Ocean blue eyes itu terlihat tidak rela menatap wanita di sampingnya yang terlihat bersiap--siap hendak pulang. Meskipun begitu, senyum tetap ia lemparkan pada lelucon yang dibuat teman-teman kurang ajarnya. Si wanita yang terngah mengemasi kamera mahalnya itu menoleh pada Giandra, pada jakun lelaki yang meriasnya itu. Ia menelan saliva. Buru-buru menunduk saat Giandra menoleh padanya.
“Eh, hp lo jangan sampai lupa.” ujar Giandra seraya mengulurkan ponsel Galvin.
“Oh, thanks.”
“Mbak Galvin harus banget pulang sekarang?” Suara Belia terlihat sama seperti tatapan Giandra tadi, tidak rela. “Seru tahu, akhirnya Belia ada temen cewek pas lagi hang out gini.” rengek si gadis berambut sebahu.
Galvin hanya menyengir seraya menutup risleting tasnya. “Iya, aku masih ada kerjaan. Ini juga udah lumayan malem. Jadi... ya... I gotta go home.”
“Yah, baru juga jam lapan, Mbak.” Ben menimpali ucapan kekasihnya.
Lagi, Galvin menyengir. “Lain kali kita hangout lagi deh.”
“Beneran, ya?” Itu suara si lelaki bossy.
“Iya.”
“Yah, Mbak Galvin masih marah.” keluh Rizky seraya memanyunkan bibirnya, membuat Galvin menahan tawa di dalam hatinya.
“Lo, sih. Ngasih dare macem-macem.” sahut Giandra.
“Ya, kan seru!”
“Tapi kan jadi marah dia!”
Galvin tersenyum melihat percikan api yang mulai nampak dari netra si bungsu dan si sulung. Ia berdehem, mengumpulkan suaranya, kemudian berkata, “Hajar aja itu si Rizky, Gi. Kan jadi marah aku!”
Dua lovebird lantas terbahak, sedangkan Rizky kian memanyunkan bibir. “Jahat banget, sumpah.”
Mengabaikan Rizky yang mulai drama, si bungsu menoleh pada Galvin, “Lo pulang naik apa?”
“Jalan kaki, mungkin. Grass Property hanya seratus meter dari kafe ini ternyata.”
“Kenapa malah ke Grass?”
Galvin kembali menyengir. Memilih tidak menjawab pertanyaan Giandra, maupun menjelaskan pada pemuda lain di gazebo itu. “Aku duluan, ya? Oh ya, Belia,” Galvin terlihat mengeluarkan sesuatu dari saku hoodie-nya, “Happy birthday,” ucapnya seraya mengulurkan flashdisk pada si gadis ulang tahun, “Candid kamu sama Ben.”
Belia menerima benda mungil berwarna kuning itu, “Aaaa... makasih banyak, Mbak.”
“Itu bukan hanya candid hari ini. Tetapi juga dari pertama kalian ke studio.” Galvin mengulas senyum hangat. Hatinya bahagia hanya karena senyum senang dari gadis yang hari ini berusia 19 tahun itu. “duluan, ya. Jangan pulang malem-malem.”
Setelahnya, si photographer berlalu dari gazebo itu. Tanpa menoleh sedikitpun pada si iris biru yang rupanya sedikit berharap akan dapat ucapan ‘selamat malam’ khusus, atau ucapan terima kasih karena riasan dari Giandra benar-benar membuat Galvin terlihat cantik.
Dengusanlah yang akhirnya meluncur dari mulut si bule. “Gue ke toilet bentar.” ujarnya seraya beranjak dari duduk. Melenggang begitu saja meninggalkan gazebo, lelaki itu berjalan menuju...
“Gian!!” teriak Rizky, “Woi toilet di sana!” lanjutnya seraya menunjuk toilet tak jauh dari gazebo.
Giandra hanya menoleh dan mengangkat kedua bahu, lalu kembali berjalan. Ia mengikuti Galvin. Ada sesuatu yang sedari tadi ingin ia tanyakan.
***
Ketika ia sudah berada di halaman kafe, wanita yang dikejarnya sedang bersiap menyeberang jalan. Giandra segera menghampiri trotar tempat Galvin berdiri. Dengan napas terengah, ia menepuk bahu Galvin, membuahkan keterkejutan pada wanita 25 tahun dengan tas selempang pada bahu kanan yang baru saja ia sentuh.
“Sori, ngagetin, ya?”
“Giandra? Kenapa?”
“Lo kenapa ke kantor Grass? Eh.. nggak, maksud gue... kenapa lo daritadi nggak lepas jumper lo? Segitu parahnya masuk angin lo? Mau gue anter pulang aja?” Astaga, gue ngomong apa deh, barusan!
Galvin mengulas senyum hangat. “Kamu ngos-ngosan cuma buat nanya jumper?”
Dengusan Giandra yang lantas menjadi jawaban dari pertanyaan Galvin. Masih dengan tersenyum hangat, Galvin menyambung, “Aku baik-baik aja, Gi.” Tangan kiri wanita itu bergerak menarik bagian lengan kanan jumper yang ia pakai, menunjukkan luka seperti cakaran pada lengannya, “This is why I’m not taking this jumper off.”
Giandra mengernyit ngeri menatap luka yang masih segar itu. Satu tangannya bergerak mengusap tangan Galvin, pada bagian pergelangan tangan kanan Galvin.
“Kenapa bagian ini merah lagi? Dan, luka apa ini?” tanya Giandra seraya menunjuk luka yang ditunjukkan Galvin. “Cowok lo ngelakuin ini ke lo?”
“It’s just a scratch, Gian. I’m totally fine.” Galvin lantas menutup kembali lengannya. “Kamu nggak perlu khawatir.” lanjutnya, balas mengusap lengan Giandra.
“Gue baca fifty shades, dan apa yang dilakuin cowok lo itu adalah kelainan, Galvin.” Resah terlihat kentara pada raut si iris biru. Menyikapi itu, Galvin kembali mengulas senyum hangat seraya mengangkat kedua bahunya.
“Aku baik-baik aja, Giandra Sienaya. Dan, makasih udah make up-in aku. Good night.” ucap Galvin kemudian berlalu meninggalkan Giandra yang berdiri mematung.
“Hey, you can talk to me if you need a friend!” Giandra setengah berteriak.
Wanita di depannya berhenti. Tanpa menoleh, si wanita hanya mengulurkan jempolnya sebagai jawaban.
***
“Hey, you can talk to me if you need a friend!”
Kalimat itu sukses menghentikan langkah Galvin. Ia menghela napas, merasakan sesak mulai menyentuh hatinya. Pelupuknya pun mulai bersambut air mata. Ibu jarinya ia angkat ke udara tanpa menoleh pada lelaki di belakangnya. Berharap itu cukup meyakinkan Giandra jika dirinya memang baik-baik saja. Kemudian, Galvin kembali melangkah menuju prianya yang sudah menunggunya di Grass Property.
Meskipun begitu, entah mengapa ucapan Giandra barusan menganggunya. Selama ini, memang Galvin tidak pernah benar-benar memiliki a friend to talk to—terlebih tentang perlakuan Arjun. Memang benar juga kata Giandra tentang perlakuan prianya yang menyimpang. Namun di balik itu semua, Arjun adalah sosok yang lembut dan penyayang. Romantis dan selalu ada untuknya.
Perilaku kasar hanya ditunjukkan Arjun saat keduanya saling bersentuhan kulit saja. Mengikat pergelangan tangan, menggores kulit, menjambak, tak jarang memukul tubuh Galvin, semuanya hanya ketika dirinya dan Arjun saling menyatukan tubuh. Selain itu, tidak pernah. Toh, Galvin juga menikmatinya. So, it wasn’t a big deal, right?
Namun, semenjak bertemu Giandra, perlakuan kasar Arjun jadi terasa membuatnya sakit. Seperti semalam, saat Arjun menggoreskan pisau steak ketika mereka bercinta. Semula, hal itu bisa Galvin tahan seiring kecupan lembut di sekujur tubuh dari bibir Arjun. Tetapi semalam, perih itu begitu terasa. Ya ampun, apa yang terjadi padanya?
Hey, you can talk to me if you need a friend?
Galvin tersenyum miring. Mungkin Kalina benar. Ia harus mulai membuat pertemanan. Galvin harus mulai memiliki teman yang bisa ia ajak cerita. Karena selama ini ia hanya punya Kalina, dan tidak mungkin wanita itu menceritakan perlakuan kakak pada adiknya, kan?
Galvin menghela napas. Ia sudah sampai di gedung tinggi berwarna hijau rumput itu. Ponsel ia keluarkan dari dalam saku untuk menghubungi kekasihnya itu. Baru saja panggilannya tersambung, sebuah pelukan dirasakan Galvin. Ia menurunkan ponselnya, mengulas senyum tipis.
“Arjun, ini tempat umum.” ucapnya pelan.
“Aku cuma meluk kamu dari belakang, nggak masukin kamu dari belakang.” sahut Arjun santai.
Galvin melepas pelukan itu seraya berbalik. “Pulang sekarang?”
“Mmm-hmm... Aku udah laper.”
Wanita tidak punya teman itu berjinjit, berbisik di telinga Arjun, “Yeah, me too.” bisiknya seraya tersenyum nakal.
See? I’m fine, tapi kenapa Giandra selalu ngira aku butuh bantuan?
Pria dengan setelan hitam itu menyeringai. Hanya untuk dua detik karena detik ketiga, kernyitan menghiasi wajah tegasnya, “Kamu... dandan?”
Upss!
*
“Keliatan jelek, ya?”
Pertanyaan itu adalah yang ketiga kalinya diterima Arjun seiring perjalanan menuju parkiran Grass Property.
“Cantik, sayang.” Itu adalah jawaban yang sama yang ia ucapkan untuk Galvin. “Tumbenan kamu pakai make up? Ada acara penting?”
“Nggak ada. Tadi Belia, inget, kan? Yang aku cerita tadi pagi, model, dia ada kasih dare buat make up aku. Dan jadilah ini.”
Arjun menghentikan langkah, menatap iris takut-takut wanita di sampingnya. “Kamu cantik, babe. Entah pakai make up, atau ‘polos’.” Senyum hangat terurai dari bibir menggoda pria itu. “Aku seneng kamu hangout sama temen-temen kamu.”
“Well, for the record, they are not my friend. Mereka masih belasan tahun, Arjun. Belia ulang tahun, dan aku ikut perayaan ultah. That’s it.”
Pelukan lantas didapatkan Galvin. “Nggak apa kalau kamu mau berteman sama mereka.” lirih Arjun seraya menghujani leher wanitanya dengan kecupan lembut. “But, don’t forget that I’m always be your home.”
Anggukan mantap yang terasa dari wanita dalam rengkuhannya ini, membuahkan senyum lebar. Arjun selalu menyukai sifat penurut Galvin.
“Kita pulang. Ada yang mau aku omongin sama kamu.”
***
Dapur yang luas itu temaram. Galvin tengah duduk di salah satu kursi meja makan. Irisnya terarah pasti pada pria yang berlutut di depannya. Senyum pun terukir dari wajah cantik yang masih berbalut make up mahal Belia itu. Arjun, pria di depannya itu tengah mengoleskan obat untuk luka goresan di tangan kanannya, sesekali disertai tiupan kecil yang terasa menggelitik.
Arjun, mendongak, menatap Galvin dengan menyesal, “Masih sakit?” lirihnya.
“It’s not that hurt, Arjun. Kamu berlebihan.” Galvin mengusap puncak rambut prianya yang sedikit berantakan, “I’m okay. It will heal.”
“Well, it has to heal soon.” Arjun kembali meniup bagian yang luka itu. “Lain kali kita nggak akan lakuin itu di dapur. Banyak hal berbahaya di dapur, yang nggak bisa aku bedain kalau aku udah... you know, get burn by desire.” lanjutnya kemudian terkekeh pelan. Kekehan ringan yang juga keluar dari mulut Galvin.
“Dan kita nggak akan lakuin itu di balkon apartemen.” ujar Galvin menimpali ucapan kekasihnya, “I mean, gimana kalau ada yang lihat?”
“Itu jam dua pagi, nggak akan ada yang lihat. Astaga, Babe.” Arjun menggelengkan kepalanya sambil kembali mengoleskan salep pada pergelangan tangan Galvin.
Keheningan tercipta karena Arjun fokus mengobati luka kekasihnya. Sedangkan Galvin tak henti mengamati guratan lelah di wajah pria yang berlutut di depannya itu. Seperti... prianya benar-benar terlihat lelah.
“What happened?” tanya Galvin seraya meraih dagu Arjun, membuat tatapan keduanya bertemu.
“Hmm...?” Arjun mengerutkan kening.
“Kamu bilang mau ada yang kamu omongin. Apa?”
Gerakan mengusap luka itu terhenti. Seiring semakin intensnya tatapan keduanya. Tubuh Galvin merosot dari kursi. Ia ikut bersimpuh seperti Arjun. Kedua tangannya bergerak merangkum pipi kekasihnya. Kemudian, ia memberi kecupan ringan pada bibir Arjun.
Senyum tipis terurai dari bibir pria itu. “What was that kiss for?” bisiknya.
Kedua bahu Galvin terangkat. “Pengurang rasa lelah, maybe?”
Arjun terkekeh ringan. Kedua tangannya bergerak merengkuh jemari wanitanya. “Thank you.” Dikecupnya kening Galvin untuk beberapa waktu sebelum ia melanjutkan, “I gotta go back to Bangalore for few weeks.” dengan intonasi keberatan.
Intonasi yang kini nampak di wajah Galvin, keberatan. “For how long?”
“Nggak tahu, mungkin dua minggu.” Kedua bahu Arjun terangkat, “Ada banyak kerjaan yang nggak bisa diurus dari sini. You’re gonna be okay with that?”
“But...” Galvin enggan meneruskan meski ia sungguh keberatan dengan keputusan Arjun. Maka, ia mengulas senyu pada kekasihnya disertai anggukan kepala. “Kapan kamu berangkat?”
“Besok siang. f**k! Andai Kalina udah bisa pulang minggu ini, aku pasti akan ajak kamu juga. I mean, you always love Bangalore, don’t you?”
Lagi, anggukan kepala dari Galvin sebagai balasan dari ucapan Arjun. Yang terjadi setelahnya adalah, Galvin mendorong tubuh pria di depannya hingga tergeletak di lantai dapur. Kemudian, si wanita yang keberatan karena akan ditinggal kekasihnya itu merangkak naik ke atas tubuh sang pria. Dengan senyum nakal, Galvin membuka kancing kemeja prianya satu persatu dengan gerakan sensual, meloloskan kemeja hitam yang membalut tubuh pas Arjun.
Galvin sudah siap menghujani bagian atas tubuh Arjun dengan ciuman, ketika ponselnya di atas meja berdering. Mulanya, ia ingin mengabaikan saja. Namun, dering itu terus berbunyi, mengganggu.
“Maybe it’s important, it’s okay,” kata Arjun seraya mengulas senyum hangat.
Untuk pertama kalinya, kegiatan panas itu ia biarkan terjeda oleh panggilan tanpa henti dari ponsel Galvin. Mendesah kesal, Galvin beringsut menuruni tubuh kekasihnya, berjalan malas pada ponselnya di atas meja. Kurang ajarnya, ponsel itu berhenti berdering. Berganti dengan bunyi pop up sebuah pesan dari aplikasi chat-nya.
Sebuah pesan singkat dari nomor asing yang membuat Galvin kehilangan minatnya pada apapun sekarang.
Gue Giandra. Lo beneran nggak mau cerita? Gue kepikiran.