Pagi pagi sekali ketika Echa masih tidur, Gilang menghampiri jendela kamar Echa. Ia hanya menatap wajah cantik Echa dengan perasaan lega karena ia bisa memastikan keadaan Echa setelah pingsan kemarin sekaligus kerinduannya terhadap Echa terobati.
Gilang pun pergi meninggalkan tempat itu dengan menyusuri trotoar.
Sepertinya Echa merasakan kehadiran Gilang di dekatnya, ia pun membukakan mata dan bangkit dari tempat tidurnya mendekati jendela kamar sembari membukakan gorden. Matahari yang berhasil masuk kekamar membuat ia matanya silau lalu ia duduk di atas tempat tidur.
Echa merasa di balik gorden ada Gilang yang menunggu nya, namun perkiraan salah hanya cahaya matahari tembus ke kamarnya membuat ia terbangun.
Echa bergegas untuk mandi dan pergi kesekolah, karena hari itu adalah hari ujian nasional yang begitu penting untuk menentukan nasib nya di sekolah apakah tetap bertahan atau berlanjut ke jenjang berikutnya.
***
Echa sampai menuju sekolahan, proses ujian sudah di dilangsungkan.
Ia bergegas mencari ruangan dan mengambil tempat duduk yang sesuai dengan nomor ujiannya.
Pengawas ujian memberikan Soal kepada peserta Ujian.
Beberapa jam kemudian semua murid keluar kelas karena hari itu ujian berlangsung hanya satu mata pelajaran.
Namun semua murid belum disuruh pulang, karena menunggu hasil ujian harus perlu dikoreksi.
Echa duduk di kursi ruangan dengan membaca sebuah buku pelajaran, tiba-tiba Luna dan Tara datang menghampiri dengan membawa minuman dingin lalu di taruh di atas meja.
"Kok loh gak keluar sih Cha?." tanya Luna.
"Lagi males gue, gue lagi pengen fokus belajar. Kalian tau sendiri kan sekarang itu kita ujian nasional jadi ya gue harus banyak belajar." Echa sibuk dengan buku nya tanpa melihat kedua temannya.
"Kita kira lo udah pulang duluan." ujar Tara.
"Ya udah di minum dulu minumannya jangan terlalu fokus ntar setres loh." seru Luna
"Tau banget sih kalo gue lagi haus. Tapi makasih ya." Echa mengambil minum yang berada dekat siku nya lalu ia minuman.
Tara mengambil ponsel dari dalam tasnya, ia menggeser layar ponsel. Tiba-tiba ia teriak, teriakannya membuat Echa dan Luna terkejut.
"Ya Ampun Tara untung aja jantung gue gak copot ya, bikin kaget aja." ucap Luna mengelus d**a nya.
"Emang ada apa sih loh tiba-tiba teriak gak jelas. Bikin kita semua kaget." Echa mengangkat kepalanya ke arah Tara.
"Sorry, Sorry..! Gue bikin kaget ya. Ini loh gue punya kabar bagus buat kalian berdua." seru Tara
"Apa?"
"Apa Sih bikin kita penasaran aja."
Echa dan Luna menunggu dengan sejuta penasaran.
"Penasaran kan?" seru Tara.
"Ih Tara ceritain aja langsung gak usah bertele-tele gitu."
"Iya Tar apasih."
"Jadi kabarnya, jadi ntar malam ada konser tunggal Axsel di taman yang tidak jauh dari rumah gue."
Echa dan Luna tercengang. Mereka tampak tak percaya mendengar kabar itu. Akhirnya mereka bisa menyaksikan Exsel Sebastian Manggung di taman dekat rumah Tara.
Echa seketika loncat-loncat di atas kursi tempat ia duduk sembari melempar kan tas nya ke atas, tidak lupa dengan sifat kelakuan nya muncul.
Ia membayangkan dan berkhayal sedang bersama Exsel menikmati indah pasir putih di tepi pantai.
Luna dan Tara hanya menggelengkan kepala melihat tingkah aneh sahabat nya itu, yang suka halusinasi bersama Axsel.
"Hadeh..!! Mulai deh nih anak halu nya kumat." Tara menepuk jidat nya melihat ke arah Echa yang lagi loncat-loncat kegirangan.
"Maklumin aja beb, temen kita kan emang rada-rada stres." Luna terkekeh.
"Bukan Echa namanya kalo gak suka halu." Tara terkekeh.
Kebisingan di ruangan itu membuat salah satu guru datang menghampiri mereka. Lalu menegur ketiga siswi nya yang membuat kehebohan di kelas.
Echa, Luna dan Tara hanya terdiam saat mendapat teguran dari guru. Lalu mereka pergi meninggalkan ruangan tersebut.
****
Echa, Luna dan Tara pergi menuju mall tempat biasa mereka kunjungi.
Sesampainya Luna memarkirkan mobil nya di tempat yang telah disediakan.
Mereka turun dari mobil dan masuk ke mall tersebut.
Saat menyusuri koridor Echa melihat Exsel yang lagi duduk sendiri di suatu cafe sambil memainkan ponselnya.
Echa memberhentikan langkahnya sedangkan kedua sahabatnya terus berjalan kedepan, kemudian Echa mencari tempat untuk ia bersembunyi agar ia bisa mengintip Exsel dari kejauhan tanpa diketahui Exsel.
Luna dan Tara menyadari bahwa Echa sudah tidak ada.
"Loh Tar mana kok ada sih?"
"Iya ya Lun. Tuh anak kemana kok gak ada? Tadi kan dia bareng kita."
"Jangan-jangan Echa masih dibelakang."
"Ya mungkin saja dia ketinggalan. Ya udah yuk kita susulin, ntar anaknya ngambek lagi."
Luna dan Tata pergi meninggalkan tempat itu.
Melirik kanan dan kiri mencari Echa. Mereka terus mencari Echa sampai ke parkiran namun tak ketemu.
**
Echa mengintip Exsel dibalik dinding, ia terus menatap dan memandangi aktivitas Exsel yang lagi duduk di cafe. Kemudian Echa kembali berdiri di balik dinding. Namun saat ia kembali menoleh ke arah Exsel, tiba-tiba Exsel sudah tidak ada berada disana.
Echa tercengan sembari matanya melirik-lirik ke arah sekitar tempat duduk itu namun tidak menemukan Exsel.
Ia kembali berbalik berdiri di balik dinding, seketika ia kaget seorang laki-laki tiba-tiba ada di depannya yang begitu dekat. Ya itu adalah Exsel, laki-laki yang Echa intip di cafe tersebut.
Tidak ada jarak jauh antara Echa dan Exsel. Tangan kanan Exsel berada di samping kepala Echa membuat Echa saat itu tidak bisa berkutik.
Saat itu ia hanya bisa memendam rasa grogi nya saat didekat Exsel.
Exsel terus menatap Echa tajam.
Echa hanya menghelaikan nafas pelan dan berusaha menenangkan dirinya didepan dirinya, ia berusaha mengontrol diri nya sendiri. Ia sepertinya kehilangan nafas dan pipi nya yang memerah dan terasa jantung mau copot.
Luna dan Tara sibuk mencari keberadaan Echa, mereka menyusuri koridor.
Setelah dua menit akhirnya mereka menemukan keberadaan Echa yang lagi berpelukan dengan Exsel
"Beb, itu kan Echa!!"
"Iya ya beb itu kan Echa..!!'
Luna dan Tara tercengang saat melihat Echa yang lagi bersama Exsel.
"Mereka lagi ngapain?"
"Mesra banget?, kok bisa Echa sama Exsel?
Banyak pertanyaan yang dilontarkan dari mulut Luna dan Tara.
*
Exsel terus menatap Echa dengan begitu dalam, membuat Echa kembali menarik nafas pelan.
"Ini beneran gila. Gue bisa sedekat ini sama Exsel, dan ini bukan pertama kali tapi berkali-kali. Tapi sumpah jantung gue rasanya mau copot, dan nafas gue rasanya berhenti seketika. Tuhan apakah ini kehendak engkau, kau kirimkan dia padaku saat ini." Ucap Echa dalam hatinya.
****