Kedua manik cokelat gelap itu belum bisa terpejam. Menggeliat, Galvin mencoba melepaskan diri dari pelukan posesif pria di belakangnya. Meski tidak mudah, namun wanita itu bisa juga terlepas dari rengkuhan kekasihnya.
Berjalan mengendap di kegelapan kamar Arjun, Galvin meraba pakaian di atas sofa, mengenakan asal pakaian yang bisa ia dapatkan, lalu mengenakannya. Ah, itu kaos Arjun karena terasa begitu longgar. Setelahnya, wanita dengan kaos kebesaran itu membuka pintu dan keluar dari kamar Arjun yang bernuansa hitam.
Galvin berjalan menuju dapur, menyambar ponselnya yang ia biarkan sejak tadi di meja. Kemudian, wanita yang mulai menguncir asal rambut berantakannya itu berjalan ke balkon apartemen. Waktu yang tertera pada ponselnya menunjukkan pukul setengah dua belas malam.
Pada kursi kayu dengan ukiran bunga melati, Galvin mendudukkan diri. Menghela napas, wanita itu membuka pesan yang tadi dikirimkan Giandra—yang sempat menganggunya. Lelaki muda itu tadi menghubunginya sebanyak delapan kali, namun hanya satu pesan yang diterima Galvin.
Gue Giandra. Lo beneran nggak mau cerita? Gue kepikiran.
Jemarinya dengan ragu mulai mengetikkan balasan. Sembari menggigit bibir, Galvin menekan ikon send pada pesan yang telah ia ketik.
Galvin : I’m fine, Gi. There’s nothing to be worried about.
Kemudian, Galvin meletakkan ponselnya di meja. Netranya berfokus pada gemerlap cahaya bintang di gelapnya malam. Ketenangan yang ia rasakan selama dua menit, sirna karena dering ponselnya.
Sebuah balasan dari Giandra.
Oke. Gue nggak ada maksud ikut campur. Tapi gue beneran kepikiran sama luka lo itu. Udah lo obatin, kan?
Jemari kurus itu bersiap membalas saat pintu balkon terbuka, disusul the sleepy Arjun yang berjalan ke arah Galvin. Tahu-tahu lelaki itu bersimpuh di depan Galvin dan mulai meneggelamkan wajah pada pangkuan wanita itu.
“Why did you leave me?” lirih pria ngantuk itu.
“I just can’t sleep, not leaving you.” Jemari kurus itu mengusap rambut tebal Arjun. Mengabaikan pesan Giandra, Galvin menuntun prianya itu kembali menuju kamar.
“Don’t you ever leave me.” gumam Arjun, membuat senyum hangat terukir di wajah Galvin.
***
Mobil SUV hitam itu kembali berhenti di depan Galvina Studio pagi ini. Pria di balik kemudi mobil itu melepas kacamata hitamnya. Pandangannya masih ia arahkan pada bangunan milik adiknya itu.
“Beneran, kamu nggak mau ikut aku ke bandara?” tanya Arjun seraya menoleh pada Galvin yang kali ini berada di jok belakang karena tadi mengatakan masih mengantuk.
Wanita yang meringkuk di kursi belakang itu mencebik seraya menggeleng. “Aku nggak bisa nyetir mobil, Arjun. Kecuali kalau ada Kalina, aku mau.” Galvin beranjak duduk.
“Cewek bandel itu harus diteror biar cepet balik”
“Mmm-hmm.. Harus.” Karena bentar lagi ulang tahunku. “Safe drive, okay?” pesan Galvin pada pria yang kini kembali mengenakan sunglasses-nya.
Anggukan dari Arjun membuat Galvin tersenyum tipis. Meraih tas selempangnya, ia kemudian turun dari mobil, mengetuk kaca jendela Arjun. Ketika kaca jendela itu diturunkan, Galvin membungkuk dan mencium bibir prianya untuk beberapa saat.
“I’m gonna miss you so freaking much.” ucap Galvin seraya mengusap jambang tipis prianya.
“Yeah, me too. Promise me, when I get back, I’ll get my million kisses again.”
“I promise.” jawab Galvin lalu terkekeh, melambaikan tangan seiring mobil SUV hitam itu yang meninggalkannya di depan Galvina Studio.
Helaan napas lolos dari mulutnya. Saat ia berbalik, manik biru itu menyorotnya. Giandra, berdiri bersandar salah satu pilar serambi bangunan bergaya klasik Italia itu. Kedua tangannya bersembunyi pada saku jaket jeans hitam yang ia kenakan, terlihat keren, sih.
Galvin menelan saliva. Untuk sorot biru yang menatapnya intens itu, langkah kakinya terasa berat untuk terayun. Alhasil, ia hanya berdiri di tempat. Cokelat gelap irisnya, membalas sorot tak mudah dipahami dari biru netra Giandra. Galvin mati gaya.
***
Suasana lantai dua Galvina studio ramai pada pukul 10 pagi ini. Belia kembali melakoni photoshoot untuk clothing line miliknya. Karena lantai satu sedang diadakan another photoshoot untuk buku tahunan salah satu SMA di kota, maka Galvin menyarankan melakukan pemotretan di lantai dua saja. Kebetulan lantai dua ada satu set yang sesuai dengan tema katalog pertama Clothing line milik Belia.
Si gadis yang kemarin berulang tahun itu kini tengah melempar senyum lebar pada lensa kamera Galvin. Satu tangannya terangkat ke udara, membuat gestur high five selagi ia duduk pada kursi kayu.
“Jadi, semalam kalian pulang jam berapa?” tanya Galvin berbasa-basi.
“Jam setengah sebelas. Hehe, sialan banget malah ketemu sama mantannya Rizky. Jadi, kami yang niatnya mau pulang setelah Mbak Galvin pulang, malah nggak jadi. Mana mantan Rizky bawa temen juga. Tekor deh, aku.” Si model menjawab dengan raut sedih yang dibuat-buat.
Galvin tersenyum di balik Nikon D850 miliknya. “Kalo... Giandra?”
“Ah, si jomblo dari lahir itu pulang setelah Mbak pulang. Tante Tasya telpon katanya ada acara keluarga. Jadi dia pulang. Untung banget dia nggak ketemu mantan Rizky yang resek itu.”
“Se-resek apa, sih?”
Belia sudah membuka mulut, hendak menjawab saat si lelaki kurus tinggi itu menghampiri Galvin bersama Ben, Giandra, dan... Vella.
“Tuh, tanya aja sama yang punya mantan, Mbak.” ujar Belia seraya menunjuk Rizky dengan dagu.
“Apa?” tanya Rizky.
“Buset, siang gini pakai turtle neck nggak gerah, Riz?” canda Galvin, kembali mengarahkan kamera pada Belia di set. “Mana item, lengan panjang lagi.” imbuhnya, kemudian kembali mengambil gambar Belia di set.
“Mbak Galvin, kemarin nggak gerah pakai jumper all day all night?” Rizky balik tanya.
“Kan dia masuk angin.” Itu suara Giandra, menyahuti dari belakang Galvin.
“Iya sih. Rizky juga masuk angin kok, Mbak. Mbak Galvin nggak buka jasa ngerokin?”
Atas ucapan Rizky barusan, Giandra melayangkan tepukan keras pada punggung Rizky. “Modus aja lo! Sini gue kerokin pakai cangkul.”
“Ya elah lo emosian mulu dari kemarin.”
“Oke... kalian ada perlu sama Belia?” Galvin mencoba melerai. “Karena kalau nggak ada, aku butuh konsentrasi untuk photoshoot agar cepat selesai, karena Belia ada janji sama Ben dua puluh menit lagi, dan kamu, Giandra, ada janji interview sama Vella jam makan siang.”
“Wait, what? Gue nggak meras— Riz...” Giandra melirik Rizky dengan raut kesal.
“Bukan gue juga.” Rizky mengangkat kedua tangan.
“Aku... yang minta Vella datang.” sahut Galvin. “Kasian tau, dia kayaknya belum puas wawancara kamu, Gian.”
Memutar bola mata malas, Giandra lantas berlalu begitu saja dari lantai dua. Tanpa merasa peduli, Rizky lantas bersuara, “Nanti hang out lagi yuk? Gue malas masak. Gue yang traktir, deh.”
“Kalau lo yang traktir, I’m totally in, Riz.” Belia menyahuti, “We’re totally in, ya kan Mbak?”
“Hah?!” Galvin menoleh pada Belia, bingung.
“Iya, kata Mbak Galvin, dia juga bakalan ikut, Riz. Lo booking tempat gih.”
“What? Belia, aku nggak bis—”
“Udah, Mbak Galvin ikut aja, ya?” sela Rizky setengah memohon, membuahkan kerucut di bibir Galvin.
“Fine. Tapi nggak ada game dan semacamnya.”
“Promise.”
***
Ketika jam makan siang itu tiba dan Galvin turun dari lantai 2, dilihatnya sosok imut Vella menatap Giandra yang sedang bermain gitar akustik—entah dapat darimana anak itu. Namun, hal langka itu cukup menarik perhatian Galvin. Diarahkannya kembali Nikon D850-nya pada si sorot biru.
“Vella, senyum.” suruh Galvin pada si imut berseragam putih abu-abu itu.
Refleks, Vella menoleh dan mengulas senyum tepat ke arah lensa kamera Galvin. Tak lupa dua jempolnya ia angkat untuk aksi Giandra di sampingnya. Lain dengan Vella yang terlihat sumringah, si gitaris dadakan malah terlihat masam.
Desahan kesal lolos dari mulut Galvin karena sikap menyebalkan Giandra. Wanita itu mendekat pada si pemain gitar, berjongkok seraya mengacak rambut cokelat blonde pemuda bule itu.
“Ck, apa—” Giandra hendak protes.
“Gi, please. Vella udah tampil memukai di kamera, ya kali modelnya malah kecut gini.” sela Galvin. Si potografer itu lantas menarik dua sudut bibir Giandra, memaksa lelaki kecut itu untuk tersenyum. “Yang lebar senyumnya, tuh kayak Vella. Kamu mau tampil di majalah SMA Dellinger, Giandra.”
Si model majalah SMA Dellinger merotasikan bola mata. Namun toh akhirnya ia tersenyum lebar pada lensa Nikon D850 itu. Bahkan, di akhir sesi, si cewek imut itu mendapat rengkuhan singkat dari Giandra. Hal yang tak luput dari bidikan Galvin, dan entah untuk alasan apa membuahkan rasa panas yang mulai membakar benaknya.
Meskipun begitu, wanita di penghujung 26 tahun itu tetap mengulas senyum hangat dan ikut merengkuh Vella saat gadis SMA itu pamit pulang.
“She’s so cute. Reminds me of Kalina.” lirih Galvin seraya melihat hasil bidikannya di kamera.
“Yeah, she is cute.” sahut Giandra sembari berlalu dari sisi Galvin. Pemuda itu berlari mengejar Vella yang sudah berada di luar studio, mengucapkan entah apa pada si remaja berambut sebahu. Namun Galvin yakin, yang dibicarakan Giandra adalah tentang ajakan. Karena Vella terlihat mengangguk antusias. Senyum dan rona di wajah Vella terlihat begitu menggemaskan bagi Galvin. Meskipun begitu, rasa panas yang tadi sempat Galvin rasakan, kembali mendera benaknya.
Rasa seperti... Jealousy?