Happy Reading guys..!!
Jgn lupa tinggalkan saran dan kritik kalian di komen ya.
****
Pagi itu, Luna dan Tara menemani Echa ke studio lukisan yang sudah tak lama ia datangi. Tempat di mana ia mengembangkan imajinasinya. Echa tampak ragu memasuki studio itu yang pernah ada canda tawa dan momen kebahagiaanya bersama Gilang yang sudah berakhir beberapa waktu lalu. Ia memilih masuk ke ruangan yang penuh dengan foto mereka berdua untuk di singgahi. Perempuan tinggi dan berambut panjang itu menemukan sebuah lukisan Gilang di atas meja.
Ia kemudian tiba-tiba mengingat kisah-kisah manis mereka di tempat itu saat Echa melukiskan wajah Gilang. Tanpa sengaja airmata Echa pun jatuh membasahi pipi nya dan ia pun terjatuh ke lantai sambil memeluk lukisan tersebut.
"Cha..!! Gue tau loh masih sedih. Tapi loh harus bangkit, loh gak boleh kayak gini terus." ucap Luna dengan suara tenang
"Iya Cha..!! Kita tau ini berat banget buat loh tapi ya gimana, semua udah kejadian dan belum tentu bisa ke ulang lagi. Loh harus sabar, gue yakin suatu saat loh bisa nemuin orang yang jauh lebih dari Gilang." Tara mengusap-usap kepala Echa.
"Loh itu gak sendirian Cha. Ada kita disini, yang bakal selalu ada buat loh dan ngedukung loh. Mana Echa yang dulu? Yang selalu ceria, selalu tersenyum dan menganggap semua masalah itu biasa buat dia. Ini bukan loh banget."
"Ini tuh sumpah, bukan loh banget. Setau gue Echa itu strong, gak kayak gini."
Luna dan Tara berusaha menghibur dan menenang Echa yang terbujur meratapi kepergian Gilang.
Echa menghapus airmata di pipi nya, di bantu Luna dan Tara. Kemudian ia menatap ke arah kedua sahabatnya.
"Makasih ya..!!" Echa memeluk Luna dan Tara. "Kalian emang sahabat terbaik yang pernah gue kenal, kalian selalu ada buat gue, menghapus ksedihan gue, gue sayang banget sama kalian."
****
Udara panas siang itu sama sekali gak terasa, karena Echa, Luna dan Tara berada di ruangan ber AC di sebuah tempat Acara yang tidak jauh dari rumah Tara. Konser tunggal Exsel yang sedang di langsungkan.
Suara keramaian dan gemuruh orang menyambut Exsel yang baru naik ke atas panggung.
Semua penonton melambaikan tangan ke atas dan berteriak memanggil-manggil nama Exsel Sebastian.
Beberapa menit kemudian setelah Exsel menyanyikan sebuah lagu favorit penonton,tiba-tiba Exsel mengambil bunga dari salah satu crew.
Semua pononton menunggu Exsel menyanyi kan lagu selanjutnya, namun Exsel sepertinya memberikan aba-aba kepada host untuk memberikan waktu sejenak.
"Saya boleh minta waktu kalian sebentar?" tanya Exsel.
"Boleh." jawab penonton serentak.
"Baiklah, terima kasih." seru Exsel
Suasana tenang tanpa ada suara penonton terdengar. Tiba-tiba nama Echa pun di sebut oleh Exsel, membuat penonton bahkan Echa sendiri bingung kenapa namanya di panggil untuk naik ke atas panggung.
Echa pun melangkah menuju ke tangga. Satu demi satu anak tangga sudah di lewati dengan pelan tampak begitu sabar dan tenang Exsel menunggu nya di atas panggung sembari memengang seikat bunga.
Echa menghampiri Exsel tepat berada didepan Exsel. Saat itu Echa begitu bingung dan penasaran kenapa ia tiba-tiba di suruh naik ke atas panggung.
Exsel memberikan bung kepada Host.
Exsel mendekati Echa. Tanpa basa basi lagi ia langsung meraih kedua tangan Echa dengan pelan.
Dengan perlakuan Exsel ke Echa membuat penonton teriak histeris.
"Hari ini adalah waktu yang tepat buat aku buat ngungkapin semuanya sama kamu. Aku tau ini terlalu cepat. Tapi aku gak bisa nahan perasaan aku lebih lama lagi. Aku tau kamu pasti bingung kenapa tiba-tiba aku ngelakuin ini semua ke kamu, karena aku pengen mereka nyaksiin kalo aku cinta sama kamu. Jujur sejak aku ketemu sama kamu, aku ngerasa kalo udah mulai suka sama kamu." jelas Exsel pelan sembari menatap Echa.
"Dari sekian banyak cewek di dunia ini kenapa kamu suka sama aku?" tanya Echa.
"Gak ada alasan buat aku gak suka sama kamu,cinta sama kamu. Karena kamu udah mengajarkan aku satu hal, bahwa setiap kesuksesan orang lain ada pihak lain yang ikut serta di dalamnya." jelas Exsel.
Echa pun terdiam tanpa mengeluarkan kata-kata pun sembari ia melirik ke arah Luna dan Tara.
Luna dan Tara hanya memberikan kode kepada Echa.
Exsel berlutut di hadapan Echa didepan semua banyak penonton.
"Apa kamu mau jadi pacar aku, menjadi bagian dari hidup aku?" tanya Exsel pelan
Exsel berdiri dan memgambil kembali bunga itu dari tangan Host untuk di berikan kepada Echa.
"Kalo kamu nolak aku, kamu buang bunga ini. Tapi kalo kamu terima cinta aku kamu peluk bungamya.
Penonton pun histeris, tampaknya ada yang tidak menyukai kejadian itu ada juga yang menyukai jika Exsel jadian sama Echa.
"Terima,terima,terima..!! Suara serentak dari penonton membuat Echa melihat ke arah Luna dan Tara kembali.
Luna dan Tara memberikan kode dan mengangguk- angguk kepala. Sepertinya mereka menyetujui hubungan Exsel dan Echa.
Suara piano membuat suasana menjadi lebih romantis.
Echa begitu bingung kenapa tiba-tiba Exsel suka padanya, bercampur bahagia bahwa impian yang selama ini dia idamkan bisa jadi kenyataan.
Echa mengambil bunga tersebut.
Setelah 2 menit ia berpikir kemudian ia memutuskan bahwa ia memeluk bunga itu.
Isyarat Echa memeluk bunga tersebut Exsel sudah mengerti dengan keputusan Echa.
Exsel memeluk Echa dengan begitu erat.
Penonton teriak histeris.
Luna dan Tara pun loncat-loncat bahagia melihat sahabatnya itu jadian dengan Exsel, Idola mereka sendiri.
"Lanjut beb..!!" teriakan keras tara kepada Echa.
"Gak nyangka ya ternyata impian Echa kesampaian bisa bersama Exsel." seru Luna.
"Iya beb gue gak nyangka banget. Artis idola suka sama fans nya sendiri." Tara terkekeh.
Exsel melepaskan pelukannya, kemudian melanjutkan nyanyi. Namun kali ia tidak sendiri, tapi di temani oleh Echa pacar nya yang baru jadian beberapa menit lalu.
Exsel bernyanyi sembari menggenggam erat tangan Echa.
Wajah bahagia terpanacar dari Echa. Bahwa selama ini impiannya bersama sang idola bisa terwujud.
****