Aroma minyak kayu putih dan usapan pada keningnya membuat wanita itu mengerjap. Kepalanya terasa pusing dan perutnya kembali terasa perih. Ia baru akan duduk saat tangan lelaki yang menatapnya khawatir itu menahannya. Menghela napas, Giandra menutup botol minyak angin dan membantu Galvin duduk, menjejalkan bantal di balik punggung wanita yang baru siuman itu, kemudian meraih teh hangat di atas nakas. “Nih, minum dulu.” suruh Giandra. Galvin hanya menurut, meneguk teh beraroma vanilla itu sedikit, lalu menggeleng. “Udah, Gi.” tolaknya. “Oke.” Giandra meletakkan kembali teh pada meja. “Mama sama papa masih beliin lo obat.” Galvin menyengir. “Maaf ya, aku ngerepotin.” “Sakit banget emang?” Wanita di depan Giandra itu mengangguk. “Iya. Mana obatku abis. Jadi tadi nggak ada yang buat nah

