Trapped-1 : Truth or Share;2

1572 Kata
“Oke, dare,” Rizky bersuara. “Gue dare lo, buat make up in Mbak Galvin.” “What?!!” Itu pekik semua orang di gazebo mid 22. Bahkan, Rizky yang memberi dare ikut memekik. Setelahnya, si kurus tinggi berambut cokelat tembaga berlesung pipi dan menyebalkan itu tertawa. “Ayolah, lihat itu wajah pucat Mbak Galvin. Lo kan pinter make up, Ben.” sambung Rizky setelah tawanya reda. “C’mon, Babe, make up Mbak Galvin.” Belia memberi semangat kekasihnya. Ben hanya menggeleng seraya tersenyum tipis. “Oke, aku akan jawab pertanyaan yang truth aja.” Ucapan Ben itu membuat Galvin menghela napas lega. Galvin tidak suka ada orang yang menyentuh wajahnya— siapapun kecuali Arjun. “My first kiss was... Belia.” jawab Ben, melirik gadisnya itu dari ekor mata. “Stop lying, I’m not your first kiss. I knew it.” “Serius, Belia. Oke, aku emang kelihatan playboy, tapi memang kamu cewek pertama yang aku cium.” jelas Ben seraya menyelipkan anak rambut Belia ke belakang telinga. “Ouch, you guys are so sweet.” ujar Galvin. “I’m so jealous.” “Oke, gue mulai mual, jadi ayo lanjut.” Rizky meraih beberapa permen dan mulai mengedarkan gelas. Kali ini sial, gelas itu kosong pada tangan Galvin. Yang berarti dia yang akan ditanyai. “I’ve been waiting this for so looooongg!!!” ujar Rizky semangat. “Mbak—” “Gue yang kasih pertanyaan.” sela Giandra, “Kenapa lo nggak suka permen?” “Gian!!” Rizky terdengar merajuk, “Nggak bisa gitu pertanyaan lo lebih berbobot?” Mengabaikan protes Rizky, Giandra kembali bertanya, “Kenapa lo nggak suka permen, tapi suka banget makanan Jepang?” Galvin menahan napas ketika sorotnya dan iris biru Giandra bertemu. Jujur saja, Galvin merasa ada ketegangan yang terjadi antara keduanya beberapa hari terakhir. Namun, setelah melihat iris biru itu menyorotnya hangat, Galvin refleks membalas tatapan itu dengan senyum hangat. Ocean blue eyes, looking in mine. I feel like I might, sink and drown and die. “Kenapa nggak suka permen? Karena rasanya manis. Kenapa suka makanan Jepang? Karena aku suka pedas, dan kebanyakan makanan Jepang itu pedas.” jawab Galvin. “Masakan padang juga pedes, Mbak.” sahut Rizky seraya menunjuk rendangnya yang masih utuh. “Mbak harus cobain,” lelaki itu menyodorkan piringnya pada Galvin. “Tapi aku nggak makan masakan bersantan, Rizky,” tolak Galvin, mendorong kembali piring rendang itu pada Rizky. “So, no thank you.” “Cobain, Mbak. Sesendok aja, nggak bikin kolesterol naik, nih.” Si pemuda bossy itu menyendok rendangnya dan menyodorkannya pada si pecinta makanan Jepang, “buka mulut coba, hak!” “Apaain sih, Riz.” Giandra mendorong sendok itu, “Kan udah dia udah bilang nggak suka. Kalau dia sampai kenapa- kenapa karena ususnya nggak bisa mencerna rendang gimana?” “Ya elah, Gian, cuma sesendok ini!” Sementara Rizky dan Giandra yang mulai adu argumen, Belia dan Ben saling menatap, seperti menangkap sesuatu dari pertikaian kecil si sulung dan si bungsu. Sedangkan si sumber pertikaian, Galvin memilih diam, dan diam-diam mengabadikan adu pendapat itu dengan kameranya. “Oke-oke, aku makan.” Galvin sudah bersiap membuka mulut untuk menerima suapan Rizky. Namun, suapan dari lelaki bossy itu tidak cukup sampai pada Galvin. Maka, sendok berisi rendang itu diambil alih Giandra dan jadilah, Giandra menyuapi Galvin karena kedua tangan Galvin masih sibuk memegangi Nikon D850 kesayangannya. Suapan itu sudah mendarat dengan selamat di dalam mulut Galvin. Wanita itu terlihat mengunyah. Rautnya terlihat menimbang rasa rendang yang tadi disuapi oleh Giandra. “Enak?” tanya Giandra mewakili Rizky dan yang lain. “Lumayan.” jawab Galvin setelah memastikan masakan padang itu sudah masuk ke dalam perutnya. “Mau lagi?” Giandra sudah siap menyendok rendang di piring Rizky. “Modus!” ujar Rizky seraya menepuk bahu teman di sampingnya itu. “Nggak, makasih.” tolak Galvin, “But, mungkin aku mau foto rendang kamu dulu deh, Riz. Mau aku ulas di blog nanti.” “Oh, boleh-boleh. Sekalian sama Rizky di foto, ya?” Si lelaki pemilik rendang itu sudah berpose; tersenyum lebar hingga lesung pipinya terlihat, saat tangan Giandra dengan usil menutupi wajahnya. “Woyy! Gue mau jadi model, Gian! Sekali-sekali, masa lo mulu!” “Udah-udah.” Belia menengahi. Gadis itu kembali memasukkan permen ke dalam gelas plastik dan mulai mengedarkannya. “Kita lanjut lagi main.” Kali ini, gelas plastik itu kosong di tangan Giandra. Si rambut blonde itu mengumpat karena senyum-senyum miring yang terarah padanya; Ben, Belia, dan Rizky. Rizky sudah siap menyerang dengan pertanyaan, “Gue dare lo—” “Heh, tomat! Gue milih truth.” sela Giandra. “Tell us the truth, di mana lo nginep pas malam itu?!” tanya Rizky antusias. Galvin refleks terbatuk. Ia lantas meraih gelas jusnya dan minum. Giandra melirik Galvin sejenak, lalu menjawab... “Itu rahasia.” “C’mon, Man. Lo tidur di mana?” Ben menyahuti. “Kan udah gue bilang, rahasia. Oke, gue pilih share.” “Oke,” Belia menyahuti, tersenyum sama seperti Rizky dan Ben; jahil, “Share orang terakhir yang lo stalk di semua medsos yang lo punya.” “Belia, I’m sure you said that no cellphone are allowed.” ujar Giandra seraya menunjuk tumpukan ponsel beraneka merk di tengah meja. “Oke-oke. Share, letak tahi lalat di badan lo!” “What the—” Ucapan Belia membuahkan gelak tawa Rizky, diikuti Ben dan si pembeli challenge, Belia. “Aduh, Ben. Cewek lo mata keranjang.” ujar Rizky seraya menunjuk si rambut sebahu dengan talunjuk kurusnya. Ben tersenyum tipis pada Belia, kemudian ia menutup kedua mata sang kekasih dengan telapak tangannya, “Nih, Belia nggak bakal lihat. Udah buka itu baju!” “Still I wont do that.” tolak Giandra. “Why?” tanya Rizky seraya bersidekap. Giandra mengerling pada wanita di sisi kanannya yang membidik aktivitas mereka dengan kameranya. “Udahlah, dare aja!” sahut Rizky, tersenyum penuh kemenangan meski ia belum tentu menang. “Oke, I take the dare.” “I dare you to make up-in Mbak Galvin.” kata Rizky. Dagunya menunjuk Giandra dan Galvin bergantian, “Make up lo mana, Belia?” todongnya pada Belia. Dengan bersemangat, Belia meraih tasnya dan mengeluarkan tas make up. “Yaayy, berguna juga hadiah ulang tahun dari mama gue pagi ini!” Sementara Belia yang mulai mengeluarkan segala jenis perias wajah yang ia bawa, Rizky dan Ben yang tertawa puas, dua manik ocean blue Giandra bertautan dengan manik cokelat gelap Galvin. Seolah tatapan itu meminta ijin pada wanita yang harus menjadi objek dare sialannya. “Gian!” panggil Rizky, memaksa kotak mata Giandra dan Galvin berakhir. “Buruan!” “Wait, nggak bisa dare lain apa? Gimana kalau Galvin alergi make up?” “Ya Tuhan, Giandra Sienaya! Make up dari mama gue aman!” bentak Belia. Giandra berdecak kesal. Kepalanya ia tolehkan pada Galvin, menatap wanita itu putus asa. Sedangkan yang ditatap menggeleng lemah seraya menggigit bibir. “Please,” lirih Giandra putus asa. “Iya, tadi aja Mbak Galvin mau nyobain rendangnya Rizky. Di make up Giandra masa nggak mau?” Itu suara si lelaki bossy banyak maunya disertai tatapan memelas seperti anak kecil minta dibelikan jajan. Galvin ikut mendengus seperti Giandra. “Itu... beneran aman, kan?” tunjuk Galvin pada deretan alat perias di atas meja; eyeshadow, konselar, eyeliner, dan yang lainnya. “Amaaannn!!” Belia mengacungkan kedua jempolnya, “Tenang Mbak, nanti Belia yang bimbing si Gian.” Mendesah pasrah, Galvin beringsut mendekat pada si tukang make up dadakan, Giandra Sienaya. Ben dengan cekatan meraih Nikon D850 Galvin dan siap membidik. “Kalau hasilnya nggak memuaskan, jangan timpuk gue, oke?” hardik Giandra. Galvin hanya mengangguk. Resah begitu kentara di wajah si pemilik manik cokelat gelap itu. Menelan saliva, Galvin lantas berujar, “I—I trust you.” Sebuah ucapan yang langsung membuat lengkungan senyum di bibir Giandra terbit. * Hampir dua puluh menit berlalu. Gazebo di bagian tengah kafe itulah yang paling heboh. Belia terlihat gemas seraya masih memberi intruksi pada Giandra untuk memoles wajah pucat Galvin. Ben, tergelak bersama Rizky sambil sesekali mengambil gambar. Giandra, terlihat bingung membedakan pensil alis dan pensil bibir. Sedangkan si kelinci betina berlesung pipi di bagian kanan itu masih seperti tadi, terlihat resah atas apa yang sedang terjadi di wajahnya. “Sakit nggak?” tanya Giandra sembari menarikan pensil alis berwarna cokelat gelap itu pada alis Galvin. Gelengan kepala wanita di depannya itu membuahkan senyum tipis di wajah si manik biru. “Kalau sakit, bilang ya?” “Astaga, Giandra!” Rizky berseru lantang, “Itu cuma pensil alis, bukan jarum tato!” “Iya-iya, yang udah punya tato.” cibir Belia. “Keren dong, gue.” ujar Rizky berbangga diri. “Nggak keren!” sahut Galvin. Sungguh, wanita itu mulai kesal pada si banyak ulah. “Aduh, maaf, Mbak. Abisnya Mbak Galvin pucet sih. Kan jadi gimana gitu lihatnya.” kata Rizky, menyengir,” Tapi sekarang udah lebih awesome, dong. Ya nggak, Bel?” “Yoiii!!” Mendengar itu, Galvin mendadak penasaran dengan rupanya sekarang. Se-awesome apa, sih? Tangan kiri si model alat kosmetik Belia itu terulur untuk mengambil eyeshadow palette, membuka benda persegi dengan isi warna-warni untuk riasan mata itu, hendak mencari tahu refleksinya, saat kedua tangan hangat Giandra merangkum wajahnya. Lagi, kedua irisnya bertautan dengan iris biru itu.  “Please, don’t look at yourself. Please...” pinta lelaki itu. Ajaib, rasa penasaran itu terbunuh oleh rengekan pemuda di depan Galvin. “Last touch, lips.” ujar Belia. Telunjuknya mengarah pada kotak lipstik beraneka warna di samping eyeshadow palette yang baru saja diletakkan Galvin. “Kayaknya lipstik warna rose bagus.” “No-no-no. I don’t like rose.” sahut Galvin. Ia refleks memundurkan wajahnya dari dekapan tangan Giandra. “Oke... Mbak Galvin mau warna apa?” Belia dan Giandra saling menatap. Sungguh, bibir Galvin terlihat sangat pucat meski tadi sudah melahap satu sendok rendang Rizky yang lumayan pedas. “Pink pastel? Atau... merah?” Belia bertanya hati-hati. Galvin melirik deretan lipstik yang ditunjuk Belia. Ada satu warna yang menarik hatinya, “Almond pink?” Galvin mengambil lipstik yang dimaksud, “And I can do it by myself.” “No!” tolak Rizky, “Giandra yang pakein.” “C’mon, Riz.” Galvin setengah merengek, dan Giandra reflek tersenyum. Baginya, yang barusan itu terlihat lucu. “This is just lipstick.” “Yep, dan di depan Mbak Galvin, it’s just Giandra. So... I think it’s not a big deal.” Dengusan kesal kembali lolos dari bibir Galvin. Tanpa sadar, bibir si photographer itu mengrucut sempurna menghadap Giandra. Ashhh!! Sial-sial-sial! Si pemuda blasteran itu mengumpat dalam hati. Namun toh si bule itu mengoleskan lipstik Almond pink itu pada bibir bebek Galvin. “Baiklah, udah beres.” Giandra menutup lipstik dan memberikan kaca pada Galvin. Untuk beberapa detik wanita 26 tahun itu terdiam menatap refleksinya pada cermin. Alis cokelatnya yang melengkung simetris dan tidak berlebihan, bulu mata lentik, eyeliner hitam yang sempurna, kelopak mata berwarna kecoklatan, blush on pink yang membuatnya terlihat beda, dan terakhir, bibir pink almond yang penuh. “Apa... ini bener-bener aku?”   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN