Happy reading kuy..!!!
****
Gilang duduk di tepi danau sambil melempar kerikil-kerikil ke tengah danau.
"Ternyata loh ada disini Lang, gue nyariin loh dari tadi." ucap Aldo yang baru saja datang.
Gilang menoleh ke Aldo. "Ada apa loh nyariin gue?" tanya Gilang. Saat itu ia seperti laki-laki frustasi kehilangan seseorang.
"Gak papa, gue kira loh kemana. Tadi waktu gue di cafe, gue ketemu Echa sama Exsel." Aldo duduk di sebelah Gilang.
"Ya udah biarin aja, mereka kan pacaran jadi wajarlah."
"Ya udah loh move on makanya, kayaknya mereka itu makin kesini makin akrab." celoteh Aldo yang mengompori Gilang.
Dengan menjinjing jaket Gilang melangkah tanpa arah dan tujuan yang pasti. Gilang terus melangkah menyelusuri trotoar jalan menuju ke arah sebuah cafe.
Kini ia sedang berdiri didepan kasir untuk memesan makanan, lalu ia duduk di meja kosong.
Suara cekikikan cewek-cewek dari meja sebelah terdengar oleh Gilang, ia lalu menoleh ke sumber suara. Ia sangat tak menyangka suara cekikikan itu adalah Echa dan kedua sahabatnya. Gilang memandang Echa dengan sejuta kerinduan di matanya, rasanya ia ingin memanggil gadis itu namun tak mungkin. Jangankan mengajak mengobrol, menyapa saja ia malu karena sebuah kesalahan yang ia perbuat.
"Aku kangen Cha sama kamu, tapi mungkin rasa kerinduan aku hanya bisa liat kamu dari jauh." ia kembali meminum kopinya.
Gilang yang baru saja bangkit menuju kasir, tiba-tiba mendengar keluhan dari meja Echa, lalu ia kembali duduk. Ia berusaha mendengar obrolan mereka.
Ya saat itu Echa tidak membayar semua pesanan yang mereka makanan, wajah bingung terlihat dari cewek-cewek itu.
Gilang mengangguk kepala, sepertinya ia tau solusi untuk ketiga cewek itu. Gilang bernjak dari tempat duduk dan berjalan ke arah kasir. Ia mengeluarkan beberapa uang lalu diberikan kepada kasir. Kasir itu mengangguk sambil mengambil uang dari tangan Gilang.
Gilang pergi dari hadapan kasir menuju keluar.
Echa, Luna dan Tara beranjak dari mejanya, senyum canggung terlihat dari wajah mereka. Mereka berjalan menuju kasir.
"Mba, saya minta bil di meja 29 dong.!" seru Echa.
Mereka saling memandang satu sama lain.
Kasir langsung memberikan sebuah bil pesanan mereka, Echa menatap jumlah nominal yang harus di bayar di bil senilai Rp. 500.000.
"Hehe 500.000 ya mba?" tanya Luna. Ia sedikit melontarkan tawa tak enak.
"Banyak banget ya. Gimana ini?" bisik Tara kepada Luna dan Echa. Tampak mereka sedang berdiskusi siapa yang akan membayar pesanan mereka.
"Gini mba ya, kami bertiga gak bawa uang Cash nih, boleh gak kalo bayarnya nanti, salah satu t dari kita ke ATM."
"Kayaknya gak perlu mbak, karena bil nya udah di bayar."
"Hah dibayar?" ucap Luna, Tara dan Echa kompak. Mulut mereka terbuka sempurna. Mereka seketika bernafas lega, akhirnya mereka sudah mendapatkan solusi masalah keuangan hari itu yang menjadi kendalanya.
"Iya, jadi ada seorang laki-laki yang sudah membayar semua bil mba-mba ini." jelas kasir itu.
"Emang laki-laki itu siapa mba? Kok dia mau bayar makanan kami, emang dia kenal sama kami mba?" jawab Echa bawel.
"Kalo gitu saya kurang tau, yang jelas semua makanan sudah di bayar lunas sama laki-laki itu."
"Mba tau nama nya siapa?" heran Luna.
"Saya kurang tau."
Echa langsung pergi dari hadapan kasir, ia berlari keluar untuk mengejar laki-laki berbaik hati, yang sudah menyelamatkan harga diri dia dan teman-temannya.
Sesampai di parkiran iya tak menemukan siapa-siapa. Alhasil dia kembali masuk ke dalam cafe dan kembali bertanya kepada kasir.
"Mba laki-laki itu duduk nya dimana?" tanya Echa.
"Dia duduk di meja 21, disebelah sana." kasir menunjujan ke arah kanan. Lalu Echa bergegas mencari meja 21, kali saja ia bisa menemukan identitas laki-laki itu.
"Buat apa sih Cha nyariin dia? Yang penting kan sekarang lega, semua makanan kita udah di bayar."
"Ya Cha, kali aja dia itu malaikat yand dikirim tuhan buat kita."
Celoteh-celoteh kedua sahabatnya di abaikan oleh Echa. Ia terus mencari jejak laki-laki itu.
Akhirnya ia menemukan sebuah sapu tangan kecil dibawah kursi tempat duduk. Ia mengira jika sapu tangan itu milik laki-laki tadi. Ia sepertinya mengingat sesuatu tentang sapu tangan itu. Echa berusaha mengingat sapu tangan itu.
Di pikirannya ia mengingat wajah Gilang, tapi tak mungkin. Dia sama Gilang sudah tak ada hubungan apa-apa, sebaik itukah Gilang meskipun sekarang mereka sudah tak ada hubungan apa-apa lagi. Bagi Echa, Gilang laki-laki b***t yang tega memutuskan hubungan tanpa alasan yang jelas, dan hanyalah masalalu yang tak wajib untuk di ungkit-ungkit lagi.
Echa pun berlari keluar sampai di parkiran. Ia berteriak nama Gilang. Di susul oleh Luna dan Tara.
"Aku tau kamu pasti yang ngelakuin semua ini. Pertama-pertama makasih karena kamu udah nyelamatin aku dan teman-teman aku. Tapi aku janji sama kamu, suatu saat aku bakal ganti uang kamu, karena aku gak mau ada hutang budi sama yang namanya mantan. Apalagi cowok b******k yang tega ninggalin cewek tanpa sebab." jelas Echa dengan suara lantang, seolah-olah ia sedang berbicara didepan laki-laki itu. Airmatanya tiba-tiba sudah membasahi pipi.
"Udah Cha, ini gak mungkin Gilang. Gak mungkin lah Gilang ada disini." ucap Luna.
"Iya Echa, Gak mungkin lah ini Gilang.
"Gak beb. Gue yakin sapu tangan ini punya Gilang, karena di sini ada insial GE. Kita berdua sama-sama punya sapu tangan ini."
"Udah loh gak usah nangis, bukannya loh sendiri yang bilang kalo Gilang laki-laki b******k yang mutusin loh secara sepihak."
Kedua sahabatnya berusaha menenangkan Echa yang terus menangis sambil memeluk sapu tangan yang ia duga milik Gilang.
***