Perayaan ulang tahun Belia masih berlangsung. Kini, si sulung dari tiga sekawan itu datang dengan beberapa kotak makanan untuk dibagikan dengan kru Galvina.
“Thanks, Riz,” ucap Galvin ketika si sulung—Rizky Bintara memberikan bagiannya.
“Sama-sama, Mbak. Itu khusus buat Mbak Galvin.” sahut Rizky seraya tersenyum lebar.
“Oh, thank you so much kalau gitu.” Galvin terkekeh ringan sebelum membuka kotak makanan yang diberikan Rizky. Maniknya menoleh pada si sulung yang berlalu darinya. Kemudian, ia menoleh pada beberapa kru Galvina Studio lainnya. Aroma masakan khas padang yang kental menyapa indera penciumannya.
Namun, ketika Galvin menunduk dan menatap menu makanan pada kotaknya, hatinya mencelos. Isinya adalah shabu-shabu yang setengah mati ingin ia makan.
Tanpa sadar, ia mengulas senyum bahagia. Seperti benar-benar bahagia, layaknya anak kecil yang mendapat hadiah impiannya. Tanpa Galvin ketahui, senyum bahagia itu pun menular pada orang di sekitarnya. Pada si sulung yang sedang membagikan kotak makan pada MUA. Juga pada si bungsu yang tengah bersandar pada kaca jendela sembari melahap pizza, makanan favoritnya.
***
Arjun : aku pulang agak malam. WTH Dylan Siegers ajak aku meninjau lokasi untuk proyek kami. You’re gonna be okay? Aku akan bawain makan malam nanti. Tadi kamu jadi makan siang?
Galvin mengerucutkan bibirnya. Ia menoleh ke dalam studio sejenak, lalu brganti pada tanaman hidroponik di depannya. Menghela napas, ia membalas pesan Arjun.
Galvin : I’m fine. Aku udah makan, see you xx
Sebuah tepukan pelan pada punggungnya membuat ponsel di genggaman Galvin nyaris merosot dari tangan. Wanita yang masih mengenakan hoodie itu mengumpat dalam hati sebelum kepalanya tertoleh ke belakang.
Belia, berdiri sembari menyengir dan melambaikan tangan. “Mbak Galvin nggak pulang?” tanya gadis yang hari ini berulang tahun.
“Eum... nanti. Kenapa?”
“Ada acara, nggak?”
Galvin menoleh pada sofa besar tempatnya tadi pagi terlelap. Ia ingin segera tidur saja. Kemudian, si photographer itu menatap Belia yang memberinya raut penuh harap.
“Nggak ada, si—”
“Ikut yuk!” Gadisnya Ben itu menyela, “Belia adain makan-makan di kafe deket kampus. Nggak jauh kok dari sini. Mbak Galvin ikut, ya? Biar rame. Please...”
Jujur saja, Galvin tidak menyukai acara seperti yang disebutkan Belia. Ditambah, ia sudah gerah dan ingin segera melepas jumpernya, yang mana intinya ia ingin segera pulang. Namun, mengingat pesan Arjun yang mengatakan ia akan pulang malam, Galvin rasa tidak ada salahnya ikut ke acara Belia.
“Ya, Mbak? Ikut, ya? Please....”
“Tapi—” Raut puppy face gadis di depannya membuat Galvin mengangguk.
“Yasss!!”
“Aku kemas-kemas dulu, ya?”
“Oke, Mbak!”
***
Suasana kafe yang dimaksud Belia lumayan ramai. Pengunjungnya sudah dipastikan kebanyakan mahasiswa sama seperti Belia, Ben, Rizky, dan Giandra. Belia dan Ben lantas menuju meja kasir untuk mengambil booked number dan menu. Kemudian, dua sejoli itu menggiring Galvin dan yang lain menuju gazebo di halaman tengah kafe.
Giandra mengambil duduk di sudut gazebo, bersila sembari memainkan ponselnya. Diikuti Rizky yang duduk di sebelah Giandra, Ben dan Belia duduk bersebelahan di seberang Rizky, sedangkan Galvin memilih tetap berdiri menikmati keindahan taman kafe.
“Mbak, ayo duduk!” ajak Belia seraya menepuk bantal kosong yang tersisa, tepat di samping kanan Giandra. Galvin memberi gestur ‘sebentar’ seraya meraih kamera dari tas selempangnya.
Si photographer itu kemudian mengambil gambar landscape di taman itu. Bunga-bunga yang terlihat segar berwarna-warni, rerumputan berwarna hijau, dan jingga yang tumpah di angkasa. Iya, ini masih pukul lima sore.
Setelah mengambil beberapa gambar ciptaan sang Kuasa, Galvin mengambil candid foto muda-mudi di gazebo mid 22 itu. Barulah, setelah tujuh kali jepretan, wanita itu ikut duduk. Sama seperti yang lain, Galvin duduk bersila dan...
“Alright, everyone. Phone down.” suruh Belia.
“C’mon, Belia. Gue masih mai—” Giandra protes.
“Taruh gadget kalian di atas meja!” sela Belia. Serta merta ia meletakkan ponselnya di tengah meja.
“Ya Tuhan, Lia, tanggung banget. Gue tinggal slain satu lagi.” protes Rizky.
“Babe, aku baru mau update status.” Ben ikut protes.
“Taruh-hape-di-atas-meja!”
Mendengus kesal, semua cowok di gazebo mid 22 meletakkan ponsel masing-masing sesuai perintah Belia. Pun dengan Galvin. Baiklah, ini ulang tahun Belia, apa salahnya sih, nurut? pikir Galvin.
“Kita akan main game truth or share.” ujar Belia dengan semangat. Satu tangannya mengangkat toples permen warna-warni dan memindahkan beberapa butir pada gelas plastik yang sudah tersedia di meja.
“Truth or share?” ulang Galvin. “Seingetku truth or dare.” Wanita itu tersenyum bingung.
“Ini game yang buat kita, Mbak.” sahut Ben, membantu gadisnya memindahkan permen pada gelas plastik lainnya.
“Tunggu, ini cuma kita berlima aja?” Giandra bertanya sebelum meneguk air putih di meja.
“Iya, emang lo mau diundangin siapa lagi? Penyanyi dangdut?” sahut Rizky.
Mengabaikan dua lelaki jomblo, Belia menjelaskan, “Harusnya memang ToD, Mbak. Tapi kami ubah, jadi ToS. Rules-nya, kita bergantian makan permen di dalam gelas ini. Barang siapa yang pas dapat gelas, tapi pas permennya habis, wajib pilih truth atau share. Kalau nggak bisa jelasin truth atau share, maka akan dapat dare.”
“Mbak Galvin, paham?” tanya Rizky.
Galvin mengangguk seraya mengangkat jempolnya. “Oke, sounds interesting.”
“Trust me, it is interesting.” timpal Belia.
“But...” Galvin menggantung kalimatnya, telunjuknya mengarah pada permen warna-warni di dalam gelas plastik berukuran sekali teguk. “Aku nggak makan permen.”
Semua pandangan teralih pada Galvin. Sebelum waiter datang menyodorkan pesanan Ben dan Belia. Rizky langsung menghambur nasi padangnya, Giandra menarik kotak pizza, sedangkan Galvin menarik fries dan saus tomat.
“Nggak pa-pa, nanti Mbak Galvin ambil aja satu permen setiap giliran, nggak perlu dimakan.” Ben menjawab ucapan Galvin tadi seraya mengoleskan mayonaise pada sandwichnya.
“Enak banget nggak makan permen! Dulu aja gue dipaksa makan padahal gue juga nggak suka permen.” protes Rizky sebelum menyendok nasi padangnya.
“Halah bilang nggak suka, setoples abis juga.” Ben melempar kerupuk udang pada Rizky.
“Iya, untung aja permennya dalamnya kacang. Coba rambutan?”
“Eh geblek, mana ada permen dalamnya rambutan!”
“Ya udah kita makan dulu, abis itu kita main. No cellphone allowed.” Belia menengahi perdebatan kecil dari pertemanan para lelaki di gazebo ini.
*
Permainan Truth or Share itu cukup menyenangkan menurut Galvin. Wanita itu menjadi lebih mengenal remaja beranjak dewasa di depannya. Misal, Belia, ternyata gadis itu sebelumnya pernah menjalin hubungan dengan youtuber yang cukup terkenal di negeri ini. Namun, hubungannya kandas karena si lelaki memilih untuk mengambil job di luar negeri dan Belia tidak bisa ikut karena akan ujian. Thanks to Rizky yang—katanya—iseng bertanya hal itu.
“Bel, gimana lo bisa ketemu Ben?” tanya Rizky seraya mengunyah permen kacangnya.
“Pas les buat Unas.” sahut Belia, iris gadis itu mencuri pandang pada Ben yang terlihat kusut.
“Terus emang bener, lo dulu pernah pacaran sama si Alen? Kok bisa putus sih?”
“Oh, dia yang mutusin, dia bilang gue nggak konsisten isi yutub konten dia gara-gara nggak bisa ikut ke KL buat job apaa gitu. Lupa.”
“Tapi banyak yang minta kalian balikan, kan? Gue sempet baca di ige Alen.” Giandra menambahi.
“Gimana gue minta balikan, kalau dia yang dump gue?” Belia terkekeh, membuahkan kusut yang semakin parah di wajah Ben.
Melihat itu, Galvin sebagai yang paling dewasa ikut nimbrung dan bersuara, “But, lucky you, Belia. I think Ben is much better than—siapa nama youtuber itu?”
“Alen.” sahut Giandra. “Lo nggak tahu?”
“Aku nggak suka nonton youtube. Nggak sempet.”
“Sibuk beneerrr...” timpal Rizky.
“Yap, you are right, Mbak. I’m so lucky... ketemu Ben Riezatama di tempat Les.” ujar Belia seraya mencium singkat pipi lelakinya, membuahkan senyum di wajah Ben.
Galvin menghitung permen dalam gelas plastiknya. Dua belas butir, permainan ini sudah berjalan selama 8 kali. Beruntung sekali, Galvin belum mendapat giliran. Terakhir, Ben mendapat dare karena tidak mau menjalani truth maupun share. Meski keduanya pertanyaan yang menurut Galvin sangat mudah. Truth, who’s your first kiss? Itu pertanyaan yang dilontarkan Belia. Share, the last person you called? Itu Galvin yang bertanya.
“Oke, dare,” Rizky bersuara. “Gue dare lo, buat make up in Mbak Galvin.”