XV. Jembatan Lainnya

1825 Kata
Vulken dan yang lainnya terus berjalan menapakkan kaki di atas jembatan tua dengan Weraki memimpin di depan. Langsung saja mereka disambut dengan gerbang yang diapit tembok tinggi. Bentuknya amat menyerupai benteng pertahanan sama dengan apa yang dikatakan oleh Weraki. Tepat di depan gerbang sebelum memasuki tempat transit barang-barang dari luar desa, Weraki menempatkan jari dibibirnya lalu bersiul dengan cukup nyaring. Hanya dalam hitungan detik, gerbang langsung dibukakan secara perlahan. “Apakah tidak apa-apa jika kami ikut masuk bersamamu?” tanya Vulken pada Weraki. Weraki langsung mengangguk. “Tentu saja, terus ikuti aku saja. Gerbang ini tidak terbuka untuk sembarang orang. Bahkan jika ada pengiriman barang dari luar tembok, mereka akan diminta untuk menurunkan barang-barangnya di sini lalu diminta untuk pergi. Warga desa yang nantinya akan membawa barang-barangnya masuk ke dalam,” ungkap Weraki. Drue mengamati tembok tinggi di samping gerbang masuk. “Temboknya cukup tinggi serta ada pijakan di bagian atasnya. Sangat memungkinkan bagi orang yang menjaga gerbang ini membidik dari atas sana. Posisinya mungkin akan langsung tertebak tapi sulit pula untuk mengenai balik maupun membalas karena ketinggian tembok.” Drue bergumam sendiri. “Semuanya, gerbang sudah terbuka lebar. Ayo kita pergi masuk ke sana,” ujar Weraki yang langsung berjalan memasuki gerbang. Diikuti dengan Vulken, lalu Drue dan sisanya secara satu persatu memasuki gerbang yang ukurannya amat besar itu. Setelah semuanya memasuki gerbang, ada dua orang yang kembali menutup gerbang hingga kembali rapat tak bercelah. Muncul kembali satu orang yang langsung mendatangi Weraki, ia tampak sangat ramah dan senang untuk menyambut Vulken dan yang lainnya. Ia langsung berjabat tangan dengan Weraki dan memulai pembicaraan. “Akhirnya kau kembali juga, bagaimana perjalananmu kemarin? Apakah mereka sudah sampai dengan selamat ke tujuan?” tanya orang itu. “Tentu saja mereka ke sana dengan selamat. Setelah mengantar mereka pun aku langsung mendoakan keselamatan mereka, berharap kebaikan Andhiel dan Anthiel menyertai kehidupan baru mereka di luar sana,” kata Weraki. “Bagaimana dengan orang-orang yang kau bawa … ada empat orang. Sudah lama aku tidak melihat jembatan memilih sekelompok orang. Bahkan para leluhur menyambut mereka bersama-sama. Mungkinkah ini kejadian langka atau mungkin sebuah pertanda baik bagi desa kita?” “Mungkin saja perkiraanmu itu benar. Yang jelas aku diberikan perintah oleh leluhur tertua untuk mengantar mereka hingga ke tujuan berikutnya untuk perjalanan mereka. Entah ada apa, tapi mereka memang benar ditakdirkan untuk melalui tempat ini,” kata Weraki. “Kalau begitu apakah kalian ingin langsung pergi menuju desa? Sepertinya kedua muridmu sudah menunggu sejak kemarin. Jika para leluhur sudah memilih mereka, seharusnya mereka akan membawa dampak baik. Rasanya tidak apa-apa untuk mengenalkan mereka kepada dua muridmu itu.” “Baiklah, aku akan membawa mereka melalui jembatan. Oh ya, sebenarnya ada satu hal penting yang harus kukatakan kepadamu.” Nada bicara Weraki tiba-tiba menjadi pelan. “Hal penting apa? Kau jangan membuatku bingung seperti itu.” “Sebenarnya, pagi tadi kami bertemu dengan kelompok White Mist saat berada di puncak bukit sebelum ke sini. Bukankah hampir satu tahun lebih kita tidak melihat mereka melancarkan aksinya? Namun, isinya seperti orang=orang baru dan pergerakannya tidak selincah dan terstruktur kelompok White Mist yang pernah kita temui sebelumnya,” beber Weraki. “Astaga, lalu apa yang terjadi? Apakah kalian tidak apa-apa?” Vulken tiba-tiba saja mendekati Weraki yang tengah melakukan percakapan. Kain yang menutupi mata kirinya selagi di atas bukit tadi masih terpasang. “Mereka meniupkan terompet dengan suara yang amat nyaring ketika kami berhasil menghilangkan kabutnya. Weraki berkata kalau hal itu adalah yang pertama kali selama ia mengetahui kelompok tersebut,” ujar Vulken. “Itu aneh … mereka tidak pernah melakukan hal itu. Mungkin saja mereka memberikan sinyal kepada anggota lainnya untuk segera pergi,” ujarnya. “Oh ya, namaku Ado. Bertugas menjaga gerbang dari orang-orang yang tidak berkepentingan. Senang bisa bertemu denganmu juga yang lainnya.” Ia mengulurkan tangan dan saling berjabatan dengan Vulken. “Itu yang menjadi permasalahannya. Kami mengira bahwa tiupan terompet itu adalah sinyal bagi prajurit kerajaan Frist yang tengah mengejar kami. Oh ya, satu lagi. Apakah kalian tidak mendengar tiupan terompetnya? Suara itu sangat nyaring, jika dibayangkan harusnya bisa sampai ke sini,” lanjut Vulken. “Jika kau sudah melewati jalan setapak yang penuh dengan pohon serta akarnya keluar dari bawah tanah, itu adalah tempat yang menjadi gerbang untuk kemari. Kami tidak akan mendengar suara sekencang apa pun dari arah barat di luar jalan itu.” Ado menanggapi. “Lalu, bagaimana bisa kalian dikejar oleh prajurit kerajaan Frist? Dari yang kuperhatikan pakaian kalian justru cukup identik dengan para prajurit kerajaan Frist,” tambahnya. Di tengah pembicaraan antara Vulken dengan Ado, Weraki tiba-tiba saja menepuk pundak Ado dan menyela pembicaraan mereka. “Hei, itu tidaklah terlalu penting. Sekarang, bisakah kau menyembunyikan keberadaan orang-orang yang kubawa ini?” tanya Weraki. Ado menyipitkan matanya. “Apa maksudmu dengan menyembunyikan mereka? Apa yang sudah mereka perbuat sampai-sampai prajurit dari kerajaan Frist mengejar mereka?” Ado malah bertanya balik kepada Weraki. “Di lain waktu saja kujelaskan. Jika ada prajurit kerajaan yang berhasil memasuki jembatan, katakan saja bahwa mereka tidak diterima di sini dan putar balik pergi entah ke mana. Aku akan membawa mereka ke desa, mereka lebih aman jika berada di sana,” ujar Weraki. “Ahh, baiklah jika itu maumu. Lagi pula para leluhur desa juga sudah menemui mereka. Tidak ada alasan untuk menolak juga tidak percaya. Berhati-hatilah di jalan, serahkan gerbang ini kepadaku bersama warga desa yang lain.” Ado meninggalkan Weraki bersama Vulken dan yang lainnya. Ia terlihat berkumpul bersama dua orang yang membuka gerbang lalu pergi. “Ya ampun, padahal baru saja masuk ke tempat ini. Seketika kepalaku dipenuhi dengan pertanyaan,” kata Zed seraya menggaruk kepalanya. “Simpan pertanyaanmu untuk perjalanan kita ke desa. Kalian tunggu sebentar di sini dan jangan pergi ke mana-mana, aku akan menaruh barang-barangku terlebih dahulu. Kebetulan beberapa sisanya bisa digunakan untuk orang-orang yang berjaga di sini. Aku tidak akan lama.” Setelah itu Weraki pun pergi dengan membawa seluruh barang-barangnya. “Hei, bukankah sedikit aneh jika tiba-tiba saja arwah leluhur desa menemui kita? Ia juga menyebut-nyebut namaku sebelum menghilang bersama asap tebal itu.” Beatrice tiba-tiba berbicara sambil membuang pandangannya melihat ke bawah. “Ada apa denganmu, Beatrice? Apa kau masih merasa kesal karena mereka berbicara tentangmu yang bisa terjerumus pada hal buruk? Ayolah, aku mengenalmu dengan baik. Kau tidak akan seperti itu, percayalah.” Drue mencoba untuk mengembalikan suasana hati Beatrice yang sepertinya sedang tidak baik. “Bukankah kau punya tujuan lain dalam perjalanan menuju ke timur benua Meideleenia ini, Beatrice? Mungkin hal itu yang mereka coba maksudkan,” ujar Vulken sambil menatap Beatrice yang tak lama menatap Vulken balik. “Ayolah, tujuan sampinganku hanya untuk mempelajari ilmu sihir baru dari dunia luar. Tidakkah kau melihat betapa hebatnya Weraki walau hanya untuk mengetahui sesuatu dan tidak dapat menggunakan sihir jenis menyerang ataupun bertahan? Hanya mempelajari sihir-sihir baru yang kuinginkan.” Beatrice memberikan pembelaan terhadap dirinya. “Ya, itu. Mungkin hal itu yang dimaksudkan. Jangan sampai kehausan ingin tahu terhadap sihir baru yang kau miliki itu menjadi berlebihan dan ke luar batas. Maka dari itu arwah leluhur saat di jembatan tadi meminta yang lain untuk selalu menjagamu, Beatrice.” Zed berkata. Drue menghempaskan napasnya sambil mengangguk pelan setelah mendengar perkataan putranya. “Seperti yang kita semua tahu, apa pun itu yang berlebihan tidaklah baik.” Tidak lama setelahnya, Weraki kembali dengan tangan yang sudah kosong tak membawa apa pun. “Maaf membuat kalian menunggu. Ayo kita pergi menuju jembatan lalu pergi ke desa,” ajak Weraki. “Ah, itu dia! Salah satu pertanyaan yang langsung muncul di benakku saat tiba di tempat ini. Sebelumnya bukankah kau mengatakan jika kita akan melewati tembok pertahanan setelah itu melewati jembatan tua dan sampai ke desa. Namun, baru saja kita melewati jembatan tua. Apakah ada semacam jembatan lainnya setelah melewati tempat ini?’ tanya Zed yang mengungkapkan pertanyaan apa yang ada di dalam benaknya. “Ya, itu benar. Kau bilang kita akan melewatinya setelah gerbang, tetapi kita baru saja melewati jembatan tuanya.” Drue mengulang perkataan Zed. Vulken melihat Weraki malah menjadi sedikit tidak nyaman dengan pertanyaan itu. Vulken pun memberikan isyarat pada Weraki `tuk mengatur pernapasannya dengan perlahan. Weraki mencoba untuk mengatur napasnya perlahan, barulah setelahnya ia berbicara. “Aku tidak berbohong dan hal itu memang benar. Setelah ini kita akan melewati satu jembatan tua lagi yang masih menyambung dengan benteng ini. Jika kalian bingung, lihatlah struktur batu yang sedang kalian pijak. Ada pola jalanan di sana yang akan menuntun kita hingga sampai ke jembatan tua selanjutnya yang benar-benar menjadi jalan langsung menuju desa. “Bisakah aku berasumsi kalau tadinya di sini juga bagian dari jembatan tua? Hanya saja ada yang membangunnya menjadi benteng untung perlindungan seperti ini,” ucap Vulken. “Astaga, bagaimana kau tahu akan hal itu. Kau sangat cerdas, Vulken. Jika kau ingat arwah leluhur yang tubuhnya paling bercahaya, ialah yang menemukan sekaligus membangun desa. Hingga akhirnya warga desa mulai meminta pertolongan pada Andhiel dan Anthiel. Dari yang kudengar setelahnya terbentuklah jalan setapak yang tadi kita lalui. Tembok dan gerbang di bangun di tengah-tengah jembatan sebagai tempat perlindungan,” jelas Weraki kepada yang lain. “Bisakah kita langsung saja pergi ke desa? Rasanya aku butuh istirahat sejenak,” ujar Beatrice yang tampak sedikit lesu. “Ayo, ikuti jalanku saja!” Weraki satu kali lagi memimpin perjalanan. Mereka terus berjalan mengikuti pola susunan bebatuan yang mereka pijak. Sampai akhirnya susunan bebatuan tersebut mengantarkan mereka pada tembok tinggi yang datar. Seperti berjalan menuju jalan buntu. Tidak ada yang mengerti dengan apa yang sedang terjadi, Weraki lalu hanya menyentuh tembok tersebut dan terlihat mengalirkan energi sihirnya. Tidak perlu lama, tembok tersebut perlahan membukakan jalan yang cukup untuk beberapa orang masuk ke dalam sekaligus. “Wah, canggih sekali dapat membuka tembok hanya dengan aliran energi sihir,” gumam Drue seraya ia melihat jalan yang terbuka dari tembok tersebut. “Ayo, kita pergi ke desa!” Weraki memulai langkahnya lebih dulu dan yang lain langsung mengikutinya dari belakang. Ketika melewati tembok tersebut, pasti yang dirasakan adalah perasan takjub. Hal itu karena jembatan yang kali ini dipenuhi dengan pepohonan yang bahkan dedaunannya saja hampir menutupi seluruh langit-langitnya. Hanya pada beberapa titik saja yang kosong dan dapat ditembus cahaya matahari hingga ke permukaan jembatan. Jembatan yang kali ini berbeda dengan yang beberapa saat lalu baru dilewati. Yang kali ini di kanan dan kirinya terdapat dataran yang melandai bersamaan dengan gerbang tadi. Jadi, jika dikatakan jembatan yang kali ini lebih mirip dengan susunan bebatuan di atas tanah. Maka dari itu pula pepohonan di sekitarnya dapat menjulang tinggi ke atas dan menciptakan suasana yang tenang. Tidak ada yang berbicara selama berjalan, semuanya menikmati pemandangan pepohonan di sekitar mereka. juga rerumputan yang tampaknya baru saja akan tumbuh karena letaknya yang saling berjauhan. Bisa terbayangkan bagaimana indahnya tempat ini dalam beberapa waktu ke depan. Ketika jalan ke luar yaitu desa sudah mulai terlihat. Zed tiba-tiba bertanya, “Aku teringat satu pertanyaan lagi. Bagaimana bisa para arwah leluhur itu mengetahui kalau kami sedang berada dalam perjalanan serta akan melewati bukit Andhiel dan Anthiel?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN