resep masakan untuk membuktikannya pada Rizky.
Perselisihan yang cukup menghibur seisi studio sebenarnya. Kecuali Giandra. Lelaki yang rambut blonde terangnya berganti menjadi cokelat itu tak henti mengawasi pintu toilet. Pada Galvin di dalam sana yang sudah jelas tidak baik-baik saja.
Apa jangan-jangan dia pingsan?
Cukup lama rasanya Giandra terfokus pada benda persegi panjang berwarna putih itu. Hingga pintu itu terbuka, sosok Galvin muncul dengan muka basah—sehabis cuci muka mungkin— tangan kanannya memegangi perut, dan tangan kirinya menggenggam ponsel.
Melihat kehadiran Galvin, Rizky tergopoh menghampiri Galvin. Raut khawatir ia tampilkan untuk wanita tidak baik-baik saja yang berjalan pelan menuju kursi wardrobe di dekat kamar mandi. Tak lama setelah Rizky berjalan di sisi Galvin, Belia, Ben, dan mamanya juga ikut menghambur pada Galvin. Sama seperti Rizky, ketiganya menampilkan mimik khawatir.
“Mbak, maafin Rizky, ya? Rizky lupa kalau mbak nggak bisa makan masakan bersantan. Harusnya Rizky tadi nggak maksa Mbak buat ngabisin gado-gado. Harusnya lagi, Rizky tadi mampir Japfood buat beliin mbak takoyaki atau ramen aja. Harus—” cerocos Rizky terhenti karena Galvin menyela.
“Nggak apa, Riz. I’m fine.” Galvin mencoba mengulas senyum hangat. Meraih kursi rias, ia mendaratkan bokongnya di sana. Galvin lantas meletakkan ponsel di atas meja, lalu menyeka peluh di keningnya. Ia tidak mengira jika muntah ternyata menguras banyak tenaga.
“Kita perlu ke rumah sakit, Mbak?” Belia bertanya khawatir.
“Nggak perlu. Aku baik-baik aja. Abis ini aku masih ada kerjaan. No need to worry, I’m fine.”
“Lo sih, Riz!” Ben lagi-lagi menyalahkan, “Kan dulu Mbak Galvin udah bilang, dia nggak makan masakan bersantan. Malah lo beli—”
“Bukan karena bersantan kok, Ben.” sela Galvin, “Itu karena kentang sama lontongnya. Those are carbohydrate. Yang mana aku nggak bisa makan keduanya bersamaan.” Lagi, senyum hangat itu Galvin tampilkan agar wajah-wajah khawatir yang menatapnya memudar.
“Tapi kamu beneran nggak apa, kan?” Mama Ben mengusap pipi Galvin, “sampe merah ini pipi.”
“Saya baik-baik aja, Tante. This is not for the first time.”
“Still, ini salah Rizky!” Belia mengomel, “Suruh dia tanggung jawab, Mbak.”
Perselisihan itu kembali hadir. Giliran Belia yang menjadi partner adu pendapat Rizky. Ditemani Ben dan mamanya, Rizky dikeroyok dan kalah telak. Galvin memilih angkat kaki dari pertempuran tidak imbang itu. Wanita yang baru saja menumpahkan gado-gado ke dalam kloset itu menghampiri iris biru yang masih duduk di sofa ujung ruangan.
Mengulas senyum, Galvin lantas duduk di samping Giandra. “Jadi, apa yang membuat kamu pilih cokelat sebagai warna baru rambut kamu?” tanyanya. Jemari sialannya tanpa diperintah mendarat pada poni Giandra yang di-pomade ke belakang.
“Sepupu gue mau ada yang nikah, dia pingin gue dan sepupu gue yang lain warna rambutnya sama. Cokelat, so...ya gue ikutan aja. Kelihatan jelek?”
“Nggak kok. Bagus, kelihatan beda. Kayak bukan Giandra Sienaya yang malam itu terdampar di teras dan dikagetin kucing.” Galvin terkekeh setelah berkata demikian.
“Sialan,” Giandra ikut terkekeh, lalu lelaki itu menangkap tangan Galvin yang masih berada pada kepalanya, membawa tangan itu pada paha Galvin, “Gue seneng lihat lo baik-baik aja.”
Mengulas senyum tipis, Galvin berujar, “Gado-gadonya enak kok. Kalau itu nasi, aku masih bisa makan bareng kentang. Tapi, karena tadi lontong, aku berasa ... God, I’m done. Aku nggak bisa makan itu. So... you know what happened.”
“Tapi maksud gue... gue seneng luka di lengan lo udah pudar, dan nggak ada guratan merah bekas kena kawat di kedua pergelangan tangan lo.” Giandra menunjuk bekas luka di lengan kanan Galvin yang memudar.
“A—Hei... siku kamu kenapa?” Galvin meraih tangan lelaki di sampingnya. Pada siku kanannya. “Ini masih merah loh, pasti lukanya baru, kan?” tunjuknya pada dua goresan merah di siku Giandra.
Giandra hendak menjawab, saat Ben, Belia, dan Rizky menghampiri, mengatakan akan pulang lebih dahulu karena Ben harus mengantar mamanya kerja. Si lelaki kurus tinggi itu mengucapkan permintaan maafnya sekali lagi, dan berjanji akan menebus kesalahannya dengan mentraktir Galvin makan sepuasnya—sampai Rizky miskin di restoran Jepang.
“Kamu belum—” Pertanyaan Galvin tak selesai karena Xeline yang menghampiri, mengatakan jika ada mobil SUV hitam yang memasuki halaman Galvina Studio.
Buru-buru Galvin beranjak, meninggalkan Giandra dan melangkah tergesa menuju serambi studio. Pria pemilik SUV hitam yang dimaksud Xeline sudah berdiri di teras studio. Ia melepas kacamata hitamnya, mengulas senyum menawan menyambut kehadiran Galvin. Melebarkan kedua tangannya yang langsung disambut oleh Galvin. Meskipun begitu, keterkejutan masih menyerang wanita yang kini berada dalam rengkuhan Arjun.
“I thought you said, two weeks.” lirih Galvin, menghirup aroma mint pria yang merengkuhnya.
“Aku pingin ngasih kamu kejutan.” jawabnya seraya mengurai rengkuhan. “Kamu terkejut?”
“I’m speechless. Ar... kamu tahu aku nggak terlalu suka kejutan. I hate something unprepared.”
Arjun mengulas senyum hangat, mengusap pipi wanitanya. Mendekatkan wajah, ia lantas berbisik, “I miss my million kisses already, and I want you so f*****g bad, babe.” Tak lupa, kecupan pun ia daratkan pada pipi, telinga, dan leher Galvin.
“Ar...” Galvin merangkum wajah kekasihnya. “Ini siang sibuk di studio, Kalina bilang, temennya sebentar lagi mau datang untuk foto pre-wedding. Dia minta aku yang ngehandle temannya.”
“I-want-you-now.”
“Please... aku udah janji sama Kalina. You know she will disappointed if I—”
“And I will get mad if you don’t come home with me, now!” Arjun menaikkan suaranya.
“Arjun... kita masih bisa melakukannya setelah—”
“Now, or I’ll get mad!”
“Please, Arjun... we still have a lot of time to do—”
“I said, now!!” Itu sebuah bentakan keras yang membuat Galvin sampai mundur dua langkah.
Wanita di depan Arjun itu menghela napas. Sebenarnya, ia bisa saja ikut kekasihnya ini pulang dan mengatakan yang sejujurnya pada Kalina, si adik itu tidak akan marah. Namun, sesuatu menahan mulut Galvin untuk patuh pada Arjun siang ini. Di dalam bangunan di belakang Galvin itu, tidak ada fotografer yang bisa menggantikannya—jaga-jaga jika saja klien yang dimaksud Kalina sama cerewetnya seperti Kalina.
“Arjun, please don’t be childish. Aku benar-benar harus tingg—”
“Me? Being childish? Aku ambil penerbangan tercepat semalam agar bisa nemuin kamu, Galv. Mana bagian aku yang childish? Aku cepat-cepat ngelarin kerjaan di Bangalore supaya bisa pulang dan...” Arjun memejamkan mata. Ia sudah sangat lelah dan ingin menutup rasa lelahnya dengan berpeluh bersama wanita cantik yang terlihat berseri di depannya, menghirup aroma vanila yang menguar ketika keduanya saling bersentuhan kulit, bersatu melebur dalam kenikmatan dari pelepasan nafsu. Arjun sungguh menginginkan Galvin sekarang.
“Dan...?” Galvin mengulang ucapan Arjun.
“Di mana access card kamu?” tanya Arjun datar. Raut marah begitu kentara di wajahnya yang tegas. Sorotnya pun tajam terarah pasti pada manik cokelat gelap di depannya.
“Access card? Buat apa?” Galvin balik bertanya.
“You go home with me now, or you are not coming home tonight.”