cinta itu berat

673 Kata
Happy Reading Guys..!! Jgn lupa komen ya,dan kritik dan sarannya. **** Sebuah kantor yang tidak terlalu besar. Gilang yang lagi memparkir kan motornya di depan sebuah kantor. Gilang mepelaskan helmnya. Tiba-tiba terdengar suara dari koridor yang memanggil namanya. "Lang..Langg..!!" Suara itu membuat Gilang menghentikan langkahnya. Ia berbalik badan ke arah belakang. "Aldo..!!" sahut Gilang datar. "Lang luh mau kemana bawa tas segala? Mau minggat luh?" tanya Aldo heran. "Gak. Tapi gua lagi nyari kontrakan deket-deket sini sih. Ada gak ya?" "Kenapa luh, kusut banget muka luh? Apa karena gak ketemu Echa?" tanya Aldo curiga. "Gue udah putus sama dia." jawab Gilang datar. Gilang kembali duduk di motornya. "Apa luh udah putus sama Echa? Tanya Aldo heran. "Iya gue udah putus sama dia udah lama. Udah lah gue gak mau ngebahas itu lagi. Lagian Echa udah bahagia sama Exsel, dan mereka berdua udah pacaran." ucap Gilang lesu. "Apa luh serius?" ucapan Gilang membuat Aldo begitu terkejut. "Luh cerita sama gua, masalah nya apa? Kali aja ini bikin luh tenang." "Kita cari tempat lain aja." Gilang dan Aldo menuju di atas gedung kantor. **** Satu jam kemudian. Gilang menatap pemandangan dari atas gedung dengan pandangan yang kosong. Sedangkan Aldo berdiri di belakangnya "Jadi gitu ceritanya, Luh yang sabar ya. Gua yakin luh bisa mendapatin cewek yang lebih baik dari Echa. Dan luh harus move on. Harus nya luh gak pergi dari rumah, biar Echa ngeliat semuanya." "Gak ada yang perlu di liat lagi, semuanya udah terlambat. Gua cuma minta satu hal satu sama luh, jangan bilang semua ini sama siapun termasuk sama mereka berdua. Aldo menepuk pundak berusaha menenangkan Gilang. Gilang berbalik badan meninggalkan Aldo. Aldo begitu kasihan dengan sahabatnya. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa karena keputusan yang terbaik ada di tangan Gilang. *** Gilang mencoba untuk menyelasaikan beberapa berkas, pikiran yang begitu kacau membuat ia tidak berkonsentrasi. Aldo baru memasuki ruang, kemudian ia duduk di sofa. "Kayak nya luh harus cari pacar deh, biar luh gak keinget terus sama Echa." ucap Aldo sembari membukakan jas nya. "Luh pikir gampang cari pacar, lagian gue gak mau cari pacar di saat keadaan gue masih kayak gini. Itu berarti cuma pelampiasan gue doang." "Kalo gak kayak gitu, luh bakal kusut terus kayak gini." Gilang membangkitkan dirinya dari kursi. Kemudian pergi meninggalkan Aldo. **** Gilang memutuskan untuk pergi menuju ke jembatan yang tak jauh dari kantornya. Mungkin dengan jembatan ia bisa membuat pikirannya lebih tenang. Gilang yang sedang berdiri menghadap ke arah sungai dengan tatapan kosong, sembari memasukkan tangan kanan nya ke dalam saku. Air yang mengalir dengan mungkin membuat pikirannya lebih tenang. Satu jam kemudian, seorang gadis tiba-tiba menarik paksa tangan Gilang, sontak membuat Gilang terlonjak kaget. "Luna..!" Gilang mengerutkan alisnya. "Gilang loh apa-apaan sih mau bunuh diri segala, loh tau kan itu dosa? Bla..bla." Luna nyerocos tanpa henti membuat Gilang tidak ada kesempatan untuk ngomong. Gilang menghelaikan nafas. "Loh aneh ya, siapa bilang gue mau bunuh diri? Enak aja loh." sewot Gilang. "Makanya Lang, siapa suruh putusin Echa. Dan sekarang loh jadi setres gini kan." gumam Luna. "Sotoy loh." Gilang membalikkan badannya, kembali menikmati pemandangan. Pikir Luna. "Laki-laki itu tampak begitu tertekan dan banyak pikiran, sepertinya ia masih memendam perasaan kepada Echa. Namun ia juga bingung dengan sikap laki-laki yang berusaha menyembunyikan rasa rindunya." Gilang tidak mengeluarkan kata-kata, ia malah pergi meninggalkan Luna begitu saja. *** Exsel memetik senar gitar dengan sempurna. Ditemani Echa yang duduk di samping nya ikut melantun sebuah lagu favorit mereka. Gilang hanya menatap mereka dari kejauhan. Hanya kesedihan dan penyesalan yang ia rasakan saat ini. Ia benar-benar kehilangan Echa. Kini Echa berjalan menuju dapur untuk membuat cemilan dan teh anget untuk Exsel, kemudian di susul oleh Exsel yang ikut membantu Echa. Echa menikmati kebersamaan itu. Ia tak menyangka saat ini bisa bersama orang yang selalu ia harapkan. Satu jam kemudian masak pun selesai, mereka menuju ruang keluarga. Mereka duduk di lantai, dengan meja yang berada di depan. Echa yang sedikit manja, ia meminta Exsel untuk menyuapi nya. Exsel merangkul Echa, dan menium pucak kepala kekasih nya. Gilang hanya mengintip mereka dari luar. Gilang mungkin adalah laki-laki lemah yang suka move on. Gilang menyenderkan badannya di dinding rumah, ia mengacak-acak rambutnya. Duduk di atas rumput tanpa di lapisi oleh apapun. Air mata terus jatuh ke pipi, ia berusaha untuk menghilangkan kesedihannya namun ia tidak bisa memendung, bahwa saat itu ia sangat rapuh. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN