Big Mistake Giandra menatap wanita yang berbaring berbantalkan lengan kanannya itu. Galvin terlelap dalam pelukannya. Dua jam lamanya, setelah Giandra mengajak wanita itu ke dalam kamarnya, merengkuh Galvin yang terus menangis. Giandra mengusap kening Galvin dan sesekali menciumnya. Oke, jadi sekarang apa? Ia dan Galvin sudah bersama, seperti yang selama ini diinginkannya. Perlahan, senyum si iris biru terukir, membayangkan kehidupannya setelah ini. Galvin akan terus bersamanya, dan ia tidak perlu merasa khawatir lagi. Tidak ada lelaki lain yang akan menyentuh Vanilla-nya. Ya, Giandra merasa menang sekarang. “Hey,” Giandra memanggil pelan, “hey. Gue di sini.” Lelaki itu mengusap pipi Galvin yang merintih. Ia lalu mendaratkan kecupan singkat pada bibir wanita dalam rengkuhannya itu. G

