Trapped-1 : Jealousy; 2

1845 Kata
Benar saja dugaan Galvin, ternyata memang Giandra tadi mengajak Vella. Saat Galvin sampai di Japfood—seperti pesan yang dikirimkan Belia—si gadis SMA yang sudah mengganti seragamnya dengan stripe t-shirt dan rok panjang itu sudah duduk manis di samping Giandra. Pipinya bersemu  mendengar ucapan Giandra—yang entah apa itu . Galvin, yang berdiri tak jauh dari meja yang dipesan Belia, menghela udara. Ia menyeret langkah pada meja kasir, mengatakan pada Maya untuk membungkuskan takoyaki untuknya sementara ia akan mengunjungi meja ujung di Japfood, mengatakan pada Belia dan teman-temannya jika ia tidak bisa ikut hang out karena banyak pekerjaan. Ya, begitu saja. Ia akan kembali mengalami situasi canggung jika ikut hang out bersama remaja di meja ujung itu. “Hai,” sapa Galvin seraya melambaikan tangan. Para penghuni meja nomor 7 itu menoleh padanya, Ben bahkan mengangkat bokongnya dan menggeser kursi untuk Galvin karena kursi lainnya sudah penuh. “Eh, nggak usah, Ben. Aku rasa, aku nggak bisa ikutan hang out malam ini. Ada banyak banget yang harus aku kerjain.” tutur wanita yang mulai mendorong bahu Ben agar kembali duduk. “Yaahh... kok gitu, Mbak?” Itu suara Rizky dan Belia secara bersamaan, membuahkan tolehan dari Ben, Giandra, dan gadis blonde di samping Rizky. “Padahal Rizky mau ngenalin Mbak Galvin sama Naima,” sambung Rizky sambil merengkuh singkat gadis pirang di sampingnya. “Hai, Naima.” sapa Galvin, mengulas senyum ramah. “Hai.” Naima menyahut, membalas senyum Galvin tak kalah ramah. “Mungkin lain kali kita bisa hang out? Aku bener-bener banyak kerjaan. But, aku udah bilang sama kasir Japfood, semua yang kalian pesan, it’s all free.” Galvin masih menampilkan senyum ramah. “Buat Rizky dan Naima.” “Whaatttt?!?!” Itu pekikan tidak terima dari Belia, Ben, dan Rizky, membuat Giandra menutup kedua telinganya atas suara serempak itu. “Mbak, ini nggak adil.” Belia berbicara seraya beranjak dari duduknya. “Si tukang perintah ini tadi siang yang janji nraktir. Dan mbak gantiin bayarin karena Rizky jadian sama Naima? Mbak, kenapa kita baru kenaaaalll? Kenapa nggak dari dulu, aku sama Ben jadian kita kenalnya?” rengek Belia. Ben menahan senyum sebelum menarik lengan Belia agar kembali terduduk. Lain Ben, lain pula dengan Rizky yang mencibir Belia. Pun dengan Galvin yang malah tergelak. “Really, guys. I gotta go. Have fun!” ujar Galvin setelah tawanya surut. Wanita itu mengusap bahu Belia dan Ben bergantian. Kemudian, senyum hangatnya terurai untuk Rizky dan gadis sebelahnya. Saat tiba pandangannya pada si bule dan gadis imut di sampingnya, Galvin hanya tersenyum tipis seraya mengangguk, tanda pamit. Iya, api itu mulai panas menyerang hatinya. Maka, wanita banyak kerjaan yang mengambil alih tugas Rizky mentraktir teman-temannya itu memilih segera angkat kaki menuju takoyakinya di meja kasir, meninggalkan Japfood, beserta tiga pasang muda-mudi yang tak henti menatapnya hingga menghilang di balik pintu restoran. “She’s so cute." I mean, dia udah dua puluh enam tahun, tapi masih cocok jadi anak kuliahan.” Belia yang pertama berkomentar. Maniknya teralih dari pintu Japfood pada Ben di sampingnya. “Jadi yang tadi itu si potografer?” tanya Naima seraya menepis rengkuhan Rizky dan mulai meneguk soda. “Yap.” Vella menyahuti, “Awal ketemu, aku kira dia bakalan judes, Kak. Eh, ternyata baik banget. Suka deh, aku sama Kak Galvin.” sambungnya, mengulas senyum gembira. “Suka sama Kak Galvin?” Naima mengulang kalimat terakhir gadis rambut sebahu yang masih tersenyum gembira, “Nggak suka sama cowok di sebelah kiri kamu itu?” lanjutnya, menggedikkan dagu pada Giandra yang menunduk, memainkan gadgetnya. Tendangan pelan pada kakinya membuat Giandra mendongak, sorot Ben membuat si iris biru itu menatap kekasih Belia itu heran. “Lo kenapa sih, Gi? Nunduk mulu.” Ben kemudian mengedikkan kepalanya pada gadis bersemu di sebelah Giandra, membuat gestur bahwa Vella menyukainya. Namun, Giandra malah seolah tidak peduli. Lelaki itu kembali menunduk, fokus pada gawainya. Jemarinya dengan cekatan mengetik pesan yang sedari tadi ia hapus-lalu tulis-lalu hapus lagi. Hingga akhirnya ia yakin mengirimkan pesan itu. Giandra : Hey, inget pas gue bilang, you can talk to me if you need a friend? Pesan yang tidak begitu lama mendapat balasan, membuahkan lengkungan pada kedua bibirnya. *** Wanita itu membatalkan pesanan taksi online-nya saat pop up pesan muncul. Dari Giandra. Melirik kursi kosong di trotoar, Galvin mendaratkan bokongnya di sana, membuka pesan dari si iris biru. Lengkungan itu tidak bisa ia tahan. Jemarinya dengan cepat membalas. Galvin : I need a friend :( Yang kemudian dibalas dengan... Giandra : lo di mana? Gue samperin. Senyum sialan itu semakin merekah. Meraih tasnya, mengeluarkan takoyaki dan mencomot satu, Galvin kembali membalas pesan itu. Galvin : kidding. I’m fine, Gian. Have fun, see you :) Setelahnya, wanita dengan mulut penuh takoyaki itu menutup aplikasi chatting dan berganti pada panggilan, menelpon prianya yang mungkin sudah mendarat di suatu tempat. Direject? Galvin mengernyit. Kemudian, sebuah pesan masuk dari Arjun. Arjun : So, bussy for few days. Don’t call. Miss you xx Helaan napas kesal lolos dari mulutnya. Seiring dengan kehadiran seseorang di sampingnya. Galvin menoleh. Oh, dua orang. Ben dan Belia. “Kok masih di sini, Mbak?” tanya Belia. Gadis itu lalu mengambil duduk di sebelah Galvin. “Oh, iya lagi nunggu taksi. Kok kamu di sini?” “Bosen. Triple date is not that fun. Cewek yang sama Giandra cerewet banget.” sambung Belia. Si gadis bosen itu menarik lengan Ben agar ikut duduk di sampingnya. “Mbak... beneran sibuk?” “Eumm...” Galvin menoleh pada Belia, yang otomatis pandangannya juga bertemu dengan Ben. Lelaki romantis itu membuat gestur menggeleng—entah apa maksudnya. Namun toh Galvin ikut menggeleng dan berujar, “Nggak juga sih. Kenapa?” “Kita jalan, yuk. Ke manaa gitu. Berdua aja, si Ben,” Belia menoleh singkat pada kekasihnya, “dia disuruh mamanya buat ke rumah sakit.” “Siapa yang sakit?!” “Mamanya Ben kan kerja di rumah sakit, Mbak.” “Oh,” helaan napas lega lolos dari mulut Galvin, “kirain ada yang sakit.” “Mama kerja di administrasi, Mbak.” Ben ambil suara, “Kalau kakak Ben, jadi perawat.” “Mbak Galvin nggak nanya, Beennn...” Belia menoleh pada lelakinya itu, merangkum kedua pipi Ben, kemudian melayangkan tatapan kesal. “Oke, kita jalan ke.... galeri, mau?” Galvin menyahut, membuat tatapan kesal Belia memudar. “Boleh, aku yakin tempat yang akan dituju Mbak Galvin pasti seru.” “Pasti.” Galvin memasukkan ponsel ke dalam tas dan membuang kotak takoyakinya pada tempat sampah. “Mau aku antar, apa...?” Ben menawarkan. “Kita bisa ke sana sendiri kok, Ben.” “Iyes, babe. Kamu langsung ke rumah sakit aja. See you.” kecupan singkat Belia pada pipi Ben menjadi perpisahan dua perempuan itu dengan si rambut hitam pekat. Belia dan Galvin lantas menghentikan taksi yang kebetulan melintas, sedang Ben melambaikan tangan pada kekasihnya sebelum memasuki mobil sedan miliknya. *** Giandra menutup pintu mobilnya setelah memastikan Vella memasuki rumah. Lelaki itu kembali melajukan mobilnya, pulang ke rumah. Saat dering notifikasi ponsel membuatnya menepi. Itu pop up notifikasi postingan i********: Belia. Pacar teman baiknya itu baru saja mengirim foto dirinya di sebuah galeri. Giandra men-double tap postingan itu, lalu menggulir layar ponselnya, membaca caption Belia pada postingan barusan. Seperti biasa, kalimat bijak. Badai itu pasti datang, selain harus bersiap, kamu juga harus yakin bahwa badai tidak akan turun selamanya. At least, if you already prepare, you will not drowning. Caption and photo taken by : Mbak Galvin. Location : Artemis Gallery. “Tunggu, apa? Belia lagi sama Galvin?” gumam Giandra. Pemuda itu kembali mamacu mobilnya menuju Artemis Gallery. Entah mengapa, rasa khawatir itu kembali mengganggu konsentrasi lelaki bule itu. Giandra merasa Galvin sedang tidak baik-baik saja. * Alih-alih menyusul Galvin dan Belia di galeri, Giandra malah memilih ke salon milik sepupunya untuk mewarnai rambut. Sepanjang perjalanan, lelaki itu terus mengingatkan dirinya jika wanita yang akan ia tuju sudah memiliki kekasih. Giandra jelas saja tidak mau menjadi perebut kekasih orang. Sudah cukup api cemburu itu membakarnya seharian—atas yang ia lihat pagi tadi, Galvin mencium kekasihnya sebelum pemilik SUV itu pergi— Giandra ingin memadamkan kilatan jealousy itu dari dalam tubuhnya dengan mewarnai rambut. Kebetulan, sepupunya ini memang menyuruhnya untuk mewarna rambut sejak beberapa hari terakhir. Si ocean blue eyes itu melenggang santai memasuki salon milik sepupunya, Rena. Wanita gemuk namun tinggi itu menyambut kedatangan Giandra dengan kecupan singkat pada pipi, lalu mempersilakan sang model untuk duduk. “Jadi, lo beneran mau gelapin warna rambut lo?” Rena bertanya seraya mengulurkan apron coloring pada Giandra. Anggukan dari adik sepupunya itu membuat Rena tersenyum. Wanita itu bergegas menyiapkan segala keperluan untuk mewarnai rambut Giandra. “Kalau itu bikin gue lebih keliatan ganteng seperti yang lo bilang, yes, I’ll do that.” “Uluh, ganteng buat siapa sih? Cewek rambut sebahu yang tadi makan sama lo?” Giandra menatap kakak sepupunya itu dari cermin. “Yang mana?” “Yang diunggah sama Rizky di Insta story dia, Gi. Yang imut itu... cewek lo?” “Sembarangan, bukan, Ren. Dia anak SMA Dellinger yang tadi interview gue buat majalah sekolah dia, bukan siapa-siapa gue. Tadi Rizky bilang mau nraktir, jadi gue ajak aja si Vella, biar tekor itu si cowok tukang perintah.” jawab Giandra, mengulas senyum tipis. “Oh, namanya Vella. But she’s cute. Kayaknya dia baik dan menyenangkan.” Giandra hanya mengangkat kedua bahu. Enggan membahas Vella—si cute dan menyenangkan yang ternyata banyak omong—dengan Rena, sepupunya yang minggu depan akan menikah. Sepuluh menit berlalu dalam sunyi. Rena fokus menggarap helaian rambut blonde Giandra. Sesekali wanita bertubuh lumayan besar itu bersenandung. Sedangkan Giandra memejamkan kedua mata, mencoba abai akan apa yang ia lalui hari ini—Galvin dan kekasihnya, wawancara Vella, makan di Japfood, dan... senyum tipis Galvin sebelum wanita itu melenggang meninggalkan Japfood. Lelaki itu menghirup udara dalam-dalam sambil masih memejamkan mata. Sialnya, ingatan membawanya pada aroma vanilla yang menguar dari tubuh Galvin malam itu. Sejenis aroma manis yang mudah membuat siapa saja lapar. Dalam arti sebenarnya, maupun arti ... dewasa. “Ren... gue boleh nanya?” tanya Giandra. Meskipun begitu, irisnya masih menutup. “Tanya aja, Gi. Segala ijin, kayak gue ini siapa aja.” Rena menatap refleksi sepupunya pada cermin. “Menurut lo, jatuh cinta sama orang yang udah punya pacar itu... salah nggak sih?” Rena menghentikan sapuan warna cokelat gelap itu pada rambut Giandra. Calon pengantin itu mengernyit atas pertanyaan lelaki di depannya. Jauh di dalam hatinya, Rena kepo. Namun, ia coba untuk tidak peduli dan menjawab, “Gini, Gi. Kita nggak bisa maksa hati kita untuk hanya cinta sama orang yang masih single, kan? Perasaan adalah hal yang... liar menurut gue. Hal yang... susah buat dikendalikan. So, for me it is not a mistake.” Kedua iris biru itu terbuka. Giandra menyorot Rena yang lebih dulu menatapnya melalui cermin besar di depannya. Diam yang masih coba dijaga Giandra, membuat Rena melanjutkan ucapannya, “As long as you can put yourself in the right place, I think it’s okay.” “In the right place?” “Iya. Maksud gue, dia udah ada kekasih, kan? Jadi kalau lo cuma jatuh cinta aja, ya nggak apa. Tapi, kalau lo udah punya pikiran buat...entahlah semacam ingin ngerebut, itu yang salah. When we fall in love, we can’t ask that person to love you back. Love is to share, and ask nothing in return.” tutur Rena. Kedua tangannya kembali mewarnai rambut lelaki di depannya. “Just remember, Gi. Something that you can’t control, is something that can lead you into danger.” “So... intinya gue dalam bahaya karena gue suka sama cewek yang udah punya pacar?” “Pardon me, lo suka sama cewek yang udah punya pacar?!” Rena memekik keras, “What the—” “Dia menarik, Ren. I don’t know. She’s different, and I like her. So... before it’s getting late, can you please tell me, what I’m supposed to do?” Rena menghela napas. “Ask your heart, Gian. Apa hati lo meminta lebih untuk perasaan lo ke dia? Karena kalau hati lo oke, nggak merasakan percikan api—jealousy saat cewek itu sama cowoknya, so it’s okay, I guess. But, if you feel that jealousy, it is not okay.” Yes, cause I think it is not okay—I feel that jealousy this morning, batin Giandra.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN